Masjid Nabawi Makin Ramai, Sindikat Pengemis Mulai Beraksi

(gomuslim). Jemaah haji dari berbagai negara mulai berdatangan, tidak sedikit yang mendarat di Madinah dan melakukan ibadah di Masjid Nabawi sebelum melaksanakan ibadah haji. Keramaian  jemaah ini menjadi perhatian segenap pihak, tidak hanya panitia penyelenggara haji namun sindikat pengemis pun membaca kondisi ini sebagai lahan basah untuk meraih uang. Saat seperti ini kehadiran mereka seperti tumbuhnya jamur di musim hujan, bahkan mereka beraksi berdasarkan waktu tertentu yang telah ditentukan.

Masjid Nabawi di Madinah kerap disebut sebagai salah satu masjid suci selain Masjidil Haram di Mekkah. Karena itulah masjid ini menjati tujuan jutaan jemaah haji maupun umrah, namun saat kondisi makin ramai komplotan pengemis dari berbagai negara mulai menyebar di pelataran Masjid Nabawi. Secara fisik, mereka terlihat normal dan mereka mengenakan pakaian yang kerap digunakan wanita Saudi saat melakukan aksinya, namun akademisi serta warga Saudi membantah bahwa mereka merupakan wanita setempat.

Menurut salah seorang pegawai penjaga gerbang Masjid Nabawi, para pengemis tersebut merupakan wanita dari berbagai bangsa mereka tiba ke pelataran masjid pada waktu tertentu, “Di sana (menunjuk pelataran masjid, red) para wanita dari berbagai bangsa kerap berdiri meminta-minta di pelataran Masjid Nabawi pada siang hari dan setelah shalat Maghrib, kemudian nanti datang mobil yang menjemput meraka, mobil ini juga yang nantinya mengantarkan pengemis lainnya pada malam hari,” ujar seorang pegawai tersebut.

klhlhlkj

Terkait dengan hal ini, seorang dosen jurusan Sastra dan Antropologi Fakultas Dirasah Islamiyah Ahmad bin Abdul Jabbar Asya’by turut berkomentar mengenai tindakan para pengemis tersebut, “mengemis di dalam Masjid Nabawi atau di halamannya tidak diperbolehkan secara syariat karena para pengemis tersebut mengganggu jemaah yang beribadah atau sedang shalat, kemudian mereka juga mencoreng citra wanita Saudi karena melakukan hal tersebut dengan menggunakan pakaian khas wanita Saudi sehingga para peziarah atau jemaah menganggap mereka itu sebagai warga Saudi,” tandas Ahmad.

Tidak hanya warga sipil yang menyayangkan aksi sindikat pengemis tersebut, Direktur Kementerian Pekerjaan dan Pengembangan Sosial untuk Cabang Madinah Ali bin Gharamillah Al Ghamidy menandaskan bahwa aktivitas para pengemis di Madinah dikendalikan oleh organisasi terselubung, hal ini telah dianggap oleh pemerintah sebagai tindakan kriminal atas pencemaraan pakaian yang digunakan oleh para pengemis tersebut, padahal 2 tahun lalu hal semacam ini telah dilarang keras.

Pada dasarnya warga Saudi khususnya para wanita merasa terganggu dengan adanya tindakan yang menurut mereka merupakan pencemaran sosial. Hal ini terlihat dari ungkapan Ghamidy yang menyatakan bahwa pemerintah telah melarang dan mengecam tindakan para pengemis yang terorganisasi dengan menggunakan pakaian ala wanita Saudi. Namun pada sisi lain, tindakan meminta-minta tidak dianggap sebagai aksi kriminal.

Meski demikian, pendapat Dr. Ahmad dan penjaga gerbang Masjid Nabawi dapat diterima, pasalnya para pengemis tersebut berpotensi mengganggu jemaah dan mencoreng citra Islam terlebih mereka melakukannya secara terorganisasi. (fh/almadinah)


Back to Top