Di Republik Trinidad dan Tobago, Keberadaan Umat Islam Makin Menentukan

(gomuslim). Trinidad dan Tobago adalah dua pulau kembar yang terletak di laut Karibia, seberang laut Utara Venezuela, di gugus kepulauan Antilles kecil, Amerika Selatan. Keberadaan umat Islam di Trinidad & Tobago memiliki sejarah panjang. Menurut catatan, kaum Muslim pertama yang menetap di negeri itu adalah para budak kulit hitam dari suku Mandingo asal Afrika Barat.

Mereka dibawa dari tanah leluhurnya ke Trinidad oleh para penjajah Eropa pada 1740 silam. Selanjutnya, sepanjang 1816 sampai 1825, budak Muslim Afrika yang didatangkan ke Trinidad semakin bertambah banyak jumlahnya.

Sejak tahun 1840-an, imigran Muslim dari Asia Selatan mulai berdatangan ke Trinidad untuk bekerja sebagai buruh di perkebunan tebu dan kakao milik Pemerintah Kolonial Inggris.

Karena jumlah mereka terus meningkat, akhirnya membentuk komunitas tersendiri di negeri itu. Umat Islam yang dijumpai di Trinidad hari ini umumnya adalah keturunan dari orang-orang Asia Selatan tersebut.

Selama beberapa dekade terakhir, umat Muslim di Trinidad telah membuat kemajuan di berbagai bidang, termasuk bidang keagamaan. Tidak sedikit dari mereka memiliki profesi sebagai dokter, pengacara, guru, insinyur, ahli kimia, pengusaha, pedagang, bahkan politikus.

Meskipun merupakan umat minoritas, umat Islam menikmati iklim toleransi yang baik dari warga non-Muslim yang mayoritas. Bahkan ,dalam beberapa hal, model toleransi yang dikembangkan Pemerintah Trinidad dan Tobago dalam kehidupan beragama layak menjadi contoh bagi negara-negara mayoritas non-Muslim lainnya.

Di negara tersebut, umat Islam tidak sekadar memperoleh kebebasan dalam menjalankan ibadah. Lebih dari itu, pemerintah dan rakyat negeri ini menjunjung tinggi toleransi kepada kaum Muslimin. Seperti misalnya Idul Fitri yang merupakan hari raya umat Islam ditetapkan sebagai hari libur nasional. Umat Islam di Trinidad dan Tobago juga dilibatkan secara aktif oleh pemerintah setempat ketika mengambil berbagai keputusan politik.

Misalnya pada pertengahan tahun lalu, Perdana Menteri Kamla Persad-Bissessar sengaja menggelar pertemuan dengan sejumlah komunitas Muslim di negeri itu. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk membahas jadwal penyelenggaraan Pemilu 2015 yang tepat supaya tidak berimpitan dengan pelaksanaan puasa Ramadhan 1436 H. Dengan begitu, kaum Muslimin diharapkan dapat melaksanakan ibadahnya secara maksimal selama bulan suci, dan pemilu tahun lalu berlangsung dengan baik.

Perkembangan Islam di negara tersebut hari ini tidak terlepas dari peranan masyarakat Muslim dari belahan dunia lainnya, antara lain, India, Pakistan, Indonesia, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan Arab Saudi yang telah membantu menghidupkan kembali kesadaran umat Islam di Karibia setidaknya dalam 130 tahun terakhir.

Beberapa siswa Muslim di Trinidad juga dikirim ke pusat-pusat studi Islam di UEA, Pakistan, dan Arab Saudi. Harapannya, mereka kelak dapat kembali ke Tanah Airnya sebagai dai yang terlatih. Dengan adanya pengiriman siswa Muslim ini juga untuk menjadi pengakuan atas eksistensi Muslim Trinidad dan Tobago. Sebagaimana negara Muslim lainnya yang telah mengirim siswanya beberapa ratus tahun sebelumnya. Hari ini kita menyaksikan muslim di dua pulau kembar itu makin diakui dan ikut menentukan. (mrz/dbs)

 


Back to Top