Motif Batik Peniggalan Para Wali Akan Ramaikan Pagelaran Busana Internasional di Hongkong

(gomuslim). Selama ini, Kudus hanya dikenal oleh kebanyakan masyarakat Indonesia sebagai daerah penghasil tembakau atau sebagai daerah yang dikenal dengan rumah menara kudus dan rumah adatnya. Namun tak akan lama lagi, tepatnya pada 7-10 September mendatang, Kudus akan mendunia dengan motif batiknya yang akan dibawa ke pentas dunia oleh beberapa siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) NU Banat, yakni dalam ajang pameran dagang dan pagelaran busana Internasional CentreStage-Asia’s Premiere Fashion, Hong Kong.

Dari beberapa motif yang rencananya akan dibawa ke pagelaran busana internasional tersebut, seperti motif gebyok rogomulyo, yakni rumah kudus pertama yang dibuat oleh maestro kayu di era bupati Chondro Negoro ke-3, beraskecer, gabah sinaur, dan motif gribik, rupanya terselip satu motif yang sangat identik dengan budaya Islam, yakni motif kaligrafi.

Motif kaligrafi ini sendiri diambil dari sejarah masuknya budaya Islam di tanah jawa, dalam hal ini di tanah kudus oleh sunan Kudus, melalui pengajaran Alquran secara perlahan dan lekuk-lekuk dalam membatik seperti lekukan lafadz Allah dan Muhammad.

Ketika ditanyai oleh reporter gomuslim disela-sela acara press conference busana muslim karya siswi SMK NU Banat perihal kontroversi yang nantinya akan timbul melalui motif kaligrafi ini, pembina perajin batik Kudus, Miranti H.Serad atau yang akrab disapa Mira, mengatakan bahwa hampir dapat dipastikan  tidak akan ada kontroversi yang ditimbulkan dari motif kaligrafi ini.

“Itu (kaligrafi) hanya tersirat. Lekuk-lekuk yang dihasilkan tidak menampilkan tulisan Allah dan Muhammad secara utuh. Meskipun demikian, sebagai muslim, ketika melihat dari dekat, kita akan mengetahui bahwa motif tersebut merupakan jalinan huruf-huruf Arab yang disosialisasikan pada zaman dahulu oleh para wali hingga membentuk sebuah lafadz Allah dan Muhammad”, tegasnya.

Sayangnya, karya asli dari batik bermotif kaligrafi tersebut tidak disimpan di Indonesia, melainkan ada di sebuah museum di Belanda. Mira sendiri mengaku sangat sedih dengan kenyataan ini mengingat peninggalan itu penuh dengan nilai historis yang tinggi, sebagaimana peninggalan-peninggalan lainnya yang terdapat di Indonesia.

Melenggangnya brand Zelmira selaku brand pendatang baru dalam dunia fashion muslim, yang dimotori oleh empat siswi SMK NU Banat ke ajang internasional, dapat terwujud berkat Bakti Pendidikan Djarum Foundation melalui program peningkatkan kualitas Sekolah Menengah Kejujuran, bekerja sama dengan Indonesia Fashion Chamber (IFC) dan Ditali Cipta Kreatif. Kepada siswa jurusan tata busana diberikan program intensif berkonsep inkubasi.

“Kualitas itu banyak dimensinya secara generik pendidikan. Ada 4 komponen yang mencitrakan kualitas yaitu kreativitas, pemikiran kritis, komunikasi, dan kolaborasi. Komponen kolaborasi sangat penting untuk SMK, bekerja sama dengan industri, masyarakat, asosiasi,” ucap Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud Drs. M. Mustaghfirin Amin, MBA, kemarin.

Selain itu, terwujudnya promosi brand-brand busana muslim ke pentas internasional juga tak lepas dari dukungan pemerintah, yang di era Jokowi saat ini menitikberatkan fokus pembangunan ke dalam empat hal, yakni industry kreatif yang di dalamnya termasuk fashion, baik fashion muslim maupun fashion umum, pariwisata yang di dalamnya termasuk kuliner dan lain sebagainya, maritime, dan pertanian. (alp/dbs)


Back to Top