Komunitas Pengusaha Muslim Buka Cabang di Serambi Mekkah

(gomuslim). Baru-baru ini, Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) meluncurkan program baru berupa pembukaan cabang koordinator wilayah di Aceh. Provinsi yang mempunyai julukan Serambi Mekkah ini akan menjadi tambahan wilayah koordinasi KPMI setelah Jakarta, Depok, Pekanbaru, Jambi, bahkan Mesir, dan kota-kota lainnya di Indonesia dan dunia.

Ketua Umum Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Nursyamsu Mahyuddin pada Rabu (24/8/2016) malam mengukuhkan pengurus KPMI Korwil Aceh.Pengukuhan tersebut berlangsung di Khaca Rayeuk Cafee sekaligus menyerahkan mandat KPMI pusat untuk Ketua KPMI Korwil Aceh, Akmal Hanif, Lc yang baru terpilih pada ( 31/07/2016).

Adapun, gagasan pembentukan KPMI Wilayah Aceh diinisiasi oleh sekitar 20 orang yang bergerak pada berbagai kegiatan usaha di Aceh. Dalam arahannya, Ketua Umum KPMI  mengatakan di Indonesia baru terbentuk 29 korwil. Katanya, pengusaha masih dipandang agak negatif di Indonesia padahal pengusaha pekerjaan yg paling mulia.

"Jika ada dua orang, yang satu ustaz yang satu lagi pengusaha pasti orang lebih memuliakan ustaz padahal mereka sama-sama mulia. Apalagi ustaz yang jadi pengusaha lebih mulia," jelas Nursyamsu, seperti dilansir dari publikasi resmi KPMI.

Menurutnya, kokohnya ekonomi negara kuncinya ada pada pengusaha. Sekurang-kurangnyan pengusaha mesti ada 2% dari jumlah penduduk negara, baru negara tersebut stabil. Sebanyak 2% di Indonesia itu jumlahnya adalah sebanyak penduduk di Singapura. Indonesia masih 1, 5% pengusaha. Selain itu, dalam kesempatan pengukuhan, hadir juga Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab atau akrab dipanggil Tusop, T Hanansyah praktisi perbankan syariah yang juga sebagai dewan pembina KPMI Aceh.

KPMI sendiri adalah sebuah komunitas pengusaha muslim yang berawal dari Milis Pengusaha-Muslim http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim yang akhirnya membentuk Yayasan Bina Pengusaha Muslim dan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI). Hal tersebut menjadi alasan dari keprihatinan bahwa mayoritas pengusaha muslim tidak sesukses pengusaha non-muslim, dan perekonomian ummat islam tertinggal dari non-muslim, sehingga perlu dipikirkan upaya peningkatan kualitas para pengusaha muslim. Banyak organisasi atau perhimpunan pengusaha yang ada hanya sebatas memberikan pendidikan kewirausahaan dan keterampilan, namun murni berorientasi dunia semata. Perkumpulan atau organisasi lain hanya sekedar mengusung nama syariah, tanpa perduli apakah benar-benar syariah dan tanpa perduli kualitas keislaman dari anggotanya, yang penting pengusaha yang menjalankan ekonomi syariah. Sehingga dengan komunitas ini dirasa perlu diciptakan suatu upaya membina pengusaha muslim sehingga terbentuklah pengusaha-pengusaha yang benar agamanya, benar ikhtiarnya, dan benar muamalahnya. (fau/kpmi/dbs)

 


Back to Top