Daging Kurban Halal dari Indonesia Dikirim Hingga 28 Negara

(gomuslim). Hari raya Idul Adha di Indonesia jatuh pada Senin lalu. Namun, pelaksanaan pemotongan hewan kurban di beberapa tempat dari ujung Barat Indonesia hingga ujung Timur Indonesia masih dilaksanakan. Demikian juga di berbagai belahan dunia lainnya, umat muslim di beberapa negara ada yang baru melaksanakan hari raya Idul Adha pada hari ini. Semua terjadi karena perbedaan waktu dan pandangan.

Namun, berbicara mengenai hari raya Idul Adha, sejauh ini hari raya yang identik dengan pemotongan hewan kurban tersebut pelaksanannya sangat fluktuatif, terkhusus untuk daerah-daerah konflik seperti Timur Tengah (Timteng) yang tengah porak-poranda.

Di Suriah dan Afghanistan misalnya, harga daging domba di sana melonjak tajam seiring dengan bombardir dari negara-negara Sekutu. Dampaknya pun sangat viral, pertama-tama seluruh donatur yang memiliki finansial yang belum terlalu kuat, tidak mampu membeli hewan untuk berkurban. Pada akhirnya, karena hewan kurban menurun, akhirnya jumlah daging kurban yang tersedia pun menurun. Hal itu tentu saja bukan hanya dirasakan oleh para mustahiq, namun juga berdampak kepada para pedagang yang mengaku penjualan menurun drastis.

"Bisnis lesu. Kadang kami tidak mampu memenuhi pengeluaran selama perayaan Idul Adha. Kalau kami jual ternak sekarang, kami akan terpaksa menjualnya dengan harga murah,” kata Gul Ahmad, pedagang di Afghanistan. Hal demikian pun juga dirasakan oleh umat muslim lainnya di Palestina, Yaman, Libya, Mesir, dan negara-negara lainnya.

Akan tetapi, hal yang sebaliknya dirasakan di negara-negara yang stabilitasnya masih terjaga, seperti Indonesia. Di Indonesia, penjualan hewan kurban masih cenderung stabil. Di Depok misalnya, transaksi penjualan hewan kurban mencapai angka Rp. 252,3 miliar selama kurang lebih sepekan. Angka hewan kurban yang disembelih pun juga luar biasa. Di Jakarta misalnya, angkanya mencapai 9378 ekor Sapi dan 5000-an ekor Kambing di sembelih selama hari raya Idul Adha atau biasa juga disebut Idul Kurban.

Peta pendistribusiannya pun kini mulai melebar hingga lintas negara, seiring dengan jumlah sembelihan hewan kurban yang juga meningkat. Aksi Cepat Tanggap misalnya, sembelihan hewan kurban mereka didistribusikan hingga ke Palestina, Suriah, Somalia, dan Rohingya. Lain lagi dengan Kurbanesia yang digagas Dhompet Dhuafa. Mereka mendistribusikan sembelihan hewan kurban mereka ke lima negara lainnya (yang berbeda dengan ACT), yakni ke Filipina, Vietnam, Kamboja, Bangladesh, dan Myanmar.

Negara lainnya yang dijangkau ialah, Madagaskar, Uganda, Cameroon, Kenya, Papua Nugini, Turki, Lebanon, Kazakhtan, Tajikistan, Kyrgyztan, Khasmir, Nepal, Mongol, Tahiland, dan negara-negara lainnya.

Pertimbangan untuk mengirim hewan kurban atau biasa disebut kurban temporer ini bukanlah tanpa alasan. Semua telah diperhitungkan dengan matang, termasuk peta populasi penduduk muslim di negara-negara tersebut yang mulai tumbuh, meskipun tidak dibarengi dengan perekonomian muslim yang belum membaik.

Alhasil, meskipun di beberapa negara umat muslim tidak bisa menyembelih hewan kurban sebanyak negara-negara yang stabilitasnya masih terjaga, namun dengan semangat persaudaraan yang tinggi, mereka tetap bisa menikmati berkah dari sembelihan hewan kurban sekaligus merasakan dari semangat syiar dan ukhwuah islamiyyah. (alp/dbs)


Back to Top