Babak Belur di Timur Tengah, Umat Islam Berkembang Pesat di Eropa

(gomuslim). Meski babak belur di Timur Tengah akibat perang berkepanjangan, umat Islam di Eropa justru berkembang dengan pesat. Hal itu tidak lepas dari dakwah dengan teladan Rasulullah SAW, melalui praktik akhlak dalam pergaulan dan mensyiarkan Islam sebagai agama 'rahmat' semua ciptaan Allah di muka bumi. Oleh karena itu, di negara-negara Eropa dan Amerika, umat Islam terus mendapat simpati umum sehingga mualaf dengan sadar dan suka rela terus bertambah. Pintu hidayah ada di mana-mana, termasuk di Eropa.

Perkembangan tersebut juga terkait sebuah hadis, Rasulullah Saw telah mengabarkan bahwa kaum Muslimin akan menaklukkan dua kota di Eropa. Pertama adalah Konstantinopel, yang kini menjadi Istanbul di Turki dan kedua adalah Roma.

Konstantinopel telah ditaklukan oleh Sultan Muhammad Al Fatih beserta pasukannya pada 1453 lalu. Sedangkan Roma, kaum Muslimin belum berusaha sungguh-sungguh untuk merealisasikan janji Rasulullah Saw itu.

Terlepas dari hadits tersebut,  ternyata umat Islam di Italia menjadi umat terbesar kedua setelah Katolik. Jumlah populasi Muslim mencapai 1,7 juta dengan sekitar 700 masjid.

Dikabarkan bahwa anggota Komunitas Islam Italia mengadakan diskusi bersama tentang agama minoritas yang di selenggarakan di Niccolò Cusano University, terutama menyoroti kontribusi muslim untuk perekonomian Italia dan upaya memprotes tidak diakuinya status resmi pada agama Islam sebagai agama tebesar kedua di Italia. Konferensi tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka dari Komunitas Muslim Italia.

Italia memiliki populasi Muslim berjumlah 1,7 juta, termasuk 20.000 muallaf, menurut angka yang dikeluarkan oleh Istat, lembaga statistik nasional. Izzedin Elmir,  Imam Florence sekaligus ketua Muslim Unione delle Comunità e Organizzazioni Islamiche di Italia juga menyatakan bahwa terdapat lebih dari 700 masjid di Italia.

Berdasarkan data nasional, rekening milik umat Islam menyumbang 4-5% PDB Nasional Italia. Hal ini membuktikan bahwa Islam merupakan nilai tambah bagi Italia.

Sayangnya, meskipun di Italia terdapat kebebasan beragama dan diakui dalam konstitusi, namun karena tidak adanya undang-undang yang mengatur membuat Muslim Italia tidak diakui secara de facto oleh Negara. Tidak adanya kesepakatan ini membuat sulitnya mengatur hubungan antara lembaga-lembaga di Italia dengan agama selain Katolik, karena Katolik sudah ditetapkan di Concordat. Hal ini juga berlaku bagi agama minoritas lainnya seperti Buddha dan Yahudi.

Seorang ahli hukum Islam di Naples Orientale University, Agostino Cilardo mengutarakan keprihatinan yang sama. Karena masalah kurangnya representasi sebagai agama yang diakui, tidak hanya satu agama yang resmi. Ketika kesepakatan disusun, maka yang menjadi mitra kesepakatan adalah organisasi terpadu. Tapi dalam kasus ini, siapa yang bisa menyuarakn hak umat Islam?, tambahnya.

Kurangnya status resmi ini menjadikan organisasi Muslim tidak memenuhi syarat untuk pendanaan melalui hukum Italia yang memungkinkan wajib pajak untuk mengalokasikan sebagian dari pajak mereka ke kelompok agama pilihan mereka.

Upaya untuk mengenali Islam di Italia, bahkan secara tidak resmi, sering dialihkan oleh separatis Liga Utara. Perdana Menteri Italia kala itu, Enrico Letta telah merencanakan untuk mendirikan sebuah museum seni Islam di tepi Grand Canal di Venesia, sayangnya hal ini ditanggapi dengan kemarahan oleh separatis Liga Utara. Begitupun dengan rencana dewan regional untuk membangun lebih banyak masjid di Italia.

Kalau di bandingkan dengan negara Eropa lain, Italia terbilang sangat ketat terhadap aktifitas umat Islam. Hal ini bisa dilihat dari pembangunan masjid di Italia yang hanya 2 diakui secara resmi. Tentu sangat kontras dengan negara Eropa semisal Jerman dan Inggris, ada 140 masjid bermenara dan berkubah di Jerman. Sementara di Inggris, ada 200 bangunan yang memang diperuntukkan sebagai masjid.

Sebuah jajak pendapat Pew Research Center yang dirilis pada bulan Januari 2016 ditemukan bahwa Italia, terhadap 63 persen responden, pemimpin Eropa Barat dalam memandang Muslim "tidak menguntungkan". Yunani peringkat kedua, di 53 persen, sementara mayoritas Perancis, Inggris dan Jerman melihat Muslim menguntungkan. (mrz/dbs)


Back to Top