Wow, Investor Arab Akan Buat Kawasan Khusus Laki-Laki dan Perempuan di Pulau Lombok

(gomuslim). Lombok semakin serius untuk menggalakan status sebagai penyandang gelar The World’s Best Halal Tourism Destination dan The World’s Best Halal Honeymoon Destination. Diperkirakan sekitar akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018, Lombok akan memiliki tempat wisata terbaru yang megah dan menarik untuk seluruh wisatawan dunia.

Hal itu didapati setelah Investor asal Arab Saudi, Akmal Saleem, mengonfirmasi bahwa pemimpin perusahaan Maarij Capital dari Kerajaan Arab Saudi tersebut akan membangun tempat wisata bagi para pelancong Muslim di salah satu pulau di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Meskipun demikian, ia belum dapat mengatakan luas lahan untuk lokasi liburan Muslim tersebut, namun dia merinci beberapa fasilitas yang akan dibangun, yakni hotel, restoran, kolam renang, yang seluruhnya berkonsep Islam.

"Kami akan membangun hotel bagi keluarga Muslim, restoran halal, dan kolam renang tertutup bagi perempuan," jelasnya, seraya menambahkan tempat liburan Muslim tersebut juga akan mempunyai sebuah perpustakaan.

Akmal Saleem melanjutkan, lokasi wisata ini akan berada di sebuah pulau yang terpisah sehingga nanti ada pantai khusus bagi kaum wanita dimana pria tidak boleh masuk.

"Akan ada juga pantai khusus pria dan pantai khusus keluarga. Semuanya terpisah satu sama lain," jelasnya.

Hal ini tentu sangat sejalan dengan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat yang juga sangat antusias untuk menjadikan Lombok kawasan yang ramah dan berkualitas dalam memanjakan wisatawan muslim dunia. Terbukti, beberapa waktu yang lalu, Pemda setempat mengumumkan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Pariwisata Halal di Lombok NTB.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi NTB Lalu Mohammad Faozal, awal tahun 2016 pemerintah daerah telah menyusun perda pariwisata halal. Katanya, Perda tersebut lahir justru didorong lahir dari DPRD, berarti secara politis pembangunan kepariwisataan berbasis wisata halal di NTB tidak ada masalah. Hal tersebut dikatakan Lalu akan memberi langkah yang pasti dalam pengembangan pariwisata halal. "Ketika kita sudah punya perda wisata halal, secara kebijakan dan budgeting kami aman sebagai operator pariwisata NTB," kata Faozal.

Selain itu, Pemprov NTB juga sudah bekerja sama dengan MUI membuka pusat informasi wisata halal yang ditempatkan satu lokasi dengan kantor MUI. L.M Faozal, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, mengkonfirmasi bahwa belum ada daerah lain kecuali NTB yang memiliki Perda untuk pariwisata halal.

Dalam Perda No. 2 Tahun 2016 tentang pariwisata halal, tertulis bahwa ruang lingkup pengaturan Pariwisata Halal dalam Peraturan Daerah ini meliputi destinasi, pemasaran dan promosi, industri, kelembagaan, pembinaan, pengawasan dan pembiayaan. Pengelola destinasi pariwisata halal harus membangun fasilitas umum untuk mendukung kenyamanan aktivitas kepariwisataan halal, seperti tempat dan perlengkapan ibadah wisatawan Muslim, serta fasilitas bersuci yang memenuhi standar syariah.

Adapun, industri yang menjual jasa dan produk kepariwisataan yang tidak berpatokan pada prinsip syariah, apabila bersedia menjadi industri berbasis pariwisata halal pun wajib menyediakan arah kiblat di kamar hotel, juga informasi masjid terdekat, tempat ibadah bagi wisatawan dan karyawan Muslim, keterangan tentang produk halal dan tidak halal, tempat wudhu terpisah antara laki-laki dan perempuan, sarana pendukung untuk melaksanakan sholat, serta tempat urinoir yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Pada hal penyediaan makanan dan minuman, industri wajib memiliki sertifikasi halal dan menjamin kehalalan yang disajikan. Sementara pada pengusaha SPA, sauna dan griya pijat yang halal maka wajib menyediakan ruangan perawatan untuk pria dan wanita secara terpisah, terapi pikiran dan olah fisik yang tidak melanggar syariah, terapis pria khusus untuk pria dan terapis wanita khusus untuk wanita, serta memiliki sarana yang memudahkan untuk sholat. (alp/dbs)


Back to Top