Go International, Muslim Fashion Indonesia Akan Gelar Pameran di ‘Islamic Society of North America 2016’

(gomuslim). Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong pertumbuhan industri fesyen dengan memberikan travel grant pada pelaku ekonomi kreatif untuk berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan internasional di antaranya Islamic Society of North America (ISNA) Annual Convention 2016 di Chicago, Amerika Serikat pada September 2016, Fashion Kode di Seoul, Korea Selatan pada Oktober 2016 dan Arab Fashion Week di Dubai, Uni Emirates Arab pada Oktober sampai November 2016.

Pada gelaran ISNA di Chicago, Bekraf menyediakan fasilitas travel grant bagi lima label muslim fashion, yaitu L.Tru, ETU by Restu Anggraini, Kami Idea, Kaimma Malabis dan Ria Miranda. Sedangkan pada Fashion Kode di Seoul, akan diseleksi empat fashion designer untuk mendapatkan fasilitas yang sama.

 “Kami sediakan fasilitas berupa travel grant untuk pelaku ekonomi kreatif, dalam hal ini perancang busana kita. Mereka dipilih berdasarkan hasil kurasi dengan kriteria tertentu, misalnya kesesuaian antara desain dengan event yang diikuti, juga kesiapan mereka untuk go internasional,” jelas Deputi VI Bidang Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak.

Pelaku industri fashion, tambah Joshua,  perlu mengikuti perkembangan dan selera pasar agar diterima di pasar global. Misalnya pada Arab Fashion Week, desainer Indonesia akan menampilkan koleksi yang disesuaikan dengan karakter Dubai sebagai kota yang cukup “moderat” meskipun berada di wilayah timur tengah. “Tidak semua orang di Dubai memakai busana ‘abaya’, jadi kita tampilkan koleksi bergaya evening wear,” katanya.

Sedangkan pada gelaran ISNA di Chicago, fashion desainer Indonesia akan memperkenalkan koleksi terbaru yang bernuansa songket Minang, misalnya oleh Ria Miranda. “Perkembangan sangat pesat terutama di muslim fashion market apalagi kita ada target untuk jadi center of fashion. Fashion week juga sudah banyak brand muslim yang bisa join,” jelas Ria.

Terpilihnya lima desainer ini untuk mengembangkan pasar di Amerika tidaklah terjadi begitu saja. Melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), kelimanya dipilih melalui seleksi ketat demi menyesuaikan dengan selera pasar di Negeri Paman Sam. Ria Miranda, mengatakan dirinya akan membawa beberapa koleksi dengan sentuhan Indonesia untuk dipamerkan. Salah satunya adalah songket Minang yang sudah dimodernisasikan dengan teknik printing dengan pemilihan warna-warna pastel, sesuai dengan identitas rancangannya. Sedangkan Restu Anggraini melalui labelnya ETU siap menghadirkan busana muslim untuk wanita bekerja dengan warna-warna netral seperti hitam, putih, navy, hingga krem. Restu mengaku memiliki target untuk menembus pasar Amerika melalui koleksinya.

Joshua menambahkan, bahwa pasar fashion Indonesia tergolong unik dan menarik pasalnya segmentasi konsumen Indonesia relatif price sensitive dan western-brand minded. Bekraf menggarap sektor fashion ini dengan strategi branding dan promosi local fashion brand justru di luar negeri terlebih dahulu sebagai upaya meningkatkan brand equity produk Indonesia di pasar global. Kata Joshuha, menariknya di ajang ini adalah ketika Indonesia bisa beriklan di luar negeri, justru ada respon positif dari market share produk Indonesia di pasar domestikyang  ikut meningkat,” ungkap Joshua.

Menurut publikasi resmi Berkraf, dalam setahun terakhir, ekonomi kreatif telah menyumbang Rp. 642 triliun atau 7,05 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia dengan kontribusi terbesar berasal dari tiga subsektor, yaitu kuliner sebanyak 32,4 persen, fashion 27,9 persen dan kerajinan 14,88 persen. Dengan nilai pasar mencapai 180 triliun rupiah per tahun, industri fesyen merupakan salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sektor ekonomi kreatif.

Adapun, Islamic Society of North America adalah organisasi induk muslim di Amerika. Organisasi ini bertujuan untuk mendukung masyarakat muslim di Amerika mengembangkan program-program pendidikan, sosial, dan membina hubungan baik dengan berbagai pihak. Tahun 2015 yang lalu, nilai transaksi penjualan bazaar ini mencapai USD150,000. Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang baik dari pengunjung, buyers, pengamat fashion, dan perwakilan majalah mode.Dukungan Bekraf berupa travel grant, pembiayaan kargo, desain konstruksi booth dan souvenir untuk buyers dan pengunjung.

Sedangkan, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) adalah lembaga pemerintah nonkementrian yang bertanggung jawab di bidang ekonomi kreatif. Saat ini, Kepala bekraf dijabat oleh Triawan Munaf. Bekraf mempunyai tugas membantu Presiden RI dalam merumuskan, menetapkan, mengkoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio. (fau/bekraf/dbs) 


Back to Top