Tanpa Sebut Asal Negara, Otoritas Saudi Deportasi 46 Jemaah Haji Pengguna Paspor dan Visa Palsu

(gomuslim). Penipuan terhadap jemaah haji sering terjadi, banyak aksi yang dilancarkan oleh pelaku. Dari pemalsuan dokumen sampai melarikan uang jemaah. Belum lama ini, 177 jemaah calon haji  asal Indonesia ditahan otoritas Filipina karena menggunakan paspor Filipina dengan prosedur yang tidak resmi. Hal ini mengakibatkan kerugian jemaah yang tidak hanya bersifat materi, pasalnya selain kehilangan uang ratusan juta rupiah mereka pun ditahan oleh Departemen Imigrasi negara lain.

Terkait dengan pemalsuan dokumen jemaah haji, baru-baru ini Direktur Jenderal Imigrasi Saudi Sulaiman bin Abdul Aziz Al Yahya menjelaskan bahwa, 46 jemaah haji ditahan oleh petugas pemeriksa paspor karena terbukti menggunakan paspor dan visa haji palsu. Mereka ditangkap di Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAA) Jeddah dan akan dideportasi. Sebagaimana yang dilansir dari Sky News Arabia, saat dimintai keterangan mengenai negara asal jemaah yang akan dideportasi, pihak imigrasi menolak menyebut nama-nama negara asal mereka.

“Sebenarnya mereka ini tidak mengerti bahwa paspor dan visa yang ada pada mereka adalah palsu.” Ujar Yahya sembari menjelaskan bahwa mereka adalah korban penipuan dari penyelenggara haji illegal. Peristiwa ini hampir mirip dengan 177 korban jemaah haji Indonesia yang akan diberangkatkan melalui Filipina. Mereka juga korban dari biro perjalanan haji yang tidak bertanggung jawab, karena pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang cukup terkait prosedur pemberangkatan haji.

Dokumen haji adalah bagian dari syarat dibolehkannya jemaah melakukan ritual haji di Tanah Suci. Kelengkapan dokumen tidak terbatas pada paspor dan visa saja, jemaah juga diwajibkan memiliki izin haji (tashrih).  Terkait dengan hal ini, pemeriksaan di jalur darat diperketat. Petugas keamanan dikerahkan untuk memeriksa tashrih jemaah agar dapat memasuki area Tanah Suci.

Sanksi bagi pelanggar yang tidak membawa tashrih tidak hanya dikenakan kepada para calon haji, supir yang membawa jemaah tanpa tashrih juga akan didenda dan diberhentikan kerja untuk sementara. Peraturan ini diberlakukan karena supir yang membawa jemaah tanpa tashrih dianggap telah membantu pihak yang melanggar aturan.

Peristiwa yang dialami oleh korban penipuan oknum tertentu, semestinya menjadi pelajaran bagi calon jemaah haji pada tahun berikutnya. Tidak hanya jemaah, pemerintah yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan haji juga harus lebih giat lagi mensosialisasikan informasi prosedur pemberangkatan haji. Jika hal ini terus dibiarkan maka bukan hal mustahil akan muncul korban-korban berikutnya di tahun yang akan datang. (fh/SKA)


Back to Top