Masyarakat Mulai Melek Sukuk, Pegawai Pun Kini Bisa Jadi Investor

(gomuslim). Sejak dibuka mulai 22 Agustus 2016 sampai 2 September 2016, pemerintah mengonfirmasi hasil penjualan dan penjatahan Sukuk Tabungan seri ST-001 sebesar Rp 2,58 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan, bahwa hasil yang telah dicapai pemerintah berhasil melampaui target minimum, yakni sebesar Rp. 2 triliun.

Adalah para pegawai, baik pegawai swasta maupun pegawai professional yang mendominasi penjualan sukuk tabungan tersebut. Jumlahnya mencapai 40 persen, disusul Investor terbesar selanjutnya datang dari kelompok profesi wiraswasta sebesar 18 persen, PNS dan TNI/Polri 13 persen, pegawai otoritas/lembaga/BUMN/BUMD 13 persen, dan ibu rumah tangga sembilan persen.

Lebih lanjut, Robert mengatakan, Sukuk Tabungan seri ST-001 ditawarkan dengan minimal pembelian Rp 2 juta, memiliki jangka waktu dua tahun dan tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder dengan tingkat imbalan 6,9 persen per tahun, dan pembayaran imbalan dilakukan pada tanggal 7 setiap bulan. Namun, memiliki fasilitas pencairan sebelum jatuh tempo (early redemption).

Tanggal penerbitan atau setelmen jatuh pada 7 September 2016 dan jatuh tempo pada 7 September 2018. Periode pengajian early redemption yakni pada 18-28 Agustus 2017 dan tanggal setelmenearly redemption yaitu pada 7 September 2017. Nilai maksimal early redemption yakni sebesar 50 persen dari kepemilikan investor per agen penjual.

Selain itu, Robert juga menjelaskan bahwa, Sukuk Tabungan seri ST-001 diterbitkan dengan akad wakalah yang mencerminkan penyertaan kepemilikan investor atas bagian dari aset dalam kegiatan investasi yang dikelola oleh perusahaan penerbit surat berharga syariah negara (SBSN) selaku wakil dari investor. Underlying asset yang digunakan adalah proyek atau kegiatan APBN tahun anggaran 2016 serta barang milik negara berupa tanah dan bangunan.

Pada pelaksanaan lelang SBSN terakhir di kuartal II tahun 2016, yakni pada tanggal 21 Juni 2016, pemerintah telah menerbitkan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp113,24 triliun. Diharapkan, di akhir kuartal ketiga ini, nilai Sukuk yang bisa dicapai dapat menyaingi nilai yang telah diperoleh pada kuartal sebelumnya.

Di Indonesia, saat ini sukuk mulai banyak dilirik oleh banyak investor mengingat Indonesia adalah  tempat cocok untuk jadi pusat pembiayaan dari sukuk dengan segala kelebihan komunitas Muslimnya, yang berjumlah kurang lebih 250 Juta jiwa. Dengan memaksimalkan potensi pasar di Indonesia saja, sebetulnya para investor tidak perlu lagi mencari tempat untuk berinvestasi saking besarnya potensi keuangan syariah dalam hal ini obligasi syariah di negeri ini.

Peran pemerintah untuk aktif di pasar sukuk global dan menciptakan acuan, karena sebelumnya korporasi tak punya acuan, sehingga tidak ada gambaran biaya bagi calon penerbit sukuk, dinilai telah membuka jalan bagi korporasi untuk ikut berandil di dalamnya. Lebih dari itu, imbal hasil sukuk global Indonesia yang berkisar tiga hingga lima persen mendapatkan nilai yang cukup bagus oleh para pengamat, selain juga investor selalu akan melihat siapa penerbitnya.

Berbicara sukuk di pasar global, tercatat total emisi sukuk internasional berkembang pesat dari tahun ke tahun. jumlah dan jenis instrumen sukuk pun juga terus berkembang, dari semula hanya dikenal sukuk al ijarah berkembang menjadi 14 jenis sukuk sebagaimana ditetapkan oleh The Accounting and Auditing Organization of Islamic Financial Institutions (AAOIFI). adapun investor sukuk, tidak lagi hanya terbatas pada investor islami, karena pada saat ini sebagain besar investor sukuk justru merupakan investor konvensional. (alp/dbs)

 


Back to Top