Terinspirasi Gaya Fashion Global, Alia Dirikan ‘Islamic Fashion and Design Council’ di Dubai

(gomuslim). Busana muslim dan hijab sudah berkembang pesat secara global. Dengan memimpin pergerakan industri fashion, perempuan Muslim kosmopolitan berusia 20 sampai 30 tahun menjadi pasar konsumen baru bagi para pebisnis di bidang fashion ini. Alia Khan adalah salah satu dari para desainer muslim fashion tersebut. Alia  yang mengakui kebutuhan untuk platform untuk layanan dan dukungan sektor berkembang dan desainer mendirikan  Fashion & Design Council Islam (IFDC) di Dubai secara resmi pada tahun 2015 lalu dan semakin berkembang hingga hari ini. IFDC ini adalah satu dari organisasi tentang islamic fashion di dunia.

Berpakaian sederhana menurut iman seseorang tidak selalu berjalan beriringan dengan pandangan populer dari catwalk show, tetapi menurut penelitian IFDC, hal ini bisa menjadi sebuah industri yang bernilai sampai 500 miliar USD. Pendiri IFDC, yang baru-baru ini dinominasikan untuk Gulf Business Award, mengatakan tentang mode berbasis iman  dan ketaatan pada agama bisa dilihat di industri islamic fashion. Kata Alia, Islamic Fashion adalah busana yang memungkinkan para fashionista untuk dapat mematuhi nilai-nilai berbasis iman mereka. Biasanya yang terjadi adalah jenis konsumen telah berkomitmen untuk imannya dan dengan demikian memilih jalan kesopanan. Hal ini biasanya berarti hal yang lebih tertutup dan longgar tetapi tidak menarik.

“Dalam mode utama Anda bisa memakai apa saja. Dalam busana muslim Anda bisa memakai apa saja asalkan tetap dalam pedoman dari nilai yang ditetapkan Anda. Nilai yang ditetapkan cukup standar. Sebuah pasar sekunder yang kuat terdiri dari perempuan beragama lain yang menemukan pilihan terbatas terutama ketika berbelanja untuk pakaian untuk menghadiri tempat ibadah mereka. Hal ini tidak ditemukan bagi perempuan muslimah, yang memang selalu menngenakan pakaian tertutup,“ jelas Alia Khan, seperti dilansir dari TheNationalFashion.

Alia juga bercerita, awalnya ia tertarik dengan Islamic fashion, yaitu saat ia dibesarkan di Kanada dan California. Saat itu, Alia mengaku dia dikelilingi oleh gaya hidup yang stylish. Apalagi untuk gadis seusianya yang selalu ingin terlihat baik. Saat ia tumbuh dewasa, ia merasa ingin lebih tahu tentang Islam, apalagi saat itu ada tragedi 11 September di Amerika dan dia adalah salah satu imigran muslim yang menetap di Amerika Serikat.

“Saya ingin belajar tentang agama dan budaya agama saya. Pada tahun 2005 orang tua saya pensiun dan pindah ke Dubai. Mereka ingin berada di sebuah negara Muslim di mana mereka bisa mendapatkan lingkungan yang lebih baik dan hal ini yang menyebabkan saya pergi ke Yordania selama satu tahun untuk belajar tentang ilmu-ilmu Islam dan ilmu Alquran. Ketika saya belajar juga tentang fashion, saya menyukai gaya berpakaian. Saya mulai mengenakan jilbab dan menutupi aurat meski masih sederhana, “ pungkasnya.

Sampai akhirnya, Alia mendirikan IFDC di Dubai sebagai organisasi yang mendukung para desainer muslim dan mereka yang masih belajar melalui produk, layanan, dan program pelatihan untuk semua tingkatan. Organisasi  ini dirancang untuk membantu keberhasilan fashion dan desain Islam di pasar global dan memfasilitasi pelaku industri dalam mengakses potensi pertumbuhannya.

“Salah satu tantangan label utama islamic fashion adalah mereka tidak cukup memahami profil konsumen. Ada banyak koleksi Ramadhan yang keluar  sebulan penuh tapi terbuat dari kain tipis. Hal ini tidak akan dilirik oleh konsumen muslimah. Saat ini pasar terbaik memang online, seperti pada desainer Turki yang memang sudah mendapat tempat di hati konsumen muslim dunia untuk area Eropa dan Indonesia juga sedang berjaya saat ini, karena banyak klien dari Amerika yang tertarik dengan desainer Indonesia, “ tambah Alia.

Dalam waktu dekat IFDC juga akan dibuka di Inggris dan Rusia. Hal ini menjadi angin segar bagi perkembangan  islamic fashion dunia yang semakin  pesat dan juga menambah warna baru bagi industri fashion yang menjanjikan. (fau/dbs)

 


Back to Top