Islam Mulai Jadi Perekat Hubungan Rusia dan Indonesia

(gomuslim). Bermula dari persahabatan Bung Karno dan Kruschev, membawa pengaruh persahabatan Indonesia dan Rusia sampai sekarang. Hubungan yang awalnya berkaitan politik, berlanjut menjadi hubungan yang terjalin antar agama. Seperti saat Dewan Mufti Rusia menerima kunjungan perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) belum lama ini.

Dari kehadiran ini, diharapkan hubungan baik Muslim Rusia dengan Indonesia diharapkan bisa makin kuat melalui kerja sama dengan ormas-ormas Islam.

Menerima kunjungan perwakilan BPK RI di kantornya, Ketua Dewan Mufti Rusia (RMC), Mufti Syekh Ravil Gaynutdin, menjelaskan tentang interaksi agama dan kekuasaan di Rusia. Ia juga menekankan pentingnya peran Dewan Lintas Agama Rusia dan Dewan Kepresidenan untuk Kerja Sama Organisasi Keagamaan untuk memastikan terciptanya kerja sama dan dialog guna menciptakan stabilitas dan pembangunan berkelanjutan di masyarakat.

Mufti Syekh Gaynutdin juga menyinggung tentang aneka kegiatan internasional organisasi-organisasi keagamaan serta hubungan dekat Muslim Rusia dengan Muslim Indonesia. Ia mengucapkan rasa terima kasihnya atas dukungan otoritas di Indonesia selama ini. Kami terus mengembangkan kerja sama bilateral Rusia-Indonesia, terutama memperdalam hubungan di bidang keagamaan dan budaya, ungkap Mufti Syekh Gaynutdin.

Lebih jauh, RMC bahkan juga menjalin hubungan baik dengan Kementerian Agama RI. Selain itu, RMC juga menandatangani nota kesepahaman dan kerja sama dengan organisasi Islam Indonesia seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Majelis Ulama Indonesia.

Auditor Utama Keuangan Negara V BPK RI, Bambang Pamungkas memuji keaktivan MRC dan Badan Kerohanian Musliam Rusia. Ia juga berharap kerja sama antara Muslim Rusia dengan Indonesia akan makin luas ke depannya.

Mufti Syekh Gaynutdin menerima perwakilan BPK RI yang dipimpin Anggota BPK RI Moermahadi Soerja Djanegara bersama Auditor Utama Keuangan Negara V BPK RI Bambang Pamunkas,Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Internasional BPK RI Yudi Ramdan Budiman, Kepala BPK Perwakilan Provinsi Jawa Tengah Hery Subowo, Kepala Auditor BPK Perwakilan Provinsi Jawa Tengah Eko Purnomo, dan perwakilan Departemen Hubungan Internasional BPK RI Riha Handayani.

Terkait dengan lawatan ini, sebelumnya juga pernah datang ke Rusia yakni rombongan dari Duta besar RI Wahid Supriyadi didampingi Minister Counsellor Pensosbud Darmawan Suparno, Atase Perdagangan Heryono Hari P dan Sekretaris Kedua Ekonomi Indra Agustini, mengadakan kunjungan kerja di kota Tatarstan.

Dalam sambutannya, Presiden Republik Tatarstan Rustam Minnikhanov memandang Islam dapat menjadi perekat hubungan dan kerjasama Indonesia dan Rusia. Ia menambahkan, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, begitu pula Tatarstan merupakan pusat Islam di Rusia. Kesamaan sejarah dan tradisi ini dapat membantu kita untuk lebih memahami satu sama lain, termasuk dalam rangka bisnis, ujar Rustam Minikhanov saat menerima kunjungan Dubes RI untuk Rusia merangkap Belarus M. Wahid Supriyadi.

Republik Tatarstan adalah salah satu negara bagian di Federasi Rusia yang menyandang nama Republik. Mayoritas agama yang dianut oleh penduduknya adalah Islam.

Kala itu, Dubes RI sedang  mengundang Rusia untuk dapat berpartisipasi pada acara Festival Indonesia 2016, sebuah pameran dagang, pariwisata, investasi dan seni budaya yang digelar KBRI Moskow di Hermitage garden, Moskow, 20 - 21 Agustus 2016 lalu.

Dubes Wahid juga menawarkan kerjasama Sister Province antara Republik Tatarstan dengan Daerah Istimewa Aceh. Sebagaimana Republik Tatarstan yang menjadi tempat masuknya Islam pertama kali ke tanah Rusia pada abad X, Provinsi Aceh juga merupakan kota masuknya Islam pertama kali di Indonesia pada abad XIII.

Dubes RI Wahid Supriyadi beserta rombongan juga bertemu pimpinan KADIN setempat, mengunjungi kampus Universitas Federal Kazan, Universitas Innopolis, kawasan berikat Innapolis, Badan Rohani Islam Republik Tatarstan, Pusat Badminton Tatarstan dan pertemuan dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Tatarstan.

Dari pertemuan-pertemuan seperti ini, diyakini dapat membangun hubungan harmonis yang berkelanjutan antara Rusia dan Indonesia yang didasari atas agama Islam. Seperti yang dulu pernah diawali oleh Presiden Sukarno kepada Rusia. (mrz/dbs)


Back to Top