Toleransi dalam Bisnis, Pengusaha Non-Muslim Terlibat Garap Wisata Halal di Makassar

(gomuslim). Sejumlah tokoh agama non-muslim di Sulawesi Selatan ternyata ikut menjadi pelopor pariwisata syariah yang tengah dikembangkan Badan Promosi Pariwisata Makassar (BP2M) melalui program wisata halal (Halal Tourism).

Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Makassar, Andi Ilhamsyah Mattalata memberikan apresiasi positif bagi praktisi pariwisata nonmuslim yang terlibat dalam mempelopori perkembangan wisata halal di timur Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan.

Ia sangat bangga dengan sejumlah tokoh Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia di kota Sulawesi Selatan. Meski mereka Nasrani, dukungan mereka sangat luar biasa dalam mendukung konsep pariwisata syariah di Sulawesi Selatan ini.

Sebelumnya, pengurus PHRI juga  pernah melakukan roadshow buka puasa bersama sekaligus memberikan pemahaman ke pelaku industri perhotelan tentang pariwisata syariah di sejumlah hotel berbintang di Makassar.

Tentu ini sangat menarik, sebab penggagas kegiatan ini langsung di koordinasi Ketua PHRI Makassar. Keduanya pun penganut Nasrani. Mereka berdua yang menjadi perintis program wisata halal di sini, ujar Andi.

 

 

Akademisi Politeknik Pariwisata (Polipar) Makassar, Farid Said juga menyebutkan, data Global Muslim Traveler, wisatawan muslim Indonesia masuk dalam 10 besar negara yang paling banyak berwisata. Tapi sayangnya, minat yang tinggi dari wisatawan muslim ini tidak diimbangi dengan kemajuan Indonesia dalam mempercantik diri untuk menjadi salah satu destinasi wisata halal dunia.

Farid Said menjelaskan Sulawesi Selatan sendiri utamanya di Makassar, sudah memiliki potensi halal tourism. Namun sejauh ini mayoritas masih berupa ziarah ke makam dan wisata religi yang biasanya terletak di kawasan yang belum dijadikan sebagai tujuan wisata.

Di kawasan lokasi wisata religi itu juga jarang dijumpai fasilitas penunjang wisata seperti hotel syariah, restoran syariah, dan tempat rekreasi lainnya, harusnya ini bisa menjadi peluang bagus, jelas Farid Said.

Berbeda dengan beberapa negara maju lainnya lanjut Farid Said seperti Queensland, Hongkong, dan Jepang, mereka telah mengembangkan pariwisata syariah dengan serius dalam bisnis jasa, perhotelan, dan restoran. Pengembang mereka juga tidak semuanya muslim. Jadi bisnis syariah ini sebenarnya bisa menjadi alat untuk memakmurkan masyarakat yang muslim dan nonmuslim di lokasi wisata.

Untuk menjadi wisata halal dan tempat wisata religi, Sulawesi Selatan dan Makassar tentunya bisa mencontoh seperti Bali. Mereka memanfaatkan tempat wisata religi sekaligus ditunjang dengan fasilitas hotel syariah, restoran halal dan tempat ibadah yang memadahi. (mrz/dbs)

 


Back to Top