Waspada! Yayasan Penjual Tashrih Haji Palsu Beraksi di Area Tanah Suci

(gomuslim). Kewajiban memiliki izin haji (tashrih) merupakan suatu kemutlakan. Tidak tanggung-tanggung deportasi jemaah pun akan diberlakukan jemaah yang berhaji tanpa memiliki tashrih. Karena itulah, hal semacam ini menjadi momok bagi mereka yang terjebak melakukan perjalanan haji secara tidak resmi.

Namun pada sisi lain, kondisi seperti ini dijadikan peluang emas bagi oknum tertentu. Baru-baru ini media Saudi Okaz melakukan investigasi terkait tashrih haji yang diperjual belikan oleh sebuah yayasan swasta. Modus operandi yang dijalankan adalah mengurus izin masuk ke Mekkah untuk para pekerjanya, namun setelah dokumen itu diperoleh, lembaga ini menjual tashrih tersebut kepada jemaah yang tidak memiliki izin masuk ke area tanah suci.

Untuk diketahui, jemaah haji yang tidak memiliki tashrih dilarang memasuki area Tanah Suci atau tempat-tempat yang dikunjungi untuk melakukan ritual ibadah haji. Maka jemaah yang telah mengeluarkan biaya pemberangkatan, dapat terlantar manakala tidak diizinkan masuk ke area Tanah Suci. Itulah sebabnya pihak tertentu merasa penjualan tashrih haji terbilang sebagai peluang yang menguntungkan.

Harga yang tashrih yang mereka jual sebesar SAR 1,500 atau sekitar Rp5,300,000,- untuk satu tashrih. Yayasan ini mendekati jemaah di miqat ihram setelah melewati pos pemeriksaan, kemudian melakukan pendaftaran pada sistem haji.  Tashrih yang dijual merupakan bagian dari dokumen palsu yang digunakan untuk menghindari sanksi yang akan dijatuhkan kepada para pelanggar.

Sementara itu seorang juru bicara yang mengatasnamakan Kementerian Haji dan Umrah Dr. Hatim  menolak berkomentar terkait hal ini. Namun Wakil Kementerian Urusan Haji Dr. Husain Syarif menjelaskan bahwa tasrih sejatinya diterbitkan oleh Pusat Informasi Kementerian yang mana tashrih tersebut tidak dapat digandakan. Dengan demikian jika pada dokumen tersebut tertulis suatu nama seseorang maka tidak dapat digunakan oleh orang lain.

Jika tashrih yang diterbitkan sesuai dengan data yang dimiliki oleh Lembaga Kementerian Haji atau Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Saudi, maka semestinya penggunaan tashrih milik pekerja tidak dapat dikatakan sah manakala digunakan oleh jemaah haji.

Namun ada keganjalan yang terjadi pada peristiwa jual beli tashrih, pasalnya jika oknum penjual lancar melakukan aksinya maka dokumen yang dijual terindikasi lolos dari pemeriksaan petugas. Sampai berita ini dipublikasikan oleh beberapa media Saudi, belum ada tanggapan dari otoritas terkait mengenai hal ini.

Aksi penjualan tashrih haji berdampak negatif pada jemaah, sejatinya jemaah haji dijadikan objek penipuan. Suatu hal yang sangat miris manakala tashrih yang dibeli dari yayasan ternyata ditolak oleh petugas, alhasil jemaah pun dijatuhi sanksi berat sampai harus dideportasi. Selain itu uang senilai SAR 1,500 raib begitu saja, kerugian pun menjadi berlipat ganda.

Pada dasarnya mekanisme perolehan tashrih haji tidaklah sulit. Kemendagri Saudi telah mensosialisasikan cara mendapatkan surat izin haji. Para calon jemaah baik dari Saudi maupun ekspatriat,  dapat mengakses situs resmi kementerian tersebut, kemudian melakukan pendaftaran dengan mengikuti petunjuk yang ada pada situs tersebut. Jika telah mengisi formulir yang disediakan secara online, lantas jemaah dapat mengunduh dan mencetaknya.

Namun terkadang masih banyak jemaah baik dari Saudi maupun dari negara lain, belum mengerti cara mendapatkan tashrih haji. Sebagian dari mereka merasa belum mendapatkan informasi ini, bahkan untuk mendapatkan tashrih masih dianggap harus datang ke kantor kementerian terkait yang dianggap merepotkan.

Sejatinya Kementerian Haji dan Umrah serta Kemendagri Saudi telah bekerjasama dalam penyelenggaraan haji. Maka jika jemaah yang telah mendapatkan gelang haji yang sah, dia pun dapat memasuki area tanah suci. Karena perolehan gelang haji sama halnya dengan identitas jemaah yang telah tercatat dengan penerapan teknologi informasi. (fh/Okaz)


Back to Top