Haji 1437 H/ 2016 M

Jelang Puncak Haji: 68 Wafat, Puluhan Jemaah Lansia Tersesat Jalan Hingga Dimensia Dikira Perang Zaman Jepang

(gomuslim). Hingga Rabu hari ini (07/09/2016 atau tiga hari menjelang pergerakan Jemaah menuju Arafah, berdasarkan data pada Sistem Informasi Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kesehatan Kementerian Agama RI, jumlah total jemaah meninggal dunia di Arab Saudi menjadi 68 orang. Puluhan jemaah lain masih dalam perawatan, sementara bersamaan dengan makin padatnya Masjidil Haram, banyak ditemukan jemaah lanjut usia tersesat jalan kembali ke pemondokan dan beberapa lagi tergolek lemah di pinggir-pinggir masjid. Petugas haji sigap menangani, sementara Menteri Agama menganjurkan jemaah untuk istirahat agar sehat dan bugar saat puncak haji.

Laporan terkini pada Selasa malam, empat jemaah haji Indonesia meninggal dunia, yaitu Sikan bin Bait Sabut (59), Nana Supena binti Uba R (64), Budiyanto bin Lihan Suliman (57), dan Suhaimi bin Jamain Abdul Gafur (62).

Penyebab kewafatan Sikan bin Bait Sabut, jemaah bernomor paspor B3722797 yang tergabung dalam kloter 05 Embarkasi Surabaya (SUB 05) ini adalah penyakit pernafasan di klinik Sektor Mekkah.

Nana Supena binti Uba R jemaah dari kloter 10 embarkasi Jakarta Bekasi, pemegang paspor B3702921 meninggal dunia karena penyakit jantung dan pembuluh darah di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah.

Budiyanto bin Lihan Suliman jemaah dari kloter 26 embarkasi Surabaya, pemegang paspor B3702921, meninggal di RS Madinah. Sementara itu Suhaimi bin Jamain Abdul Gafur jemaah kloter 09 embarkasi Padang, pemegang paspor B2805568, meninggal dunia pada Selasa (6/9) pukul 01.45 waktu Arab Saudi di klinik sektor Mekkah. Kedua jemaah meninggal dunia karena penyakit gangguan jantung dan pembuluh darah.

Pemerintah sudah menjamin bahwa semua jemaah yang wafat di Arab Saudi bahkan sejak di embarkasi akan dibadalkan hajinya.

Sebelumnya, 64 jemaah dilaporkan meninggal dunia di Arab Saudi. Ini nama-nama jemaah yang meninggal antara lain:

  1. Senen bin Dono Medjo (79) dari kloter 007 Embarkasi Surabaya
  2. Siti Nurhayati binti Muhammad Saib (68) dari kloter 002 Embarkasi Aceh
  3. Martina binti Sabri Hasan (47) kloter 006 Embarkasi Batam.
  4. Khadijah Nur binti Imam Nurdin (66) kloter 004 Embarkasi Aceh
  5. Sarjono bin Muhammad (60) kloter 006 Embarkasi Batam
  6. Oom Eli Asik (66) dari kloter 003 Embarkasi Jakarta-Bekasi
  7. Dijem Djoyo Kromo usia 53 tahun dari kloter 018 Embarkasi Solo.
  8. Nazar Bakhtiar bin Batiar yang berusia 82 tahun dari kloter pertama Embarkasi Padang
  9. Juani bin Mubin Ben yang berusia 61 tahun, jemaah dari kloter 006 Embarkasi Aceh
  10. Asma binti Mian yang berusia 78 tahun.
  11. Tasniah binti Duratim Dakem (73) jemaah dari kloter tiga Embarkasi Padang
  12. Jamaludin bin Badri Kar (58) jemaah dari kloter lima Embarkasi Palembang.
  13. Abdullah bin Umar Gamyah (68) dari kloter pertama Embarkasi Aceh
  14. Rubiyah binti Mukiyat Muntari (71) dari kloter 20 Embarkasi Surabaya
  15. Siti Maryam binti Ismail (60) dari kloter pertama Embarkasi Solo.
  16. Muhammad Tahir bin Abdul Razak (68) dari kloter 11 Embarkasi Batam
  17. Minawar bin Kasino Kamujo (76) dari kloter 15 Embarkasi Surabaya
  18. Din Azhari Nurina bin Sadid (73) dari kloter 5 Embarkasi Padang.
  19. Mohammad Nasir bin Abdul Hamid (64) dari kloter 10 Embarkasi Batam
  20. Noorsi Fatimah binti M Saleh Mardiwiyono (60) dari kloter 9 Embarkasi Balikpapan
  21. Joko Pramono bin H Ali Pramono (41) dari kloter 26 Embarkasi Surabaya
  22. Manih binti Siyan Muhammad (71) dari kloter 006 Embarkasi Jakarta Pondok Gede.
  23. Imam Rifai bin Ngali (60) dari embarkasi Palembang kloter 005
  24. Suhaimi bin kadir Abdillah (62) dari embarkasi Medan kloter 005
  25. Muhammad Arifin bin Ambo Angka dari jemaah haji khusus
  26. Zuri Mukanan bin Muhrin Kasrih (66) dari jemaah haji khusus
  27. Wawan Barnawi K bin Casmita (62) dari embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 036.

Selain itu, dilaporkan juga bahwa jumlah Jemaah haji lanjut usia tahun ini masih terlihat banyak dan cenderung mendominasi. Sebagian memang sudah menggunakan kursi roda, tetapi tidak sedikit yang tetap berjalan normal normal meski usia sudah dia tas 75 tahun.

Ada juga juga sebagian Jemaah lanjut usia yang terkena sindrom dimensia, seolah masih berada di kampung halamannya sendiri, sehingga kadang bicara kepada teman atau petugas haji, bahwa dia belum melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan selama di rumah.

"Padi saya belum sempat dijemur ...karena kemarin saya baru dari Sumatera." Kakek berusia sekitar 70-an tahun itu bergumam kepada petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang memintanya beristirahat dulu di lobi Hotel Al Tayseer Towers Hotel, seperti dikutip Antara, akhir pecan ini.

Masih mengenakan pakaian ihram lengkap, jemaah yang berangkat melalui embarkasi Jakarta-Bekasi kelompok terbang (kloter) 61 itu sepintas lalu terlihat sehat kecuali beberapa rona merah di tubuhnya, yang tampak bagai jejak sengatan mentari.

kakek ini ditemukan oleh petugas terpisah dari rombongannya di kawasan Masjidil Haram, kakek bernama Suhendi itu tidak tampak lemas kelelahan sebagaimana rekan-rekannya yang lain. Namun, cara dia berbicara menunjukkan, salah satu ciri-ciri orang yang mengalami disorientasi atau mengalami demensia.

Ia dengan lancar bercerita mengenai pengalamannya bertempur melawan tentara Jepang. Namun, sama sekali tidak menyadari bahwa dia tengah berada di Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji.

Ingatannya selalu membawanya ke Pangandaran, kampungnya, tempat dia meninggalkan hasil panennya yang belum dijemur atau puluhan ternaknya. Tetapi, berbeda dengan beberapa jemaah yang terkadang menjadi agresif ketika terpisah dari rombongannya, kakek Suhendi terlihat tenang.

Seperti dilaporkan Media Center Haji dari Mekkah, ketika ditemukan, Kakek ini dipastikan telah berada di kompleks Masjidil Haram selama sekitar 10 jam. Ia  belum beristirahat semenjak mendarat di Jeddah setelah terbang sekitar sembilan jam dari Tanah Air.

Hari-hari menjelang ritual haji dimulai pada 8 Dzulhijjah atau hari Tarwiyah, Jemaah dari seluruh dunia telah berkumpul di Mekkah. Ratusan Jemaah dari Indonesia dilaporkan salah jalan keluar masjid. Banyak di antaranya yang 'tumbang' karena kepanasan dan kelelahan karena terjemur sinar matahari.

Tidak sedikit jemaah lanjut usia yang terpisah dari rombongannya ketika ditemukan di salah satu sudut masjid itu sudah dalam kondisi sangat lemas sehingga tidak lagi mampu berdiri apalagi berjalan.

Menteri Agama sendiri sudah mengumumkan bahwa mulai Rabu hari ini, layanan bus shalawat yang mengantar Jemaah dari pemondokan ke Masjidil Haram dihentikan agar Jemaah dapat beristirahat sebelum berangkat ke Arafah. Selain itu, petugas transportasi juga bersiap mengangkut Jemaah ke Arafah agar semua dalam keadaan sehat dan bugar. (mm/bs)


Back to Top