Cegah Kebakaran Tenda, Otoritas Saudi Imbau Penyelenggara Haji Wajib Awasi Perkemahan Jemaah

(gomuslim). Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil mengimbau seluruh lembaga maupun perusahaan penyelenggara haji untuk terus mendampingi jemaah haji selama berada di tenda haji khusus di area Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina). Pendampingan ini bertujuan untuk menghindari hal-hal negatif yang tidak diinginkan, karena banyak jemaah haji yang belum mengerti apa saja yang dilarang selama berada di Tanah Suci.

Direktorat Pertahanan Sipil menjelaskan bahwa panduan preventif di area Tanah Suci meliputi penjagaan khusus tenda jemaah, instalasi listrik, mampu mendirikan tenda serta dapat menangani kondisi kebakaran. Selain itu para petugas yang diminta untuk melakukan pendampingan harus berusia tidak kurang dari 20 tahun dan tidak melebihi 55 tahun.

Mengenai mekanisme penjagaan tenda,  Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil menegaskan bahwa harus dialokasikan tiga orang penjaga untuk masing-masing tenda yang didalamnya terdiri dari 1.500 jemaah haji, dengan demikian jumlah penjaga tenda tidak boleh kurang dari 50 persen dari jumlah keseluruhan para petugas yang ditugaskan di Armina.

Pada dasarnya petugas khusus penjaga tenda harus terlatih dalam tindakan penyelematan dalam kondisi darurat seperti, pemadaman kebakaran, menbuat akses pintu keluar darurat dari perkemahan haji, mengerti teknik kelistrikan dan dapat  memberikan edukasi kepada jemaah terkait hal-hal yang dapat membahayakan selama bermukim di dalam tenda.

Upaya antisipasi kebakaran kerap diintensifkan, pasalnya saat musim haji berlangsung suhu udara dalam kondisi yang panas serta terkadang diiringi dengan tiupan angin yang kencang. Kondisi seperti ini rentan menimbulkan kebakaran yang dapat mengancam keselamatan jemaah haji saat menempati tenda di Armina.

Bukan hal yang mustahil jika tenda jemaah dapat terbakar, pada tahun lalu tenda jemaah haji Mesir terbakar persis di depan kemah-kemah jema'ah haji Lebanon. Bahkan peristiwa kebakaran tenda juga pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 15 April 1997 terjadi kebakaran tenda jemaah haji di Mina yang menelan korban sedikitnya 343 jemaah haji.

Karena rentannya terjadi kebakaran tenda haji, maka untuk mengantisipasinya dikeluarkan kebijakakan berupa larangan menggunakan gas cair bahkan aktivitas memasak pun  dilarang. Meski demikian sudah disediakan tempat-tempat khusus untuk melakukan aktivitas masak sehingga kebutuhan logistik jemaah dapat terpenuhi. Selain kebijakan berupa larangan menggunakan gas cair, otoritas Saudi juga merazia jemaah yang membawa korek api ke tenda, pasalnya penggunaan korek api dinilai dapat memicu kebakaran. (fh/Alriyad)


Back to Top