Haji 1437 H/ 2016 M

Sejak Ada Kereta Listrik, 'Kesemrawutan' Transportasi Haji Mulai Terurai

(gomuslim). Keberadaan kereta listrik yang membentang antara Kota Mekkah dan Arafah telah mengubah banyak hal. Waktu tempuh dari hitungan jam ke menit, terjadi distribusi kepadatan Jemaah yang sebelumnya menumpuk di jalan raya dengan kendaraan mobil dan bus, massa berdesakan dalam kemacetan dan yang lebih penting lagi, pengaturan transportasi Jemaah haji jauh lebih rapi dan terkontrol.

Benar bahwa sejak tahun 2009 pemerintah Kerajaan Arab Saudi membangun jalur kereta listrik yang menghubungkan Kota Mekkah  ke tempat wukuf di padang Arafah, Muzdalifah dan Mina. Juga dibangun jalur ke Jeddah dan Madinah untuk menjawab kebutuhan transportasi publik Jemaah umrah dan haji yang terus meningkat.

Direktur Jenderal perusahaan Cina yang menangani proyek Haj Metro, Hao Koi Lin, mengatakan proyek terintegrasi dengan berbagai spesifikasi seperti rekayasa skeletal di AS. "Selain itu, ada spesifikasi lokal yang ada di jalan dan bangunan, serta spesifikasi Eropa di sistem operasi," kata Lin seperti dilansir Arab News, Kamis (08/09/2016).

Kehadiran kereta listrik dari Kota Mekkah ke Arafah untuk keperluan haji ini dapat memangkas waktu tempuh hanya 15 menit untuk jarak 18,5 KM dari stasiun Mekkah ke stasiun di Arafah, yang saat musim haji umumnya ditempuh selama 2-4 jam dengan bus. Dalam keadaan normal biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit dengan bus, tetapi dengan kereta kapan saja hanya membutuhkan waktu 15 menit.

 

 

“Kereta listrik ini memegang peranan penting dalam mobilisasi Jemaah dari Arafah ke jamarat di Mina yang sebelumnya paling memusingkan karena macet dan ruwet,”ujar

Hingga saat ini penggunaan kereta listrik untuk keperluan haji ini lebih banyak untuk Jemaah dari Turki, Eropa dan Asia Tengah, sementara Jemaah haji dari Asia Tenggara masih menggunakan bus. Pembagian ini semata-mata untuk distribusi atau penyebaran populasi agar tidak menumpuk di jalur yang sama dalam waktu bersamaan.

The Mashaer Railway at the holy site atau Kereta 'Al-Mashaer Al-Muqaddassah' atau 'Makkah Metro Line' atau biasa disebut Haj Metro, merupakan lompatan terbesar dari dunia angkutan jemaah haji.  Proyek ini menelan anggaran 1,78 miliar dolar AS yang dibangun perusahaan Cina dengan tenaga kerja Cina sebanyak 14.000 orang.  Proyek double track (rel ganda) ini dengan kapasitas sebanyak dua belas gerbong. Setiap gerbong dapat mengangkut sebanyak 250 jemaah dengan fasilitas kursi untuk 50 orang, dan 200 orang sisanya berdiri, sehingga dalam sekali jalan dapat mengangkut sekitar 3.000 jemaah.

Proyek kereta listrik untuk jarak sejauh 18,2 kilometer ini diluncurkan selama musim haji 2010 dan mulai digunakan sejak tahun 2014, dengan masing-masing tempat titik utama memiliki tiga stasiun yang dilengkapi eskalator dan tujuh jalur, serta gerbang yang mampu mengenali pemegang tiket. Stasiun yang ada memiliki ruang tunggu bersarana keselamatan dan penyejuk ruangan, serta dapat menampung lebih dari 3.000 jemaah haji.

Haj Metro menghubungkan 9 stasiun utama, tiga di Arafah, tiga di Mina dan tiga di Muzdalifa, dengan stasiun akhir di lantai empat jembatan Al Jamarat.  Haj Metro adalah salah satu yang terpanjang di dunia, dengan setiap kabin berukuran 25 meter dan mengangkut 72.000 penumpang per jam pada kesepatan 80-120 per jam. Kereta dioperasikan menggunakan remot pengendali, dan mengangkut lebih dari 3.500 jemaah dalam perjalanan tunggal dan jalur terangkat dari lantai antara 9-45 meter di Al Jamarat. 

 

 

Proyek Kereta Haji Mashaer atau Metro Haj ini merupakan  lompatan kuantum dalam sejarah pengangkutan jemaah haji dan salah satu proyek terbesar yang dicapai pemerintah Arab Saudi selama beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan keterangan dan tampilan demonstrasi yang diunggah di youtube, kereta ini tanpa pengemudi alias dioperasikan secara otomatis dengan remote control dan mengangkut lebih dari 3.500 jemaah sekali tarik trayek. (https://www.youtube.com/watch?v=Qm2KkKHiL1A)

Sementara itu, untuk jalur dari Mekkah, Jeddah dan Madinah juga dalam tahap penyempurnaan akhir. Diperkirakan, kelak transportasi ini akan mengurangji jumlah bus di jalan-jalan, mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas dan mengurangi jejak polusi udara. (mm)


Back to Top