Setelah 44 Tahun Tidak ke Mekkah, Jemaah Haji Tunisa Takjub Lihat Perubahan Drastis Kota Ini

(gomuslim). Lebih dari 40 tahun lalu, Shalahuddin As Sa’fi asal Tunisia berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ia mengaku bahwa pertama kali berangkat ke Mekkah pada 1972, ketika itu Sa’fi masih berumur 25 tahun. Kemudian setelah 44 tahun berlalu, tepatnya pada tahun 2016 pria asal Tunisia ini kembali melaksanakan ibadah ibadah haji.

Sa’fi kagum dengan situasi yang terlihat saat ini, kekagumannya muncul ketika melihat banyaknya perubahan yang terjadi dalam 4 dekade terakhir. Kemungkinan besar Sa’fi merupakan salah satu jemaah yang mengulang kembali berhaji setelah puluhan tahun berlalu.

Sa’fi menganggap bahwa perubahan penyelenggaraan haji terjadi secara drastis. Jika pada saat pertama ia berangkat ke Mekkah, perjalanan yang dirasakan sungguh membosankan. Pria ini harus menempuh 10 hari perjalanan dari Tunisia ke Saudi melalui jalur laut. Saat itu ia menggunakan Kapal Laut Al Habib milik Tunisia. Setibanya di pelabuhan Jeddah, jemaah harus dikarantina selama 3 sampai 10 hari untuk pemeriksaan kesehatan dan memastikan tidak adanya jemaah yang mengidap penyakit menular.

“Jemaah haji ketika itu menggunakan transportasi yang beragam untuk dapat sampai ke Mekkah dari Jeddah. Sebagian ada yang menggunakan mobil sewa, bus dan unta sekadar untuk melakukan manasik. Saat itu tidak ada fasilitas dari pemerintah, jemaah haji  membawa sendiri tenda untuk tinggal di Tanah Suci. Sedangkan sekarang kondisinya jauh berbeda dengan tersedianya bus pengangkut jemaah haji, AC dan kereta api,” kenang Sa’fi seperti yang dikutip Al Arabiya.

Selanjutnya setelah melewati tahap pemeriksaan medis, jemaah diberangkatkan ke area Tanah Suci menggunakan berbagai moda transportasi sesuai dengan jumlah dana yang mereka miliki. Ada yang menggunakan mobil ada pula yang menggunakan unta sebagai transportasi menuju Mekkah.  

Kondisi 44 tahun silam sangat kontras dirasakan Sa’fi ketika pada tahun ini ia kembali lagi ke Mekkah. Saat ini transportasi banyak tersedia, apalagi transportasi untuk kepentingan haji. Pemerintah Saudi telah menyediakan fasilitas yang memadai untuk kepentingan ibadah haji.

Jemaah haji pada tahun 1970-an, banyak yang membawa bahan pangan khususnya gandum, kemudian ketika hendak menuju Arafah banyak jemaah haji yang duduk di atap mobil, "Kami menempatkan barang-barang kami di atap mobil dan kemudian duduk di atasnya, saat itu kami ingin melihat Gunung Arafat dan menyentuh Tanah Suci ini," ujar Sa’fi.

Kemudian Sa’fi juga melihat perbedaan pengaturan pengambilan air Zamzam di sekitar Masjidil Haram. Banyaknya keran air Zamzam yang tersedia telah memudahkan jemaah untuk memperoleh air yang penuh berkah tersebut. Namun saat pertama kali ke Mekkah, Sa’di bercerita bahwa jemaah kala itu harus menimba sendiri air Zamzam, terkadang ada relawan yang menawarkan botol untuk digunakan sebagai wadah air untuk diminum.

Sedangkan sekarang ini, cukup dengan membuka keran air dan menadahnya dengan cangkir yang telah tersedia bahkan ada petugas khusus yang membagikannya dalam bentuk kemasan.

Kondisi perubahan Masjidil Haram dan area Tanah Suci memang terjadi secara drastis dalam 4 dekade terakhir. Namun dalam perubahan tersebut, tidak sedikit situs bersejarah yang berhubungan dengan perkembahan Islam harus digusur dan bahkan ada yang dihilangkan. Seperti halnya rumah Abu Bakar Sidiq r.a. yang kini telah berubah menjadi sebuah hotel.

Pada akhirnya, perubahan Kota Mekkah termasuk area Tanah Suci, menimbulkan kebijakan baru terkait penyelenggaraan ibadah haji. Jika pada tahun 1970-an, tidak ada pembatasan kuota haji, sehingga tidak ada antrian panjang untuk menunggu waktu keberangkatan. Bahkan pada saat itu tidak ada aturan jemaah haji harus membawa izin haji (tashrih) untuk dapat masuk ke area Tanah Suci. (fh/Alarabiya/AN)


Back to Top