Haji 1437 H/ 2016 M

Khutbah Wukuf: Seperti Saat Berihram, Semua Manusia Sama

(gomuslim). Khutbah wukuf di Arafah pada musim haji 2016 ini mengambil tema keutamaan wukuf yang tercermin dalam ‘ihram’ yaitu kesamaan manusia di hadapan Allah SWT dan hanya iman dan taqwa yang membedakan derajat kemuliannya.

Bertindak sebagai khatib wukuf adalah Wakil atau Naib Amirul Haj KH Miftahul Akhyar. Khutbah disampaikan di tenda Misi Haji Indonesia, Ahad siang, (11/09/2016).

Disampaikan, wukuf dilakukan dalam keadaan mengenakan ihram, dan sejak mengenakan kain putih itu mulai berlaku sejumlah larangan dan anjuran amalan utama selama di Arafah.  Saat berihram tidak boleh melakukan perbuatan yang mengingatkan pada profesi, posisi, kelas sosial dan ras. Demikian diurai wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.

Karena itu dalam keadaan berihram terdapat sejumlah larangan demi menuju kemabruran. Saat ihram seseorang tidak dibolehkan mengenakan wewangian agar tidak teringat kepada kesenangan-kesenangan di masa lalu, padahal dalam ibadah lain seperti shalat justru disunnahkan menggunakan wewangian. "Saat ini kita berada didalam lingkungan spiritual. Oleh karenanya gunakanlah wewangi cinta," lanjutnya.

Saat berihram tidak boleh membunuh binatang, termasuk serangga, juga tidak diperbolehkan mencabut atau mematahkan pepohonan. Ini mencerminkan agar setiap membunuh kecenderungan-kecenderungan yang agresif dengan bersikap damai terhadap alam. "Kita saat ini sama, tiada beda dengan yang lain," ujarnya.

Sementara larangan jangan berburu mengandung makna agar setiap manusia bersikap baik kepada makhluk lainnya. Larangan bercumbu dan berhubungan badan mengandung makna agar umat memperoleh cinta sejati yang hakiki.

Ia juga mengungkapkan makna larangan berdandan saat ihram untuk menunjukkan kondisi seseorang apa adanya. "Jangan berlaku curang, bertengkar, mencaci-maki, atau bersikap sombong. Jangan jahit pakaian. Hindarkan perbuatan yang membuat kita berbeda dengan orang lain," katanya.

Larangan lainnya, tidak boleh memotong rambut, memangkas kuku, menggunakan bedak, minyak rambut, darah tertumpah, dan ijab kabul baik untuk diri sendiri maupun orang lain atau mewakilkannya.

"Lantaran semua atau sebagian itu manakala masih kita lakukan berarti masih mengingat, melirik dan mementingkan diri (syahwat). Padahal semuanya telah dilepas di Miqat, tentu masih ada larangan-larangan lainya yang perlu kalian cermati. Agar kembali ke-negeri kita betul-betul telah menjadi manusia yang baru yang mampu mengaplikasikan pelajaran yang amat penting ini sebagai konsekuensi haji yang Mabrur," ujarnya.

Semua larangan tersebut bermula dari miqat makani dan zamani yang telah ditentukan. Segala keakuan dan kecenderungan yang mementingkan diri sendiri harus dikubur di Miqat. Di Miqat jemaah mengalami kematian (nafsu/diri) dan kebangkitan (jiwa) kembali.

 "Di miqat kemarin atau kemarin dulu, apapun ras dan suku kita, lepaskanlah semua pakaian sehari-hari di luar ihram. Tinggalkan semua pakaian itu di miqat," kata Kiai dari Jawa Timur ini.

Seperti Nabi Adam dan para anbiya dan rasul, bahkan para ulama, auliya, dan manusia-manusia shaleh di sisi Allah SWT, yang semuanya melakoninya saat berhaji, seperti miqat, berwukuf, bertwaf, sa'i, melempar jamarat dan yang lainnya, seluruh Jemaah diharapkan dapat meneladani amalan para pendahulu tersebut yang disebut-sebut dalam kitab suci agama-agama samawi. Semua tampak sama dalam balutan kain ihram.

"Beginilah kiranya pemandangan yang akan disaksikan di hari kiamat nanti. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah gelombang manusia yang berpakaian serba putih. Tidak satupun diantara mereka berbeda dari yang lainnya. Jasad-jasad mereka telah ditinggal di Miqat dan yang bergerak ini adalah ruh-ruh dalam kesamaan di hadapan Allah. Dengan iman dan taqwa masing-masing mendekat kepada Allah," katanya. Semua jemaah di hari wukuf berada di tempat dan waktu yang sama dalam pakaian yang sama, sama-sama menghadap dan mengharap ridla Allah.

Usai khutbah wukuf, ketika matahari telah tergelincir, Jemaah kemudian bergerak menuju muzdalifah, kemudian menuju Mina. Labbaikallahumma laka labbaik. (mm/bs)


Back to Top