Tingkatkan Mutu Pengamanan, 12.500 Aparat Khusus Awasi Pergerakan Jemaah di Area Jamarat Mina

 (gomuslim). Demi meningkatkan mutu keamanan jemaah haji, Pemerintah Saudi memasang 504 unit kamera CCTV di sejumlah titik pelemparan jumrah. Dalam pelaksanaan pemantauan stabilitas keamanan, 12.500 aparat darurat khusus dipersiapkan untuk bekerja 24 jam mengawasi kondisi area jamarat. CCTV dipasang di tempat pengambilan kerikil, tempat kerumunan jemaah, eskalator, pintu keluar -masuk, pintu darurat dan pada 11 menara yang berada di area jamarat.

Aparat khusus yang memantau pergerakan jemaah saat melempar jumrah, merupakan pasukan yang terlatih dalam upaya penguraian dan penyelematan jemaah. Dalam tugasnya, mereka mengawasi pergerakan jemaah via monitor yang terhubung dengan CCTV, namun ada juga yang terjun langsung ke lapangan. Keberadaan belasan ribu petugas ini, diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas keamanan selama berlangsungnya ritual pelemparan jumrah.

Menurut Komandan Pusat Pengawasan Khalid Utaiby, pengerahan pasukan khusus adalah bentuk pengawasan langung demi menghindari hal-hal negatif, “Pusat pengawasan ini diperuntukkan pusat pengaturan pergerakan jemaah yang menuju jamarat dengan satu arahan dan pintu masuk dan keluar. Kemudian pengawasan ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya tabrakan dan untuk mengurai kemacetan yang memakan waktu lama.” Ujar Utaiby.

lk;l;

Mengenai kamera CCTV yang dipasang, Utaiby menjelaskan bahwa terdapat dua tipe kamera yang digunakan. Pertama, kamera bergerak yang mampu berputar 360 derajat, kamera ini berfungsi untuk memantau jemaah secara keseluruhan, kamera ini dapat merekam objek sejauh 800 meter. Kemudian yang kedua kamera dengan tipe E.M yang hanya dapat berputar 180 derajat, kamera ini memiliki sensitifitas tinggi, oleh karena itu peletakkan kamera dilakukan di sejumlah eskalator, tempat kerumunan jemaah dan tempat lainnya yang kerap diisi dengan aktivitas yang  rutin terjadi, karena kemampuan kamera ini dapat menangkap objek gambar bergerak dengan resolusi yang cukup.

Pada dasarnya ruang pusat pengawasan jamarat menyatu dengan ruang petugas penanggulangan kemacetan. Namun menurut Utaiby, lembaga mereka hanya menyediakan 130 kamerat khusus untuk mengawasi kerumunan jemaah. Namun kedua lembaga ini, bersinergi untuk melancarkan aktivitas pelemparan jumrah.

Masuk dan Keluar dari Jamarat

 Perlu ada pengawasan dan pengaturan agar tidak terjadi benturan atau dorongan terhadap jemaah sehingga hal tesebut dapat menimbulkan kecelakaan. Terkait dengan hal ini maka mekanisme untuk memasuki pintu masuk dan keluar dari Jamarat harus dipersiapkan. Utaiby menyatakan bahwa, masuk dan keluarnya jemaah dari Jamarat telah direncanakan sebelum menjelang jumrah aqabah. jemaah dari  Jalan Mazahllal, Jadid, Jauharah, Pasar Arab, diarahkan untuk masuk ke terowongan Azizia yang langsung menuju ke lantai 1 dan 2 untuk dapat dipergunakan sebagai pintu masuk dan keluar.

Selanjutnya, jemaah yang datang dari wilayah Sa’ibain (utara jamarat) maka mereka langsung diarahkan untuk melewati terowongan Murtabathah yang ada di lantai 3 untuk dapat masuk dan keluar.  Kemudian bagi yang melewati jalur Murtabathah lantai 4, diarahkan langsung untuk menggunakan escalator yang pada lantai 4 ini terdapat stasiun kereta api.

Adapun jemaah yang melewati jalur lain, dapat melintasi lantai kedua dari sebelah barat jamarat dan memasuki jamarat dengan melewati lereng pendakian untuk pejalan kaki kemudian menuju di eskalator nomor 4 di sebelah timur dan mereka dapat keluar  melewati lereng, akses keluar terowongan Aziziah, Sa’ibain, escalator khsusus untuk turun yang jumlahnya terdiri dari 7 unit.

Aturan masuk dan keluar jamarat yang telah ditetapkan ini adalah bagian dari upaya penertiban agar jemaah selamat selama melaksanakan pelemparan jumrah. Mengingat banyak orang yang menuju tempat ini, maka benturan antarjemaah rentan terjadi jika tidak ada pengaturan masuk dan keluar. Selain itu, jemaah haji yang telah berusia lanjut juga harus diperhatikan dan dibantu. Itulah sebabnya aparat khusus ini tidak hanya memantau namun juga harus menjaga lansia, penyandang cacat dan anak-anak, selama mereka berada di area jamarat. (fh/Almadinah)


Back to Top