Perlu Antisipasi, Haji Tahun Ini Jatuh Pada Musim Panas Ekstrim dan Tidak Menentu

(gomuslim). Musim haji tahun 2016 hingga 10 tahun ke depan diperkirakan jatuh pada musim panas. Adapun puncak musim panas akan terjadi pada bulan Juli-Agustus-September 2016, tepat saat pelaksanaan haji.

Di Mekkah dan Madinah, suhu siang hari pada musim panas biasanya mencapai 45 derajat celsius disertai angin panas. Selain itu kelembapan udara di musim ini sangat rendah. Kondisi cuaca panas di Kota Mekkah dan Madinah akan berpengaruh langsung terhadap kondisi kesehatan jemaah.

Bagi jemaah haji dan umrah, tantangan lebih berat ketika berada di Mekkah yang masa tinggalnya lebih lama. Perbedaan ekstrim antara suhu udara dan kelembaban udara di tanah suci dan tanah air mengharuskan jemaah haji dan umrah memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Menghindari dehidrasi dengan banyak minum, minumlah meski tidak haus
  2. Makan pada waktunya, lapar tidak lapar harus makan secara rutin
  3. Istirahat cukup supaya imunitas (daya tahan tubuh) kita tinggi 
  4. Melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS)
  5. Menggunakan masker setiap keluar dari pemondokan dan dibasahi dengan air biar udaranya sejuk.
  6. Menggunakan payung jika panas menyengat
  7. Membasasi wajah menggunakan handuk basah atau semprotan air

Dalam paparan suhu udara panas, biasanya jemaah sering terserang infeksi saluran pernafasan atas dan dehidrasi, sehingga air yang dikonsumsi  jika perlu ditambah elektrolit seperti oralit. Penyakit yang biasa diderita jemaah saat tiba di tanah suci adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) seperti batuk,pilek,  disebabkan oleh peralihan cuaca.

 

 

Berdasarkan data terbaru yang diterbitkan Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan bahwa mulai Februari 2016 lalu suhu udara di tanah suci mengalahkan semua rekor bulan terpanas selama lebih dari satu abad pencatatan rekor global, dan suhu akan naik 4-6 derajat celsius pada Juli-Juli-Agustus-September. Pada suhu terpanas inilah jemaah haji Indonesia tahun 2016 berada tanah suci, tepatnya wukuf di Arafah pada 9 September 2016.

Data NASA tersebut ini diperkuat analisis penelitian Pusat Riset Haji dan Umrah Masjid Haramain (the Custodian of the Two Holy Mosques Institute of the Hajj Research -CTHMIHR), bahwa musim haji selama sepuluh tahun ke depan bertepatan dengan cuaca terpanas di Arab Saudi. Dilansir dari Al-Arabiya, Senin (05/09/2016), pada bulan-bulan panas September, Agustus, Juli, dan Juni dalam sepuluh tahun mendatang akan menjadi waktu datangnya jemaah haji dari berbagai negara.

Terkait hal tersebut, jauh dari sebelum keberangkatan, jemaah calon harus diharapkan sudah mengetahui perubahan iklim yang ekstrim tersebut, terlebih di sekitar Masjid Nabawi dan Masjdil Haram saat ini masih terus dilakukan pembangunan baik di area masjid maupun di sekitar masjid. Di daerah yang dahulu dikenal masyarakat Indonesia dengan sebutan Pasar Seng, kini disiapkan superblock, perhotelan dan perbelanjaan, yang berakibat makin tebalnya debu disertai angin kencang.

“Pusat Kesehatan Haji umumnya mengantisipasi hal tersebut dan menyampaikan kepada petugas jemaah haji, bahwa cuaca diperkirakan ekstrim. Biasanya di kisaran 40-50 derajat celcius. Kalau sedang panas-panasnya, berada di padang Arafah yang terbuka dengan terik matahari penuh, kita berasa 15 cm saja dari kompor. Oleh karena calon jemaah kita juga banyak yang sepuh-sepuh maka menyiapkan fisik dan mental menghadapi hal tersebut perlu dilakukan sejak awal. Antara lain dilakukan sosialisasi cara menghadapinya saat bimbingan manasik,” demikian disampaikan Dr dr Fidiansyah Mursjid Ahmad, mantan Ketua Pusat Kesehatan Haji RI yang kini aktif sebagai Ketua Satgas Amar Ma’ruf di Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, kepada gomuslim.

Melihat hal itu, penelitian tersebut memperingatkan calon jemaah haji dalam sepuluh tahun ke depan untuk bersiap-siap menghadapi musim panas yang tidak biasa. Terlebih paparan panas sinar matahari sering menjadi penyebab gangguan kesehatan bagi para peserta haji.

Para periset memperingatkan peserta haji untuk menyiapkan berbagai hal-hal penting untuk berjaga-jaga menghadapi musim panas selama berhaji. Potensi serangan panas mendadak (heat stroke) yang menjadi ancaman serius bagi jemaah haji Indonesia beberapa tahun terakhir.

Tahun lalu, penelitian itu juga mencatat peningkatan cukup tinggi kasus korban gelombang panas matahari selama musim haji. Di India pada bulan yang sama bahkan dilaporkan ada puluhan orang meninggal dunia akibat suhu terlampau panas.

Petugas kesehatan juga perlu melakukan upaya promotif dan preventif, antara lain memetakan jemaah usia lanjut dengan penyakit degeneratif, kurang gizi serta potensi gangguan jiwa ketika di Arab Saudi. Begitu pula dengan pemakaian obat tertentu oleh jemaah haji yang harus diawasi.

Sebab, sebanyak 60,09 persen jemaah memiliki risiko tinggi. Karena itu sejak tahun lalu dimulai dengan pemeriksaan rutin berdasarkan daftar jemaah dari Kementerian Agama. Seperti dilaporkan Media Center Haji dari tanas suci Mekkah dan Madinah, hingga awal bulan September 2016 ini suhu udara di tanah suci memang tidak menentu. Kadang panas hingga 45 derajat celsius, tetapi tiba-tiba saja terjadi hujan. Hal demikian sebenarnya justru membuat kekebalan jemaah mudah drop sehingga perlu diantisipasi lebih lanjut. (mm)

 


Back to Top