Target Nasional Rp5 Triliun, Baznaz Terus Tingkatkan Kepercayaan Umat Wajib Zakat

(gomuslim). Kepercayaan masyarakat luas sangat dibutuhkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dalam mengelola zakat. Baznaz terus melakukan pembenahan internal. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kesalahan dalam pengelolaan potensi umat di bidang zakat.

Bambang Sudibyo selaku Ketua Baznas mengatakan, Baznas terus melakukan pembenahan dan targetnya pada 2019 Baznas sudah siap disupervisi regulator keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saat penghimpunan zakat makin meningkat, Baznas pasti akan diawasi OJK. Pihaknya sudah memberi sinyal kepada OJK, ungkap Bambang di Jakarta pada Rabu (24/08/2016).

Wacana diawasi OJK ini, lanjut Bambang, agar Baznas menjadi lembaga yang kredibel sehingga muzakki tidak ragu membayar zakat. Karena kalau penghimpunan zakat semakin besar, cepat atau lambat Baznas akan diawasi OJK. Ia mencontohkan BMT yang akhirnya diawasi OJK.

Per Agustus 2016, penghimpunan zakat di Baznas sudah melebihi Rp 100 miliar. Target penghimpunan zakat pada 2016 ini sendiri sekitar Rp 150 miliar dan target secara nasional Rp5 triliun dari semua jaringan Baznas dan Laznas.

Sebelumnya pernah disampaikan oleh Direktur Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) Kushardanta, saat pelantikan pengurus dengan memberikan saran serta harapannya kepada kepengurusan Badan Amil Zakat Nasional periode 2015-2020.

Ia menekankan agar kepengurusan yang baru, bisa meningkatkan lagi kualitas transparansi dalam kepengurusan ataupun informasi kejelasan bagi para muzakki, atau orang yang memberikan zakatnya. Para muzakki atau orang yang memberikan zakatnya, tentu akan merasa puas apabila ada transparansi informasi mengenai kemana uang yang ia berikan akan berlabuh atau disalurkan, ujarnya.

Menurutnya, informasi yang diberikan tersebut selain menjadi salah satu wujud nyata transparansi juga akan menambah kepercayaan dari para muzakki kepada lembaga zakat yang ia percayai.

Hal ini seperti layaknya sistem yang dianut oleh perbankan, para muzakki sebenarnya menginginkan kejelasan mengenai keberadaan uang yang telah ia berikan kepada lembaga zakat yang ia pilih. Bahkan, dahulu perbankan harus mengumumkan laporannya ke media cetak setiap empat bulan sekali, apalagi untuk urusan ibadah zakat, lanjutnya, khususnya di Indonesia.

Kushardanta menjelaskan, jika Baznas tidak bisa atau repot untuk memberikan laporan dalam bentuk kertas, tentu bisa dilaporkan ke dalam website resmi, yang bisa diakses semua orang, khususnya para muzakki.

Maka dari itu, ia menekankan kalau teknologi sebenarnya bukanlah suatu alasan, untuk tidak memberikan laporan tentang uang yang sudah diberikan kepada Baznas. Terkait orang-orang yang dipilih untuk menjadi penerima zakat atau mustahik, Kushardanta mengatakan kalau BAZNAS harus bisa memilah dengan cermat, agar dapat menyalurkan zakatnya secara tepat.

Karena ketepatan dalam memilih penerima zakat tersebut harus ditingkatkan juga, agar lembaga zakat tidak hanya bisa mengumpulkan, tapi juga menyalurkan dengan baik, tuturnya. (mrz/dbs)

 


Back to Top