Kasus Insiden Crane

Binladin Group Bantah Tuduhan Aramco atas Pengabaian Keselamatan Kerja dalam Musibah Crane Masjidil Haram

(gomuslim). Hampir satu tahun sidang kasus insiden crane di Masjidil Haram belum selesai juga. Pernyataan dari saksi-saksi telah dikemukaan. Tahap investigasi sampai saat ini terus dikembangkan berdasarkan keterangan saksi dari berbagai pihak yang menyampaikan pernyataan terkait kasus ini.

Baru-baru ini Saudi Binladin Group (SBG) menolak tuduhan yang disampaikan oleh perusahaan Aramco karena dianggap tuduhan itu tidak berdasar dan terburu-buru. Aramco adalah perusahaan minyak terbesar Saudi yang berkantor di Dhahran.

Tudingan yang dilontarkan oleh Aramco Group dan Komite Teknik Saudi dibantah oleh SBG, pasalnya Aramco menyampaikan bahwa peletakkan crane dilakukan pada posisi yang salah yakni berada pada sudut 85 derajat. Kemudian maksimal kecepatan angin yang ditoleransi saat menggunakan pesawat angkat (crane) adalah 32 km/jam. Tudingan ini akhirnya menuai reaksi dari SBG yang menyatakan bahwa dalam data logger yang tercantum pada crane (kotak hitam) tidak tertulis posisi parkir crane pada sudut 85 derajat dalam kondisi tidak dioperasikan.

Selanjutnya SBG juga keberatan atas tuduhan dari Aramco dan Komite Teknik Saudi yang menyampaikan bahwa batas kecepatan angin yang ditoleransi 32 km/jam saat crane tidak beroperasi. Menurut SBG berdasarkan buku panduan produsen crane, tuas penurunan crane dapat dilakukan ketika kecepatan angin 19,4 meter per detik atau sekitar 70 km/jam.  

Menurut pelaksana proyek dalam hal ini SBG, produsen crane telah membuat aturan terkait batasan-batasan kecepatan angin dan saat itu dibolehkannya tuas diturunkan. Adapun posisi crane saat insiden terjadi, menurut SBG dari tahun ke tahun posisi seperti itu tidak bermasalah dan telah sesuai dengan petunjuk dari produsen crane.

 

hgjhgjhg

 

Selain itu SBG juga menyampaikan bahwa pada kecepatan angin 140 km/jam, crane dinyatakan aman dalam posisi tidak beroperasi meski kecepatan angin di atas 100 km/jam. Hal ini berbeda dengan pernyataan Aramco terkait kecepatan angin 80 km/jam dapat merobohkan crane tersebut. Adapun mengenai kecepatan angin, diketahui informasi dari badan meteorologi di Mekkah yang menyatakan bahwa dalam delapan tahun terakhir, kecepatan angin di wilayah Mekkah tergolong rendah karena banyaknya bagunan tinggi yang berdiri dan juga banyaknya pegunungan.

Terkait laporan yang disampaikan oleh Aramco, SBG mengajukan nota keberatan karena ketika terjadinya insiden crane, kecepatan angin sekitar 19,4 meter/detik atau 70 km/jam. Sehingga laporan dari Komite Teknik dan Aramco menyatakan bahwa saat itu kecepatan angin 85 km/jam dan hal itu berdampak pada insiden robohnya crane. Sedangkan kotak hitam yang ada pada crane tersebut menunjukkan data akurat yang dapat dianalisa. Adapun operator crane ketika itu dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi, namun hal itu dibantah oleh SBG karena operator yang mengoperasikan crane telah memiliki kualifikasi yang memadai untuk mengoperasikan crane, hal ini terlihat dari informasi dari kotak hitam yang ada pada crane tersebut.

Laporan dari Aramco dan Arab Council of Engineers ditanggapi oleh SBG sebagai laporan yang tendensius dan terburu-buru tanpa investigasi yang mendalam. Sehingga dengan cepat menuduh perusahaan pelaksana proyek abai dalam aturan yang semestinya diperhatikan dalam pelaksanaan proyek.

Meski SBG menampik bahwa peletakkan crane di area Masjidil Haram pada kecepatan angin 140 km/jam dapat dinyakatan aman. Namun  pada umumnya buku panduan yang diterima dari tempat pelatihan pengoperasian crane tercantum tentang batas maksimum kecepatan angin yang diperbolehkan untuk jenis tower crane sekitar 30 knot. Namun harus disesuaikan juga dengan berat bebannya, semakin berat bebannya juga semakin rendah batasan kecepatan maksimum kecepatan angin yang diperbolehkan.

Berdasarkan Australian standard disebutkan batas maksimal kecepatan angin yang diperbolehkan adalah 30 knot tapi manufacturer ada juga yang menyatakan bahwa kecepatan juga dapat lebih sampai 20 m/s (35 knot). Sedangkan standar yang ditetapkan di Amerika sama dengan di Australia yakni kecepatan angin maksimal 30 knot begitu juga standar kesalamatan kerja yang berlaku di beberapa perusahaan minyak Amerika.

Jika merujuk pada standar batas kecepatan angin yang ditetapkan di Australia dan Amerika khusus untuk pengoperasian crane maka kecepatan angin seperti yang diutarakan oleh pihak SBG hampir mendekati kecepatan angin yang mencapai 35 knot. Dengan demikian, pihak pengadilan diminta untuk lebih jeli untuk memutuskan siapa yang harus bertanggung jawab secara hukum atas insiden crane tahun lalu. (fh/okaz)


Back to Top