Kamboja Segera Miliki Standar Produk Halal Nasional

(gomuslim). Gaya hidup halal yang kini sedang naik daun di beberapa negara dunia membuat Kamboja ikut ambil bagian. Meski bukan berpenduduk muslim mayoritas, Kamboja kini sedang membuat standard produk halal yang berlaku nasional. Cara ini untuk memberikan regulasi yang lebih pasti pada industri. Selama ini, aturan mengenai produk halal di Kamboja masih bersifat lokal dan berskala kecil.

Dalam sebuah pertemuan di Kuala Lumpur Juni 2016 lalu, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak telah sepakat untk mendanai pelatihan standardisasi halal atas permintaan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen. Sos Mossin Sekretaris Negara di Kementerian Kepercayaan dan Agama Kaboja yang juga Ketua Cambodia Muslim Association mengatakan juga telah mengajukan bantuan teknis kepada Thailand.   Bulan lalu, Kementerian Perdagangan Kambodia itu mengajukan surat keputusan untuk pembentukan standard produk halal. Nanti ketika telah ditandatangani, bisnis dan restoran bisa mengajukan sertifikasi halal ke kementerian ini.

Adapun, untuk menyukseskan program tersebut, Kamboja berkeja sama dengan Malaysia untuk melaksanakan pelatihan yang akan mereka berikan menyambut standard produk halal di Kamboja yang akan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan daging.  Salah satunya, dhabihah atau metode penyembelihan hewan yang halal, dengan menggunakan pisau yang tajam, petugas haruslah seorang Muslim, dan darah dibiarkan dulu sampai habis mengalir. Hal-hal ini masih jarang dijamin oleh pemerintah Kamboja.

"Produk halal itu sangat penting, namun banyak restoran dan perusahaan yang belum memahaminya  dan Kamboja bahkan kini belum punya standard produk halal, meski  ada produk yang menggunakan logo tapi tanpa standard, “ kata Mossin, seperti dilansir dari publikasi The Phnom Penh Post.

Selain itu, Lembaga tertinggi urusan agama Islam Kamboja, organisasi utama umat Islam di negara tersebut telah mengajukan isu halal sertifikasi sejak para penyembelih lokal mengatakan proses yang selama ini berlangsung hanya berdasarkan kepercayaan saja bukan pengawasan. Beberapa organisasi lain telah membuat aturan tertulis tentang panduan produksi makanan halal mereka sendiri.  Namun cara-cara ini bisa menimbulkan kebingungan, termasuk pula mempertanyaan mana logo halal paling sah.

Kit Pheara Petugas di Kementerian Perdagangan Kamboja mengatakan kementerian sedang mendesain logonya sendiri, agar masyarakat tahu logo halal yang beredar selama ini tidak resmi dan berasal dari desain individu saja.  Banyak tempat penyembelihan hewan di Phnom Penh yang menggunakan logo buatan sendiri itu. Van Mohamed Raoyany, seorang manajer di tempat penyembelihan hewan dan perdagangan daging mengatakan perusahaannya telah mendapat sertifikat dari Cambodian Muslim Association, yang memberikan buku panduan pelabelan halal.  Meski kemudian Raoyani juga mengaku perushaannya mendapatkan standard produk halal yang dikembangkan di Jerman. Raoyany mengatakan toko dagingnya memiliki standard tinggi hingga menarik pula para pelanggan non-Muslim.

Sayangnya perusahaan Raoyany tak bisa mengekspor. Kini dengan adanya standar produk halal nasional bukan hanya Kamboja bisa mengekspor ke pasar halal global yang sangat menguntungkan karena menguasai 16 persen industri pangan dunia dan masih terus berkembang.  Keuntungan ini tak bisa dihiraukan begitu saja. Tetangga Kamboja, Thailand dan Vietman telah lebih dulu memiliki standard halal. Ekspor makanan halal Thailand saat ini telah mencapai $6 triliun tahun lalu atau sekitar Rp 78,9 triliun.

Pemberlakukan standard halal tak sekadar berlaku untuk penyembelihan dan perdagangan daging. Standard halal juga berlaku untuk restoran dan hotel yang menggunakan produk halal yang mencatat peningkatan turis Muslim ke Kamboja dari tahun ke tahun. (fau/phnom/halalifestyle/dbs)

 

 


Back to Top