Penerimaan Jemaah Haji Via Jalur Darat Telah Ditutup, Tahap Pemeriksaan “Tashrih” Dimulai

(gomuslim). Direktorat Imigrasi Saudi menyampaikan informasi penting terkait penerimaan jemaah haji, dalam informasi tersebut disampaikan bahwa mulai 30 Dzulqakdah 1437 H penerimaan jemaah lewat jalur darat resmi ditutup. Dengan demikian jemaah haji yang hendak memasuki Saudi via jalur darat sudah tidak diperkenankan lagi.

Departemen Imigrasi Saudi menegeaskan bahwa para jemaah haji yang datang dari luar Saudi harap mengikuti aturan terkait tanggal masuk dan pergi yang tercantum di visa haji. Selanjutnya lembaga yang kerap menangani urusan paspor ini juga menekankan kepada jemaah dari negara-negara teluk yang berdekatan dengan Saudi diharapkan membawa izin haji (tashrih haji). Sangat tidak diharapkan pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini terjadi pemulangan jemaah yang tidak memiliki izin berhaji.

Selanjutnya Imigrasi Saudi juga mengimbau kepada para jemaah lokal dan jemaah luar Saudi agar menunjukkan tashrih resmi jika hendak melaksanakan ibadah haji. Jika ditemukan terdapat jemaah yang tidak memiliki tashrih haji maka pihak imigrasi dan pihak terkait lainnya tidak segan akan menindak yang bersangkutan.

Selama musim haji berlangsung, aparat gabungan yang terdiri dari tentara, petugas imigrasi dan polisi akan dikerahkan untuk memeriksa dokumen resmi haji termasuk di dalamnya tashrih haji. Kebijakan pemerintah Saudi dalam pemberian sanksi tegas terhadap jemaah haji tanpa tashrih tidak dapat ditawar lagi. Pasalnya otoritas terkait termasuk Ketua Pusat Komite Haji Saudi Khalid Faishal telah mensosialisasikan tashrih haji kepada masyarakat. Bahkan imam Masjid Nabawi Syeikh Husain Ali Syeikh juga dilibatkan untuk mensosialisasikan tashrih haji ini.

Kebijakan Pemerintah Saudi mengenai pemberlakukan tashrih sebagai suatu sarat dibolehkannya melakukan manasik haji, menurut otoritas di negara tersebut hal ini merupakan suatu bentuk penertiban jemaah. Karena otoritas Saudi memandang, tanpa ada izin resmi, penyusupan jemaah dapat berdampak negatif terhadap kenyamanan dan keselamatan jemaah.

Jutaan jemaah yang setiap tahun selalu memenuhi area tanah suci -khususnya Arafah, Muzdalifah dan Mina- perlu diadakannya penerbitan khusus agar tidak terjadi kekacauan. Sehingga terdapat jemaah yang masuk tanpa ada izin, dengan demikian jemaah tersebut tidak masuk dalam catatan departemen terkait.

Maka dari itu fasilitas yang telah disiapkan mungkin saja tidak memadai karena terjadinya penambahan di luar catatan resmi yang disiapkan. Atas dasar itulah maka jemaah tanpa izin haji dilarang masuk ke area tanah suci, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh seorang imam Masjid Nabawi belum lama ini. (fh/MN)


Back to Top