Madrasah di Australia Ajarkan Toleransi dan Keragaman Budaya

(gomuslim). Pernahkah terbayang di benak kita sekolah Madrasah di Negara nonmuslim?? Pasti rata-rata membayangkan sulitnya perizinan atau akses untuk mendirikan Madrasah di negara tersebut. Namun hal ini berbeda dengan Australia, seiring dengan bertambahnya jumlah muslim di Australia, sekolah-sekolah Islam di Australia juga terus bermunculan. Bahkan faktanya sekolah-sekolah Islam di Australia sudah mulai didirikan sejak tahun 1970-an oleh orang-orang muslim.

Diambil dari data Dewan Pendidikan Islam di Sekolah Australia atau Australian Islamic Education in Schools menyebut saat ini ada lebih dari 30 sekolah Islam di seluruh Australia. Salah satu negara bagian yang cukup cepat tingkat perkembangan sekolah Islamnya di  Australia adalah kawasan New South Wales (NSW).

Data menyebutkan jumlah sekolah Islam di NSW telah meningkat tiga kali lipat dalam kurun waktu 15 tahun terakhir menjadi 22 buah. Dan begitu juga populasi siswa sekolah Islam juga naik hampir 200 persen menjadi lebih dari 10-ribu siswa.

Setelah mendengar ini, pasti muncul pertanyaan, seperti apa sekolah muslim di Australia? Salah seorang peserta program pertukaran pemuda Indonesia - Australia (AIYEP) asal Sumatera Barat, Rahma Eka Saputri, berkesempatan magang menjadi guru di salah satu sekolah Islam Emity Collage di daerah Kiama, sekitar 120 kilometer sebelah selatan kota Sydney, NSW.

Menurut Rahma Sekolah Islam di Australia sangat berbeda  dengan sekolah Islam di Indonesia. Mereka semuanya muslim, tapi guru-gurunya tidak semuanya muslim, anak-anak muridnya juga tidak semuanya berjilbab. Tapi di sana diajarkan nilai-nilai beragama seperti rukun, syara' nilai-nilai moral semuanya diajarkan. Mereka sangat menghargai orang-orang yang datang ke sana. Terutama guru-gurunya, mereka sangat senang kalau ada muslim lain yang mengunjungi tempat mereka, begitu juga saya, tambahnya.

Rahma menanggapi perbedaan sistem sekolah yang dilihat di sekolah-sekolah Islam di Australia sangat menginspirasinya. Ia mengaku kagum dengan sistem sekolah Islam di Australia yang bersifat terbuka bagi murid maupun pengajar nonmuslim.  Pembagian guru-gurunya tidak semuanya muslim, 70-persen muslim, 20-persen lagi, tidak. Cuma murid-muridnya saja yang seluruhnya muslim, ujar Rahma.

Mereka belajar ilmu agama dari guru-guru muslim, sementara guru-guru yang nonmuslim mengajarkan nilai-nilai budaya Australia kepada anak-anak. Seperti kedisiplinan, bagaimana harus mandiri dan keragaman. Disisi lain anak-anak juga menerima itu sebagai sebuah kebaikan, karena hal itu baik untuk mereka nantinya.

Sebab anak-anak harus menyadari kalau kita tidak hidup hanya dengan satu agama di dunia ini, tapi kita hidup berdampingan dengan mereka yang berlainan agama dan anak-anak harus menghargai sebagai sebuah keberagaman.

Toleransi ini juga tidak hanya ditunjukkan antara murid dan guru, terkadang sekolah Islam di Australia juga dipimpin oleh kepala sekolah yang tidak beragama Islam alias nonmuslim.

Sistem keterbukaan yang diterapkan sekolah Islam di Australia ini bertujuan untuk menjaga agar lembaga pendidikan mana pun di Australia, mampu menjadi wadah menumbuhkembangkan penghargaan atas keragaman budaya dan keyakinan di masyarakat.

Serta lingkungan sekolah yang bersifat pluralistik, terbukti sangat efektif menumbuhkan rasa toleransi di kalangan murid-murid di sekolah Islam yang ada di Australia. Sementara dampak dari pengajaran sikap toleran dan menghormati beragam kepercayaan di sekolah-sekolah di Australia dirasakan sendiri oleh Rahma.

Sebagai muslim, Rahma mengaku pada awalnya cukup khawatir ketika hendak berkunjung ke Australia. Maklum saja muslim masih menjadi kelompok minoritas di Australia hanya sekitar 2-persen saja dibandingkan total penduduk Australia.

Sikap toleran yang ditunjukan oleh warga Australia, yang dijumpai di Kiama Sydney, langsung mengubah stereotype Rahma mengenai Islam di Australia.

Mungkinkah sistem keterbukaan yang diajarkan pendidikan Madrasah di Australia, juga diterapkan Madrasah di Indonesia..??. (mrz/dbs)


Back to Top