Panitia Haji Gelar Gladi Persiapan Armina dan Sidak Jalur Maut Menuju Tempat Lempar Jumrah

(gomuslim). Puncak pelaksanaan ibadah haji semakin dekat, berbagai persiapaan telah dilakukan oleh Panitia Haji Indonesia di Saudi maupun Panitia Pusat di bawah Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.  Persiapan itu terutama untuk memastikan rencana pelaksanaan di Arafah, Muzdalifah dan Mina sebagai titik temu ribuan umat manusia dalam waktu bersamaan.

 

 

Selama sehari penuh pada Ahad hingg malam (04/09/2016), Tim Satuan Operasional Arafah, Muzdalifah, Mina (Armina) dan petugas Daerah Kerja Madinah, melakukan gladi posko dan persiapan lain di kawasan Mina yang akan menjadi salah satu kawasan penting pelaksanaan ibadah haji. Di kawasan yang sering terjadi musibah merengut nyawa ini akan dilaksanakan prosesi melempar jumrah ribuan jemaah haji dari berbagai negara.

Seperti diketahui, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dibagi menjadi tiga daerah kerja (Daker), yaitu Jeddah, Mekkah dan Madinah. Pada tahun 2016 ini yang ditempatkan di Mina adalah dari Daker Madinah. Sementara itu, Daker Airport Jeddah-Mekkah akan bertugas di Arafah, sedangkan Muzdalifah menjadi kawasan penugasan Daker Mekkah.

Gladi posko terkait pola Gelar Gerak Operasional Armina itu dipimpin langsung Kepala Satuan Operasional Armina Jaetul Muchlis dan Kepala Daker Madinah Nasrullah Jasam. Gladi posko  juga diikuti petugas PPIH Arab Saudi Daker Madinah yang akan bertugas di pos stasioner maupun tim mobile. Petugas yang bergabung di antaranya Tim Gerak Cepat dari Kementerian Kesehatan dan sektor-sektor.

Muchlis menjelaskan, dalam proses melempar jumrah di Mina, tim Satuan Operasional Armina menyiapkan satu rute keberangkatan dan tiga rute kepulangan. Beberapa lokasi yang berpotensi menjadi titik krusial di Mina, di antaranya di jalur yang menjadi rute jemaah haji dari Mina Jadid.

Selain itu, menurut Muchlis, potensi titik krusial lainnya di lokasi melempar jumrah Aqabah, Wustha, dan Ula. "Karena di sini bisa jadi karena puncak keletihan jemaah," ujar Muchlis.

 

 

Lokasi yang berpotensi memicu kerawanan lain, menurut Muchlis, adalah di jalan 206. Kepadatan berpotensi terjadi di lokasi ini karena merupakan rute jemaah melempar jumrah ke lantai satu.

Namun, kini, upaya protektif dari pemerintah Arab Saudi, menurut Muchlis, membuat jemaah dari jalan 204 tidak bisa masuk lagi ke jalan 206. Dulu, saat kejadian peristiwa Mina pada 2015 di jalan 204, jemaah dari jalan 206 masuk ke jalan 223 dan bertemu di jalan 204
.
"Sekarang dilokalisasi terkait keamanan rute kedatangan," ujar Muchlis.

Untuk petugas, Muchlis menekankan agar posko stasioner tidak kosong. Selain itu, petugas harus mengenali betul titik-titik yang berpotensi memicu kerawanan.

Seperti halnya saat di Arafah, guna mengantisipasi jemaah tidak keluar di saat cuaca panas yang cukup ekstrem. Potensi kerawanan lain, Muchlis melanjutkan, adalah saat pelaksanaan angkutan Taradudi dari Arafah ke Muzdalifah, maupun dari Muzdalifah ke Mina.
Sementara itu, terkait tenda bagi jemaah, juga lebih siap. Pada H-4 jelang wukuf di Arafah, diharapkan semua fasilitas sudah siap. Seperti di Arafah sudah dipasang water fan sebanyak 101 unit untuk tiap maktab.

 

 

Untuk kesiapan tenda di Mina bagi jemaah haji, sejumlah karpet juga sudah digelar. Karena tenda sifatnya sudah permanen. "Sudah 90 persen, tinggal mengecek seperti pengisian air, misalnya," tuturnya.

Kondisi yang cukup krusial, Muchlis menjelaskan, juga terkait rute perjalanan dan waktu pelontaran jumrah. Jemaah haji diharapkan menaati ketentuan ini agar tidak lagi terjadi musibah karena kesalahan teknis dan sejenisnya. (mm/mch)


Back to Top