PITI Ajak Masyarakat untuk Tumbuhkan Sikap Toleransi

 

(gomuslim). Komunitas Muslim Tionghoa di Indonesia yang diketuai oleh Anton Medan, organisasi ini dinamakan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), dengan adanya momen kemerdekaan RI ke-71, mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan dengan memperkuat toleransi agama dengan keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

Muslim Tionghoa merasa perlu untuk ikut nadil dalam menebar perdamaian dengan ajaran toleransi, sebab mereka merasa ikut bertanggungjawab dengan kondisi keberagamaan di Indonesia. Mereka saling mengingatkan, khususnya dengan sesama orang muslim.

Peringatan Hari Kemerdekaan ini diharap bukan hanya sekedar seremoni. Banyak hal yang bisa dimaknai, diantaranya memperkuat toleransi baik itu agama, suku, ras dan budaya ditengah keberagaman, kata Ketua PITI Provinsi Riau Jailani Tan usai upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI di Halaman Kantor Gubernur Riau, Rabu Kemarim (17/08/2016).

Kata pria keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia tersebut, perbedaan dan keberagaman sudah menjadi karakter bangsa. Dengan demikian, hidup berdampingan dengan mengedepankan rasa saling menghargai akan mengantisipasi perpecahan. Sehingga kedepannya dapat saling bahu membahu membangun negeri untuk lebih baik.

Siapa pun itu, yang memiliki kewarganegaraan Indonesia adalah anak bangsa dan tidak perlu dibedakan, kata Jailani. Karena perbedaan itu adalah fitrah dari Allah, maka tidak pantas mempermasalahkan perbedaan hanya untuk pertengkaran.

Ia menjelaskan PITI Riau yang berjumlah 250 anggota ini, kata dia, sangat toleran terhadap agama. Ia mengaku, menjadi muslim bukan dari lahir. Namun memeluk agama Islam setelah proses yang juga telah dilalui untuk seorang mualaf.

Menurutnya, dengan menjadi mualaf bukan berarti hubungan silahturahmi terputus dengan keturunan Tionghoa non-Muslim lainnya atau pun warga Indonesia. Justru perbedaan yang membuat persatuan itu ada.

Di lain kesempatan, telah di sampaikan oleh Ust. Shiddiq Al-Jawi dari DPP HTI mengatakan bahwa Imlek adalah Hari Raya Agama Kafir dan bukan sekedar tradisi. Oleh karena itu, haram bagi muslim untuk ikut merayakannya. Menanggapi komentar Ust. Shiddiq, menurut Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DPW Jakarta, Syarif Tanudjaja, Tahun Baru Cina atau Imlek bukanlah sebuah bentuk perayaan agama. Hari spesial untuk kaum Tionghoa itu merupakan perayaan yang murni bersifat budaya.

Memang tak dipungkiri, perayaan Imlek juga diwarnai dengan acara bersih-bersih patung dewa Konghucu. Namun, untuk para muslim Tionghoa, ritual seperti itu sudah sejak lama ditinggalkan.

Tradisi Imlek kental dengan agama Konghucu. Padahal, budaya Imlek ini sudah ada jauh sebelim Konghucu muncul, dan dirayakan untuk menyambut datangnya musim semi. Sebenarnya kalau mau tahu sejarahnya, itu sudah dirayakan jauh sebelum Konghucu lahir, sudah 4.000-an tahun yang lalu. Jadi Imlek bukan perayaan agama, tandas Syarif.

Dari ketidakpahaman inilah yang kadang seseorang menafsirkan sendiri dengan tidak tepat, maka dari itu PITI mengajak segenap masyarakat pribumi untuk saling memahami ajaran agamanya, termasuk kepada agama Islam. Untuk menumbuhkan sikap toleransi antar budaya, bahkan agama.

Sebelumnya, untuk informasi, organisasi ini sudah berdiri didirikan di Jakarta pada tanggal 14 April 1961. PITI tidak berafiliasi dengan organisasi sosial politik manapun untuk menghindari keberpihakan dan menghindari perpecahan di dalam umat Islam khususnya, dan masyarakat Tionghoa di Indonesia pada umumnya. (mrz/dbs)

 

 


Back to Top