Ciptakan Alat pendeteksi Formalin dan Boraks, Tiga Siswi Ini Harumkan Nama Madrasah

(gomuslim). Anak-anak madrasah tidak  saja pandai mengaji, tetapi sekarang sudah menguasai dunia teknologi dan ilmu pengetahuan lain. Prestasi mereka pun dapat diadu, ternyata dapat meraih prestasi di panggung-panggung nasional dan internasional.

Seperti yang dibuktikan oleh tiga siswi madrasah yang tergabung dalam Tim Briliant Research Club (BRC) MAN LAB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berhasil melakukan penelitian inovatif berupa penggunaan tisu yang dikombinasikan dengan senyawa kubis ungu untuk mendeteksi paparan bahan berbahaya dalam makanan.

Ketiganya adalah Ika Nur Azizah, Selvi Hidayah, dan Ayatul Marifah. Mereka meneliti alat pendeteksi dua bahan berbahaya, yaitu formalin dan boraks. Mereka bertiga mengaku merasa gelisah ketika melihat banyak makanan yang mengandung zat kimia berbahaya. Namun terkadang masyarakat tidak kuasa dan tidak tahu caranya bagaimana menguji makanan-makanan tersebut, tutur Ika Nur Azizah yang kini duduk di bangku kelas XII MA dan menjadi ketua tim penelitian, Senin (22/08/2016).

Dari kesadaran itu, mereka bertiga lalu berpikir keras untuk menemukan cara praktis mendeteksi bahan berbahaya pada makanan. Hasil olah pikir dan riset mereka ditulis menjadi sebuah karya tulis dan diikutkan pada event Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja (LKTIR) bidang Kimia yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (UII).

"Alhamdulillah, kami dapat meraih juara Juara I pada LKTIR tahun ini," terang Ika. Kegiatan LKTIR ini merupakan rangkaian dari acara Chemistry Education Fair (ChemEduFair) yang bertempat di Gedung Prof. Zanzawi Soejoeti FMIPA UII. Lomba ini diselenggarakan pada tanggal 20 Agustus 2016 dan diikuti oleh siswa-siswi SMA/SMK/MA se-Indonesia.

Ahmad Arief Maruf selaku pembimbing penelitian mengakui bahwa ketiga siswanya benar-benar gigih dan bekerja keras untuk penelitian ini. Ia pun merasa senang atas kegigihan mereka. Setelah berkali-kali penelitian mereka gagal, akhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil, ujar Arief yang juga menjabat kepala perpustakaan MAN Lab UIN.

Mereka mengaku tidak mau kalah dengan anak sekolah umum yang mempunyai fasilitas lengkap. Begitupun dengan prestasi yang diraih siswa Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membuat mereka terpacu untuk dapat membuktikan kiprah Madrasah di bidang ilmu pengetahuan. Anak Madrasah juga melek ilmu pengetahuan dan teknologi, tutur Arief.

Sebagai pemenang lomba LKTIR ini Tim MAN Lab UIN mendapat tropi, piagam penghargaan, serta sejumlah uang pembinanaan  dari Chemistry Education Fair (ChemEduFair) bertempat di Gedung Prof. Zanzawi Soejoeti FMIPA UII. (mrz/dbs)

 

 


Back to Top