Butuh Uraian Hukum, Uni Emirat Arab Buka Hotline Fatwa Fikih Khusus Perempuan

(gomuslim). Teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih saat ini membuat manusia sebagai makhluk sosial bisa berinteraksi dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Hal tersebut dimanfaatkan dengan baik untuk belajar dan berbagi informasi tentang agama Islam oleh warga Uni Emirat Arab (UEA).  Hidup di dunia Islam yang modern dan berkembang cepat, membuat para perempuan Uni Emirat Arab menghadapi beragam persoalan yang berhubungan dengan norma dan etika dalam agama. Beragam persoalan yang berhubungan dengan fiqih perempuan tersebut kadang tidak menemukan jalan keluar yang memuaskan. Sebagian besar karena perempuan masih merasa enggan mencari jawabannya pada ulama yang mayoritas adalah pria.

Untuk menjawab masalah ini, di ibukota Uni Emirat Arab, Abu Dhabi dibuka jaringan hotline yang melayani pertanyaan dan persoalan yang berhubungan dengan fiqih muslimah di dunia modern. Syekh Naeema ulama perempuan dan ahli hukum berkebangsaan Maroko adalah pencetus hotline fatwa fiqh perempuan ini. Di negaranya, Syekh Naeema dikenal sebagai ulama muda perempuan terpandang. Lembaga fatwa yang dikepalai Syekh Naeema bernaung di bawah General Authority of Islamic Affairs and Endowments atau biasa dikenal sebagai Awqaf yang mengurusi beragam masalah agama, termasuk fatwa dan zakat. 

Syekh Naeema sudah delapan tahun mengepalai lembaga tersebut. Selama memimpin jaringan hotline tersebut, perempuan berusia 40-an tahun ini menemukan beragam persoalan yang ditanyakan penelepon, yang aneh hingga yang lucu. Menurut Syekh, meski perempuan Uni Emirat Arab hidup di kota megapolitan yang serba modern dan maju, urusan yang menyangkut fiqih perempuan tetap menjadi ganjalan. “Mereka sungkan menanyakan kepada ulama yang mayoritas laki-laki. Apalagi sebagian besar pertanyaan sangat sensitif dan pribadi,” katanya, seperti dilansir dari publikasi The Guardian.

Latar belakang penelepon juga beragam, ada yang tua dan muda, orang kaya dan tak berpunya, yang mengaku menjalankan agama dengan taat dan yang jarang beribadah. Dalam membina Hotline Fatwa ini, Syekh Naeema dibantu sejumlah pegawai perempuan di lantai delapan gedung lembaga tersebut. Mereka bekerja lima hari dalam sepekan, dari pagi hingga lewat Magrib sejak pukul 08.00 pagi, telepon tidak berhenti berdering. Dalam sehari, panggilan telepon mencapai 200 penelepon. Para penelepon umumnya perempuan, namun sesekali panggilan datang dari penelepon pria.  

Salah satunya adalah pada suatu pagi, seorang penelepon yang panik menanyakan persoalan pelik yang membutuhkan jawaban segera. Seorang ibu muda rupanya sedang hamil muda, sementara dua anaknya masih bayi. Menurut dokter kandungannya, kondisi kandungan Ibu tersebut rawan dengan sejumlah komplikasi pada janin di dalam rahimnya. Janin itu berisiko mengalami kematian.  “Ibu itu ingin tahu apakah Islam mengizinkan aborsi,” kata Syekh Naeema.

Setelah menjelaskan dengan detail dan ramah, dia mengemukakan sebuah fatwa tentang aborsi kepada si penelepon. “Jika janin menderita penyakit dan kelainan dan dikhawatirkan tidak akan bertahan, Anda bisa melakukan aborsi,” kata Syekh Naeema. “Anda boleh meminta saran pada dokter kandungan, yang akan memberi saran terbaik. Agama pada intinya tidak bertentangan dengan dunia kedokteran.”   

Selain itu, pertanyaan lucu juga tidak jarang harus dijawab oleh Syekh Naeema dan pegawai lainnya. Misalnya ada yang menanyakan apakah shalat yang ia lakukan batal jika keluar angin dari organ kewanitaannya. Syekh Naeema kemudian menjelaskan dengan landasan teori kesehatan. “Bagi perempuan yang pernah melahirkan lewat persalinan normal, keluhan semacam itu lumrah dialami,” katanya diselingin tawa. “Itu bukan buang angin, jadi shalat Anda sah.”

Pusat fatwa tempat Syekh bekerja ini adalah lembaga satu-satunya di Timur Tengah. Rekan kerjanya  terdiri dari 47 mufti, sebagian besar ulama pria yang bekerja merumuskan dan menjelaskan fatwa. Konsep yang mereka usung adalah meningkatkan kepedulian dan kemajuan sosial yang selaras dengan ajaran Islam yang toleran. Kata kunci toleran inilah yang diusung lembaga fatwa tempat ia bekerja. “Kami menjelaskan dengan benar dan berlandaskan hukum agama dengan cara yang toleran dan ramah, serta keputusan akhir bukan di tangan kami, “ tambah Syekh Naeema.

Selama delapan tahun beroperasi jaringan hotline fatwa ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Lembaga Awqaf Uni Emirat Arab telah mengirim enam ulama muda perempuan untuk menimba ilmu di Maroko untuk menjadi mufti.  Ulama muda lainnya di lembaga tersebut, Syekh Raida, mengatakan dalam Islam ilmu pengetahuan memperoleh tempat yang tinggi. Karena itu menjalankan agama haruslah berdasarkan pengetahuan dan ilmu. “Sejarah Islam menunjukkan, perempuan bisa menjadi guru dan ulama tidak saja bagi sesama perempuan, namun juga bagi pria, “ kata Syekh Raida.  (fau/theguardian/halalifestyle/dbs)

 


Back to Top