Di Tangan Seniman Grafiti Berhijab Ini, Dinding Kota Kabul Jadi Hidup

(gomuslim). Grafiti sudah lama terkenal di dunia kesenian. Grafiti (juga dieja graffity atau graffiti) adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur. Media grafiti biasa terlihat di dinding-dinding bangunan, jembatan, stasiun kereta api, dan lainnya. Tapi di Afghanistan, seni grafiti menjadi bermakna karena dilukis pada dinding bekas perang berlangsung. Seniman grafiti tersebut pun adalah perempuan berhijab pertama yang meneuki kesenian ini.

Muslimah tersebut adalah Shamsia Hassani. Shamsia adalah seorang seniman grafiti asal Afghanistan dan juga seorang dosen seni rupa dan profesor di Universitas Kabul. Dia melukis di atas tempat yang terkena dampak perang di Kabul untuk menunjukkan orang bahwa perang sudah dan harus segera berakhir lewat seni grafiti karyanya melalui bentuk berwarna cerah dan angka-angka.

Hassani lahir di Teheran tapi bermigrasi ke Afghanistan selama perang. Dia tertarik dengan seni lukisan sejak usia muda. Sayangnya siswa di Afghanistan tidak diizinkan untuk belajar seni saat itu. Dia kembali ke Kabul dan mendapat  gelar dalam seni rupa di Universitas Kabul. Akhirnya dia bergabung dengan universitas sebagai dosen dan sekarang mengajar tentang mata kuliah lukisan minyak. Dia bahkan memiliki kelompok seni kontemporer sendiri yang disebut "Roshd" (pertumbuhan).

Pada bulan Desember tahun 2010, ia belajar grafiti dan menjadi wanita pertama Afghanistan yang menekuni  seni jalanan di rumahnya di Kabul. Motto hidupnya adalah "Seni adalah lebih kuat dari perang". Karena itu, Hassani mengusulkan untuk mengadakan lokakarya grafiti tahunan di seluruh negeri untuk mencoba membuat bentuk seni agar menumbuhkan sikap postif warga Afghanistan.

Shamsia sering melukis wanita dalam pakaian tradisional atau perempuan dalam bentuk simbolik dan ikan karena mereka adalah simbol dari suasana di sekelilingnya dan pengalaman hidupnya sendiri. Dalam seni grafiti, Hassani ingin membasuh kenangan lama tentang perang yang terjadi di negaranya. Dia ingin memperkenalkan bentuk seni ini kepada semua orang. Tetapi karena tidak semua orang mampu untuk pergi ke sebuah pameran seni dia membawa pameran kepada orang-orang melalui dinding-dinding di jalanan Kota Kabul.

 

Saat melukis di atas dinding Hassani sebenarnya memperjuangkan hak-hak perempuan. "Saya ingin menyoroti masalah di masyarakat, dengan lukisan yang mencerminkan perempuan mengenakan burqa di mana-mana. Saya mencoba untuk menunjukkan kepada mereka peran perempuan itu lebih besar dari apa yang ada dalam realitas, dan dalam bentuk modern berupa bentuk kebahagiaan, gerakan dan mereka itu lebih kuat. Saya mencoba untuk membuat orang melihat mereka (perempuan) berbeda, “ jelas Hassani, seperti dilansir dari publikasi MvslimDailyLife.

Usahanya memperkenalkan seni grafiti untuk seruan sikap postif masyarakat pun berbuah manis. Pasalnya, Hassani menjadi salah satu dari 10 seniman yang meraih Afghanistan Contemporary Arts Prize pada tahun 2009. Sejak saat itu, dia menjadi bagian dari beberapa pameran solo dan kelompok di seluruh dunia. Tidak hanya itu, Hassani juga adalah salah satu pendiri dari Berang Arts Organization. (fau/dbs)

 


Back to Top