Dikebut, Proyek Pembangunan Museum Islam Nusantara di Jombang Segera Rampung Tahun Ini

(gomuslim). Julukan Jombang sebagai kota santri membuatnya punya daya tarik tersendiri. Hal tersebut berkaitan dengan  jumlah Pesantren, Kyai besar dan posisinya sebagai basis pendirian dan pergerakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul ‘Ulama yang menjadikan kota ini sebagai rujukan para santri yang ingin memperdalam ilmu agama. Salah satu Pahlawan Nasional yang juga Mantan Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid atau lebih akrab disapa Gus Dur yang wafat pada tahun 2009 juga lahir, besar dan akhirnya dimakamkan di kota ini. Sejak 2014, kota ini juga dipilih sebagai tempat pembangunan mega proyek Museum Islam Nusantara satu-satunya di Indonesia.

Pengerjaan proyek Museum Islam Nusantara Hasyim Asyari (MINHA) yang dilakukan Pemerintah Pusat ini berlokasi di kawasan Makam Presiden Keempat K.H. Abdurrahman Wahid dan masih berlangsung sampai saat ini. Menurut Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jombang  Imam Sutrisno, jika mengacu perencanaan seharusnya pembangunan museum sudah selesai sejak akhir tahun lalu. Kata Imam, dulu dilelang di daerah sampai tiga kali, setelah itu dikembalikan ke pusat karena tidak ada rekanan yang memenuhi syarat. Target penyelesaian lalu berubah menjadi akhir tahun ini.  Imam juga mengatakan setelah selesai dibangun pengelolaan museum akan diberikan kepada Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, melalui Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. Adapun Pemerintah Kabupaten Jombang hanya berhak mengelola kawasan parkirnya saja.

Pembangunan saat ini sudah mencapai 70 persen, atau sudah merampungkan fisik dan struktur utama museum. Sementara pengerjaan yang berlangsung saat ini menyentuh bagian dalam museum atau desain interior dan diharapkan bisa rampung tahun ini. MINHA yang bediri di sisi barat kawasan Makam Presiden Keempat KH Abdurrahman Wahid ini merupakan megaproyek dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Konsep atap bangunan MINHA direncanakan berbentuk piramida atau limas dan terbelah menjadi dua bagian. Sebagaimana masterplan yang dibuat, museum dibuat terintegrasi dengan bangunan lain di kawasan makam Gus Dur, dan sentra pedagang yang berada di sisi utara Pondok Pesantren Tebuireng.

Proyek ini memakan lahan seluas 3,5 hektar. Area utama museum terdiri atas lahan parkir, halaman, dan bangunan inti yang mencapai luas sekitar 1,5 hektar. Sisanya dijadikan sebagai kawasan penyangga. Proyek ini digarap PT Brantas Abipraya, dibagi dalam dua tahap pengerjaan. Tahap pertama dikerjakan mulai Oktober 2014 hingga pertengahan 2015. Adapun anggaran dari APBN senilai Rp 7,8 miliar untuk tahap pertama itu, digunakan untuk membangun fondasi, atap, kolom dua lantai, dan peninggian elevasi tanah. Sementara pengerjaan proyek tahap kedua yang dilakukan tahun ini dan menyerap Rp 20 miliar dari APBN yang digunakan untuk tata interior museum.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang Jawa Timur K.H. Sholahudin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah memaparkan tentang sejumlah fasilitas wisata religi di makam, sehingga peziarah dipastikan lebih nyaman saat berkunjung. Gus Sholah mengungkapkan museum tersebut sangat penting, sebab di dalamnya akan diisi tentang berbagai pengetahuan Islam.

"Kami berharap tahun depan museum selesai dibangun dan bisa diresmikan. Manfaat museum tersebut sangat penting," ungkap Gus Sholah, seperti dilansir dari publikasi SuaraPesantren.

Gus Sholah sebelumnya juga telah bertemu dengan Presiden Joko Widodo yang salah satunya membahas terkait dengan pembangunan fasilitas di Pondok. Presiden juga berkomitmen untuk membantu penyelesaian pembangunan museum di PP Tebuireng  Jombang tersebut.

Pembangunan museum di dalam lingkungan Pondok sudah hampir tuntas, namun, untuk isi dari museum nantinya akan dipenuhi secara perlahan. Untuk saat ini, diprioritaskan selesai pembangunan museum tersebut.  Adapun isi museum itu nantinya adalah benda-benda bersejarah soal perkembangan Islam di Nusantara, buku-buku, kitab pemikiran para ulama dan benda-benda lainnya. Museum tersebut nantinya akan menjadi rujukan dan referensi Islam Nusantara.

Besarnya antusias dan harapan pengunjung ini memberikan spirit positif untuk menyelesaikan area yang nantinya diharapkan menjadi ikon wisata religi dan pendidikan nasional dengan monumen keislaman dan museum Islam Nusantara. Museum  ini bisa menjadi sumber ilmu dan pembelajaran terkait histori Islam bagi generasi bangsa. (fau/suarapesantren/dbs)


Back to Top