Pesan Ukhuwah dalam Cinta dari Ustad Salman di FMM Award 2016

(gomuslim). Adakah umat manusia di dunia ini yang tak pernah mencintai?? Serempak jawabannya adalah tidak ada. Hampir semua umat manusia yang berakal sehat, pasti pernah mencintai. Bentuk cinta itu tentulah berbeda-beda, dengan berbagai sebab dan alasan. Namun bagaimana dengan cinta yang tanpa sebab dan alasan, bukan cinta yang karena sesuatu. Adakah orang yang mencintai tanpa alasan? Mari kita tengok teladan kita Nabi Muhammad Saw,  yang mencintai umatnya tanpa syarat. Lebih dari itu, ia mencintai seluruh umat manusia dengan penghargaan yang tinggi.

 

 

Dalam sebuah hadits menceritakan, ada seorang Yahudi meninggal dan kerandanya diangkat berjalan di depan Nabi. Tiba-tiba Nabi lalu berdiri, sontak hal itu membuat sahabat bertanya, “wahai Nabi, mengapa engkau berdiri?”, “aku menghormati jenazah Yahudi yang meninggal”, jawab Nabi. Sahabat lalu bertanya lagi, “mengapa engkau menghormati jeanazah seorang Yahudi wahai Nabi?”, dengan santun Nabi menjawab, “bukankah dia juga seorang manusia??”. Dari jawaban Nabi Muhammad ini tentu mengisyaratkan bahwa dengan sesama manusia pun, kita wajib untuk saling menghormati dan menjalin persaudaraan.

Dikutip dari ceramah Ustad Salman al Farisi al Maliki yang kemarin Sabtu (20/08/2016) memberi tausyiah dalam acara penghargaan FMM atau Film Maker Muslim Award 2016 di Auditorium Arifin Panigoro, Universitas Al Azhar Indonesia. Acara yang dibuat untuk mengapresiasi sejumlah anak muda muslim yang berusaha membuat sebuah tontonan yang mendidik dan memberi teladan bagi remaja sekarang ini.

Ustad yang berasal dari NTB ini mengajak hadirin untuk menjalin ukhuwah yang tanpa syarat, yang berarti persaudaraan tanpa mengenal perbedaan ras, suku ataupun madzhab fiqh, bahkan perbedaan ulama yang dianut tak harus membuat orang untuk memutus tali persaudaraan itu. Hal ini beranjak dari tema yang diusung acara tersebut yang berjudul Cinta dalam Ukhuwah.

Selain itu Ustad Salman menganjurkan untuk mempelajari apa yang ada dalam Piagam Madinah. Di dalam Piagam tersebut berisi tentang aturan yang dibuat Nabi di Madinah yang harus di taati seluruh elemen penduduk yang ada di kota Madinah.  Pada jaman itu, penduduk Madinah sangat beragam agama dan suku, ada yang Yahudi, Nasrani, Majusi dan nonmuslim lainnya semua diatur dengan Piagam Madinah.

Dari sejarah ini, dapat diambil contoh bahwa Nabi dulu pernah mengajarkan Ukhuwah Insaniyah yakni persaudaraan sesama manusia. Bila di telisik, keadaan ini persis seperti yang ada di Indonesia, dengan berbagai suku, agama, bahasa dan budaya di persatukan dalam satu dasar negara yang disebut Pancasila. Pancasila ini adalah ringkasan dari isi Piagam Madinah dan juga penjelasan dari Syekh Said al Buti dalam kitabnya mengenai Ukhuwah Insaniyah, tambah Ustad Salman dengan melihat para hadirin yang khusyuk mendengarkan.

Jadi di Indonesia ini sudah jelas dan final, bahwa dasar negara Pancasila ini adalah seperti yang diajarkan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah dulu, jelas Ustad Salman sambil mengajak para hadirin, yang mayoritas muda-mudi, untuk rajin membaca Sirah Nabawi atau sejarah perjalanan hidup Nabi.

Jika memang ingin membangun Ukhuwah, hendaknya tidak melihat apa itu madzhabnya ataupun ulama yang ia ikuti. Karena Ukhuwah Insaniyah itu dibangun untuk menjalin hubungan antar sesama manusia melebihi hubungan Ukhuwah Islamiyah. Dengan tidak menebar kebencian ke sesama muslim ataupun ke sesama manusia. Kita keluar dari tempat ini sudah harus berubah dan menghilangkan sekat-sekat tersebut, kata Ustad Salman.

Di akhir tausyiahnya, Ustad Salman mengajak para hadirin untuk membaca ulang apa yang dikatakan dan mengoreksi, dari sini supaya menimbulkan minat baca untuk para hadirin di acara tersebut. Setelah itu Ustad Salman bersama-sama para hadirin bersholawat Badar sebelum turun panggung.

Tidak menyangka, dalam sebuah acara penghargaan Film Maker Muslim ada sesi khusus untuk mendengarkan tausyiah. Sebelumnya belum pernah ada acara penghargaan yang di selipi tausyiah. Semoga terus berlanjut ide-ide dan aksi-aksi kreatif sineas muslim Indonesia dan acara penghargaan Film Maker Muslim tahun depan bisa menjadi lebih baik lagi. Semoga. (mrz)  


Back to Top