Sudah Terkonsentrasi di Mekkah, Takmir Masjidil Haram Sambut Jemaah dengan Parfum dan Hadiah Kurma

(gomuslim). Memasuki hari ke-23 pemberangkatan Jemaah haji dari tanah air ke tanah suci, data di Siskohat Kemenag RI pada Kamis (01/09/2016) tercatat 118 ribu Jemaah Indonesia telah berada di kota suci Mekkah. Jemaah gelombang II yang kini mendarat di Jeddah setiap hari terus berdatangan sejak pertama dilepas pada Selasa (09/08/2016). Demikian juga jemaah dari berbagai negara sudah berada di Mekkah.

Puncak ibadah haji sendiri saat wukuf di Arafah diperkirakan pada 10 September 2016 atau bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1437 Hijriah. (selengkapnya lihat:

Inilah Jadwal Lengkap Rencana Perjalanan Haji 2016

 

Sementara itu, untuk menghormati tamu-tamu Allah dari seluruh penjuru dunia yang terus berdatangan di Mekkah kemudian memasuki Masjidil Haram, takmir masjid tertua di muka bumi ini mengadakan penyambutan setiap hari dengan berbagai cara, antara lain.

Pertama, takmir masjid menugaskan sejumlah pemuda untuk mengoleskan minyak wangi kepada setiap Jemaah yang memasuki pintu-pintu masjid. Seperti disabdakan Nabi, disunnahkan menggunakan wewangian setiap bertandang ke masjid untuk beribadah.

 

 

Kedua, takmir masjid juga menugaskan sejumlah pemuda untuk membagikan air zam-zam dalam kemasan. Maksud pemberian air zam-zam dalam kemasan ini tentu tidak sebagai ‘welcome drink’ karena di dalam masjid dalam setiap deret juga disediakan air zam-zam. Sebagian besar Jemaah sendiri membawa air zam-zam dalam kemasan itu pemondokan.

Ketiga, takmir masjid juga membagikan kurma dalam kotak-kotak kecil. Selain itu juga dibagikan  kitab suci Alquran, tetapi hanya di pintu tertentu saja.

Prosesi acara penyambutan sudah dilakuakn sejak kedatangan Jemaah pertama di Bandara, di hotel hingga di masjis sebagaimana disebut. Saat jemaah haji tiba di pemondokan, disambut taburan taburan bunga, pemberian kurma, makanan ringan.

Program ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah Arab Saudi dalam memberikan pelayanan haji kepada seluruh jemaah haji, termasuk Indonesia.

Selain mendapat sambutan istimewa, Jemaah juga disambut dengan pelayanan pemondokan yang memadai, yaitu satu kamar terdapat empat tempat tidur ukuran standar. Lengkap dengan meja dan televisi serta pendingin ruangan. Kasur yang tebal dan empuk, dengan fasilitas kamar mandi yang cukup mewah. Disediakan pula empat handuk mandi sesuai jumlah tempat tidur.

Fasilitas lainnya adalah lemari pakaian dan perlengkapan untuk membuat minuman, seperti teh. Secara keseluruhan, hotel dengan fasilitas yang tersedia tersebut cukup nyaman.

 

 

Pintu Nomor I Dibuka

Untuk pertama kali sejak  proses peluasan atau renovasi yang dimulai tahun 2013 lalu, pintu utama Masjidil Haram yang biasa disebut pintu Malik Abdul Aziz mulai difungsikan kembali pada Jumat (26/08/2016). Sejak itu hingga Kamis hari ini, ribuan jemaah haji dari berbagai negara datang bergelombang sejak pagi untuk menunaikan salat Jumat di Masjidil Haram melalui pintu bernomor I ini.  

Dibukanya kembali pintu Malik Abdul Aziz memudahkan akses jemaah haji Indonesia yang tinggal di daerah Misfalah. Posisi pintu yang desainnya akan diapit dua menara besar itu berhadapan langsung dengan Tower Zam-Zam yang kini menjadi icon kedua di kota Mekkah.

Sebelumnya, jemaah yang datang dari arah Misfalah dan Jarwal pintuk masuknya terkonsentrasi pada pintu Malik Fahd yang berada pada sisi sebelah kanan pintu utama. Daerah Misfalah termasuk yang popular di masyarakat Indonesia sebab di daerah tersebut terdapat ‘rubat jawiyah’ atau pesantren Nusantara sejak ratusan tahun lalu.

 

 

Tanda Khusus

Hingga hari ini kabar tentang jemaah haji tersesat masih terjadi. Jemaah haji Indonesia termasuk yang terbanyak dari seluruh dunia, karena itu perlu diperbanyak penunjuk jalan atau rambu-rabu berbahasa Indonesia. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengupayakan penyediaan petunjuk berbahasa Indonesia di pemondokan, halte bus, wilayah sekitar Masjidilharam, hingga sekitar area wukuf di Armina (Arafah, Muzdaifah, Mina) demi memudahkan para jemaah.

“Berkaitan dengan petunjuk berbahasa Indonesia. Ini sudah kami sampaikan, bahkan Menag secara khusus sampaikan ke Menteri Haji bahwa kita ini jemaah terbesar, bahkan jemaah umrah terbesar nomor 4 atau 5. Artinya, di setiap tempat ada jemaah haji kita,” papar Kadaker Mekkah Arsyad Hidayat.

Sudah banyak yang meminta penyelenggara haji serius melobi pemerintah Arab Saudi karena papan petunjuk berbahasa Indonesia di kota-kota perhajian masih minim. Padahal, jemaah haji Indonesia jumlahnya sangat besar dan latarbelakangnya sangat beragam. Diharapkan, banyaknya petunjuk berbahasa Indonesia akan memudahkan mereka dalam beribadah

Saat ini, berdasarkan pantuan dan laporan Jemaah langsung dari Mekkah, petunjuk berbahasa Indonesia berupa tulisan maupun atribut bendera sudah dipasang di beberapa sudut Kota Mekkah. Hanya saja, jumlahnya memang masih kalah jika dibandingkan dengan petunjuk arah atau tempat yang menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Untuk mengatasi hal tersebut, panitia menempatkan para petugas haji di titik-titik strategis seperti area Masjidil Haram, halte bus Shalawat, pemondokan, dan Armina.

Jika usul penambahan papan penunjuk berbahasa Indonesia dikabulkan, tahun depan diharapkan kasus tersesat berkurang dan petugas haji dapat dialihkan untuk memberi pelayanan lain, bukan sebagai tukang tunjuk jalan saja. (mm/bs)

 


Back to Top