Kritik Peran PBB, Al-Azhar Kairo dan Vatikan Roma Bahas Peningkatan Upaya Perdamaian Umat Manusia

(gomuslim). Upaya terus dilakukan berbagai kalangan untuk mencapai perdamaian umat manusia di muka bumi yang terstruktur, sistematis dan massif. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Al-Azhar Kairo dan Vatikan Roma mengadakan pertemuan langsung guna membahas problematika terkini yang dihadapi oleh masyarakat dunia, demi terciptanya perdamainan yang sesungguhnya.

Pertemuan fenomenal beberapa waktu lalu itu menjadi inspirasi ulama dunia yang sedang mengikuti ‘Muktamar Internasional Ahlussunnah Wal Jamaah’ di Chechnya, yang berlangsung sejak Rabu (24/08/2016).

“Setiap kita mengemban amanah menciptakan perdamaian di muka bumi sesuai pesan Islam yang damai dan mendamaikan, karena Islam sebagai rahmat bagi semua mahluk Allah. Berbagai tindak kekerasan yang dilakukan manusia, apa pun agamanya tidak dapat diterima dan oleh karena itu harus ditolak, tidak boleh diberi tempat, tidak bisa dimaklumi. Dunia tidak boleh diam, kekerasan dan ekstrimisme atas nama agama apapun harus dicegah dan wajib dikedepankan pesan damai itu,”ujar Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayeb di hadapan para ulama dunia di Checnya, Sabtu (27/08/2016).

 

 

Pertemuan Vatikan adalah untuk memperkuat budaya dialog, toleransi, hidup berdampingan antar bangsa dan negara yang berbeda, serta melindungi manusia dari segala aksi kekerasan, dan ekstremisme yang merajalela.

Dalam pertemuan tersebut, sebagaimana yang dilansir oleh situs resmi Al-Azhar azhar.eg, Paus Fransiskus menyatakan bahwa pihaknya memiliki misi yang sama dengan Al-Azhar yaitu misi perdamaian, toleransi dan dialog yang efektif. Dan dunia internasional saat ini menaruh harapan penuh kepada para tokoh agama. Lembaga kegamaan seperti Al-Azhar dan Vatikan memiliki tugas besar dalam memberikan kebahagiaan kepada manusia, memerangi kemiskinan, kebodohan dan penyakit.

Paus Fransiskus menambahkan bahwa pihaknya senantiasa mengikuti informasi tentang peran Al-Azhar dalam menyebarkan perdamaian, kehidupan berdampingan dan memerangi pemikiran yang menyimpang. Ia menegaskan bahwa peran Al-Azhar dalam sejarah dunia saat ini begitu sangat penting.

Sementara itu, Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Tayeb mengatakan, bahwa perlu untuk menyamakan sikap demi memberikan kebahagiaan kepada manusia karena agama-agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) diturunkan tidak lain adalah untuk membahagiakan manusia, bukan membuat mereka hidup dalam kesengsaraan. Juga ditegaskan bahwa Al-Azhar dengan seluruh lembaga di bawah naungannya senantiasa menyebarkan moderasi Islam, dan melalui para ulamanya yang tersebar di seluruh dunia, tak pernah lelah untuk menebarkan perdamaian, dialog dan membendung pemikiran dan sikap ekstrim yang membahayakan perdamaian.

Kedua lembaga keagamaan tersebut pun sepakat untuk mengadakan konferensi internasional untuk perdamaian dunia dalam waktu yang ditentukan untuk melengkapi sejumlah usaha dialog yang selama ini sudah dilakukan di berbagai forum dunia. Dengan inisiatif Al-Azhar dan Vatikan, dua lembaga keagamaan yang disegani dunia, diharapkan menjadi inspirasi perdamaian dunia.

Dalam pertemuan tersebut rombongan Al-Azhar terdiri dari Grand Syaikh Al-Azhar. Prof. Dr. Ahmad Tayeb, Wakil Grand Syaikh Prof. Dr. Abbas Shoman, Kepala Bidang Humas Al-Azhar Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, dan Sekjen Dewan Riset Ilmiah Al-Azhar Prof. Dr. Muhyiddin Afifi. Rombongan ini disambut oleh Paus Fransiskus, Kardinal Jean Louis Tauran Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog dan sejumlah staf keuskupan.

Sejak beberapa tahun terakhir, Grand Syaikh yang beberapa kali ke Indonesia ini secara intens melakukan kunjungan ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, Asia Tenggara, Afrika dan ke Eropa. Dalam semua kunjungan tersebut ada satu misi yang ingin disampaikan oleh Al-Azhar, yaitu perdamaian dunia.

Al-Azhar dengan universitasnya yang dikenal sebagai garda depan kecendiaan umat Islam itu menilai, memburuknya kondisi masyarakat dunia saat ini dengan banyaknya aksi terorisme dan pembantaian massal, baik yang dilakukan kalangan muslim maupun non-muslim dan sudah menjadi konsumsi berita harian, harus disikapi dengan penolakan umum oleh masyarakat dunia melalui berbagai forum agar ada kesadaran bagi pelaku. Dengan penolakan umum, negara juga diharapkan turut ambil tindakan nyata mencegak aksi terror itu.

Al-Azhar tergerak untuk menjalankan perannya sebagai centra cendikia dunia Islam dengan menyampaikan ‘warning’ terhadap perkembangan ekstremisme di dalam tubuh umat Islam, juga Al-Azhar mengecam berbagai aksi genosida yang terjadi di Palestina, Myanmar dan Afrika Selatan oleh kalangan ekstremis non-muslim.

Bahkan akhir-akhir ini secara tegas Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad Thayeb mempertanyakan peran PBB dalam menjaga perdamaian dunia di tengah konflik berkepanjangan saat ini. Banyak terjadi aksi kekerasan dan PBB tidak segera turun tangan, padahal sebagai lembaga dunia, PBB dapat menurunkan pasukan penjaga perdamaian untuk mencegah genosida yang secara faktual sudah terpublikasi di berbagai media tersebut.(mm/bs)


Back to Top