Selama Musim Haji Proyek Perluasan Diminta Berhenti dan Crane di Sekitar Masjidil Haram Dikurangi

(gomuslim). Direktorat Umum Pertahanan Sipil menegaskan bahwa keberadaan crane di Masjidil Haram saat ini telah dipelajari dari sudut pandang keamanan teknis, maka dari itu keberadaan crane tidak boleh lebih dari 30 unit bahkan dalam berapa hari kemudian beberapa unit crane akan dikurangi.

Direktur Pertahanan Sipil Bidang Keselamatan Tanah Suci, Kolonel Abdullah al-Qurashi mengatakan bahwa, mereka (para kontraktor) masih menginginkan crane ditempatkan di sekitar Masjidil Haram yang menurut mereka hal tersebut telah dipelajari dari aspek keamanan dan juga cuaca yang diprediksi dapat menjatuhkan crane. Namun aktivitas pekerjaan untuk sementara diminta oleh Direktorat Umum Pertahanan Sipil agar dihentikan sebagian atau seluruhnya.

Dalam konteks yang sama, pihak Pertahanan Sipil menyatakan sekitar 17 ribu petugas dan personel keamanan disebar di setiap tempat-tempat suci. Mereka telah melewati tahap pelatihan tertentu untuk upaya penyelematan. Salah satu pelatihan yang diberikan terhadap personel keamanan adalah studi lapangan yang intensif untuk memastikan kondisi dalam keadaan aman bagi para jemaah.

Selain pelatihan tanggap darurat, petugas keamanan juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Olahraga untuk memanfaatkan fasilitas lembaga ini sebagai tempat penampungan manakala diperlukan. Pengamatan yang dilakukan oleh otoritas keamanan Saudi ini tentunya berdasarkan dari pengalaman tahun lalu. Peristiwa yang memilukan terjadi ketika crane yang berada di Masjidil Haram tumbang dan menimpa jemaah yang beberapa di antaranya merupakan jemaah asal Indonesia. Peristiwa tragis yang terjadi tahun lalu diharapkan jangan sampai terulang, dengan demikian para kontraktor pelaksana proyek perluasan Masjidil Haram, diharapkan dapat mengantisipasi hal ini dengan memindahkan crane yang berpotensi menimbulkan bahaya. Untuk diketahui, persidangan kasus jatuhnya crane tahun lalu sampai saat ini belum selesai, bahkan terjadi tarik-menarik antara terdakwa dan saksi.

Sementara hakim belum memutuskan hukuman terhadap pelaku bahkan korban jatuhnya crane khususnya dari Indonesia belum menerima santunan yang dijanjikan. Dengan belajar dari peristiwa ini, semestinya proyek yang menggunakan alat berat dihentikan sementara sampai musim haji berakhir. Pasalnya penggunaan alat berat termasuk crane dalam kondisi keramaian berpotensi menimbulkan bahaya. Dengan demikian semestinya otoritas Saudi bersikap tegas dalam hal mengambil langkah antisipasi terjadinya kecelakaan kerja.

Belum lama ini Gubernur Mekkah Pangeran Khalid Faishal meminta kepada segenap jajarannya agar menempatkan keselamatan dan keamanan jemaah pada skala prioritas utama. Sebab Mekkah dan Madinah seyogyanya harus menjadi tempat yang aman bagi jemaah haji seluruh dunia. Maka dari itu jangan sampai ada yang terluka saat menjalankan ibadah haji. Sampai saat ini, Pemerintah Saudi lewat Departemen Pertahanan terus mengambil langkah-langkah tanggap darurat. Lembaga ini melakukan kerjasama dengan lembaga lainnya baik pemerintah maupun swasta. Karena kondisi keamanan dan kesehatan jemaah menjadi hal yang kerap diperhatikan, maka dalam hal ini Pemerintah Saudi banyak menekankan Departemen Pertahanan dan Departemen Kesehatan untuk melakukan kebijakan yang dapat menimbulkan upaya keselamatan jemaah.

Mengingat pada musim haji tahun lalu, dua insiden besar terjadi, selain jatuhnya crane ada pula insiden tabrakan di mina yang menewaskan sedikitnya 2.121 orang jemaah haji. Dari dua insiden yang pernah terjadi pada tahun lalu, maka Departemen Pertahanan Sipil dan Departemen Kesehatan paling banyak andil dalam penanganan kondisi seperti ini. Namun hal yang jauh lebih penting dari penanganan pasca kecelakaan adalah mencegah hal-hal yang berpotensi menimbulkan bahaya. (fh/alweeam)


Back to Top