Pikat Wisatawan Muslim, Taiwan Serius Kembangkan Wisata Halal

(gomuslim). Tak mau tertinggal dengan negara lain di dunia dalam hal pariwisata, Taiwan juga mulai serius mengembangkan konsep wisata halal untuk wisatawan muslim. Dalam beberapa tahun terakhir Taiwan telah mengembangkan lingkungan wisata yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan wisatawan muslim dengan menyediakan ruang sholat, hotel yang memasang bidet di toilet, pedoman izin pelaksanaan ibadah sholat dan menyediakan Aquran di kamar, serta mendorong restoran untuk mendapatkan sertifikat halal. Semuanya dilakukan untuk membangun lingkungan wisata yang ramah bagi wisatawan muslim saat berkunjung ke Taiwan.

Direktur Taiwan Tourism Bureau KL Office David Tsao menjelaskan tercatat ada 88 restoran di Taiwan yang sudah bersertifikasi halal. Sementara dari potensi pasar di Indonesia yang bisa digarap yakni, diperkirakan ada 10 juta warga keturunan Tiongkok di Indonesia dengan Surabaya sebagai kota kedua dengan jumlah penduduk keturunan Tiongkok terbanyak dan warga lokal yang sudah mengenal budaya Taiwan.

Selain menggarap wisata muslim, Taiwan Tourism Bureau juga mempromosikan tagline wisata tahun 2016 yakni Time for Taiwan dengan 6 tema utama rekomendasi perjalanan selama berkunjung ke Taiwan mulai dari Time To Eat, Time To Shop, Time for Love, Time to Marvel, Time for Nature dan Time for Two Wheels. Taiwan Tourism Bureau targetkan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Taiwan sampai akhir tahun 2016 sebesar 200 ribu orang. Tahun lalu, wisatawan Indonesia ke Taiwan sebesar 177.743 orang. Guna mencapai target tersebut, Taiwan Tourism Bureau aktif melakukan promosi pariwisata ke Indonesia termasuk ke Surabaya rutin setiap tahun.

Sebanyak 85 unit bisnis yang berhubungan dengan wisata dan fasilitas pendukung telah mendapatkan sertifikasi halal secara nasional. Halalfocus menyebutkan kawasan wisata yang telah tersertifikasi halal antara lain Museum Istana Nasional, Taipei 101, dan hotel serta restoran di tempat-tempat wisata seperti Alishan dan Sun Moon Lake. Beberapa tempat di Taiwan juga menyediakan ruang shalat bagi wisatawan Muslim, misalnya di Stasiun Utama Taipei, Stasiun Taichung, dan Bandara Internasional Taoyuan. Fasilitas ini juga akan dibangun di area-area layanan lain.

Direktur Hubungan Internasional dari Biro Pariwisata di bawah Kementrian Perhubungan dan Komunikasi Taiwan  Eric K. Y. Lin mengatakan upaya ini menggambarkan kepedulian pemerintah terhadap segmen wisata halal yang kini tengah tumbuh sebagai bagian dari industri pariwisata internasional. Kata Eric, kesuksesan lembaganya juga dibuktikan dengan prestasi Taiwan sebagai 10 besar tujuan wisata terbaik bagi kalangan Muslim di luar OKI yang diberikan oleh Global Muslim Travel Index tahun lalu.

Selain itu, manajemen Taipei 101 kini tengah mempertimbangkan adanya fasilitas ramah anak Muslim di gedung tersebut. Landmark ini ditargetkan akan mengundang pendapatan dari pengunjung Muslim kalangan atas senilai 200 hingga 300 dolar AS per hari, selama kunjungan enam hari. Pada tempat tersebut akan membuka ruang doa dan fasilitas wudhu di mal atau observatorium.

Menurut data statistik biro pariwisata Taiwan, terdapat sekitar 200 ribu wisatawan dari negara-negara mayoritas Muslim pada 2015. Jumlah ini naik 11,1 persen dari tahun sebelumnya. Taiwan masih dapat memanfaatkan pasar ini, mengingat umat Islam merupakan seperempat bagian dari populasi dunia. Projek Kementrian Luar Negeri untuk menyederhanakan peraturan visa bagi kelompok wisatawan kelas atas di Asia Tenggara yang diberlakukan November tahun lalu efektif meningkatkan jumlah pengunjung ke negara ini. (fau/halalfocus/dbs)

 

 


Back to Top