Branding Awarness, Kunci Sebarkan Kelezatan Kuliner Halal Indonesia

(gomuslim). Dewasa ini, tren masyarakat dalam memenuhi kebutuhan perut mulai bergeser ke arah konsumtif atau biasa disebut budaya makan di luar. Menurut hasil survey beberapa tahun yang lalu, produk makanan dan minuman (mamin) menjadi barang konsumsi harian yang paling banyak dibeli oleh konsumen yaitu sebesar 81 persen. Disusul produk Personal Care sebanyak 10,6 persen dan produk Home Care sebanyak 8,4 persen. Tentu data ini dapat menjadi momentum yang dapat mendukung pariwisata halal Indonesia melalui promosi kuliner halal Indonesia.

 

 

Kuliner halal Indonesia harus diakui masih kalah mendunia dibanding kuliner halal dari negara-negara lainnya seperti masakan tradisional khas Pakistan, India, Malaysia, Turki, dan lain sebagainya. Hal ini harus diakui pula bukan karena masakan Indonesia dari segi kualitas tertinggal jauh dengan negara lainnya. Justru, kuliner halal Indonesia secara matematis seharusnya bisa menguasai pasar kuliner halal dunia.

Terbukti, bumi nusantara dahulu menjadi pusat perhatian dunia dengan rempah-rempahnya yang berlimpah sebagai bahan pelengkap makanan dan lainnya. Rempah-rempah itulah yang akhirnya menjadi ciri khas kuliner halal Indonesia yang diburu oleh banyak orang di seluruh dunia.

Sejak 2012 lalu, Indonesia memang sudah mulai menggencarkan wisata halal dalam negeri dengan berbagai cara. Sebut saja promosi ke berbagai negara, seperti Inggris, Amerika, Australia, dan negara lainnya. Begitupun juga dengan kuliner halal yang mendapatkan respon positif di negara-negara non-Islam.

Dengan promosi-promosi yang dilakukan, diharapkan dapat menciptakan Branding Awarness kuliner Indonesia dan Indonesia itu sendiri kepada masyarakat dunia. Namun, walau bagaimanapun juga, untuk memperkokoh Branding Awarness tersebut perlu adanya usaha di bidang yang lain oleh pemerintah.

Terkait berbagai kelemahan Indonesia dalam promosi wisata halal, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengakui banyak yang harus dibenahi Indonesia yang sebetulnya memiliki potensi besar sebagai negara Muslim terbesar. Kata Arief, inilah kekuatan sekaligus kelemahan Indonesia. Potensinya besar namun performa juga belum cukup baik.

 

 

Menpar menyebut dalam konteks wisata halal, yang dicari wisatawan bukan sekadar jumlah muslim mayoritas di tempat tujuan wisata. Tapi di dunia, yang melayani yang lebih baiklah yang diakui. Dia mencontohkan bagaimana Singapura yang bukan anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) dan sebagai negara yang mayoritas non-muslim justru diakui sebagai destinasi halal dengan peminat tertinggi. Arief juga menyebut petugas imigrasi adalah garda depan yang menampilkan citra wisata Indonesia. Solusi yang bisa dilakukan kata Menpar adalah Indonesia harus menggunakan standar global dalam melihat aspek-aspek wisata halal.

"Semua harus pakai aturan global standard jika ingin menjadi global player, jangan debat semaunya sendiri. Selain menggunakan standar global ini, kita akan menargetkan pada tahun 2017 Indonesia bisa mengalahkan Malaysia sebagai pesaing wisata halal, yang secara emosional memang dekat dengan Indonesia. Sementara pada 2019 akan mengalahkan Thailand dari segi profesionalitas penanganan wisatawan. Karena itu, kita harus mengutamakan konteks dulu, bukan sekadar konten wisata," papar Menpar Arief, seperti dilansir dari publikasi resmi PesonaIndonesia.


Back to Top