PON XIX Jawa Barat

Hijab Tak Halangi Dua Kakak Beradik Ini Berprestasi di Dunia Tae Kwon Do

(gomuslim). Pekan Olahrga Nasional (PON) XIX di Jawa Barat, baru akan dibuka secara resmi pada 17 September mendatang. Ada sekitar 9.226 atlet dari seluruh kontingen yang akan bertanding menjadi yang terbaik pada masing-masing cabang yang mereka geluti. Namun, siapa sangka, dari 9.226 atlet tersebut rupanya popularitas para atlet di muka umum mengerecut kepada dua wanita cantik berhijab yang sarat dengan prestasi.

Adalah Lia Karina Mansur dan kakaknya Fitriana Mansur, atlet taekwondo kontingen Yogyakarta. Muslimah yang lahir pada 24 tahun yang lalu ini, mengawali karirnya sebagai atlet professional Tae Kwon Do sejak 2011 lalu, tepatnya pada perhelatan Sea Games di Palembang. Kala itu, ia berhasil meraih medali perak. Mulai saat itu, berbagai prestasi pun kemudian berhasil diraihnya. Tercatat, ia pernah memenangi kejuaraan nasional junior Tae Kwon Do ketika di usia 14 dan berhasil menjadi atlet terbaik pada perhelatan tersebut serta sederet prestasi lainnya baik di tingkat nasional maupun internasional.

Yang terbaru adalah Ia dan kakaknya berhasil merebut medali di ajang Jeonju Open International Taekwondo Cham-pionship 2016. Dalam kejuaraan berlevel internasional tersebut, Lia yang turun di nomor kyorugi -67 kg berhasil menyabet medali perak.

Wanita yang mengaku sempat mencoba beberapa cabang olahraga lainnya ini, seperti atletik, basket, dan renang, mengaku sudah sejak di bangku sekolah dasar berlatih Tae Kwon Do. Ia bersama kakaknya, Fitriana Mansur tertarik dengan Tae Kwon Do karena olahraga tersebut bagus dalam pembetukan karakter dan attitude. Hal itu kemudian didukung dengan antusias oleh orang tuanya yang memiliki cara pandang tersendiri untuk membuat kedua putrinya menjadi atlet handal.

Dukungan dari orang tuanya juga semakin terasa ketika Lia mendapat cedera parah pada ligamennya saat memperkuat Yogyakarta pada Pra PON 2012, yang membuatnya harus beristirahat total selama beberapa waktu. Pada saat itu, ia sempat tidak berdaya dengan kenyataan yang diterimanya. Ditambah, saran dari dokter yang menyarankan agar Lia berhenti dari dunia Tae Kwon Do karena memiliki peluang yang sangat kecil untuk berlatih dan berprestasi seperti di awal-awal karir profesionalnya.

Berkat dukungan penuh dari orang tuanya itulah yang menjadi pelecut semangatnya untuk pulih dan berlatih hingga berprestasi kembali. Terbukti, pasca cidera yang dideritanya, ia justru berhasil membawa pulang medali emas pada perhelatan PON XVIII di Riau lalu.

Kini, selain fokus pada karirnya sebagai atlet Tae Kwon Do, ia juga fokus sebagai mahasiswi yang sedang menimba pengetahuan di S-2 Ilmu Keolahragaan di Uiversitas Negeri Yogyakarta (UNY). Keputusannya untuk mendalami ilmu kepelatihan ialah langkah konkretnya untuk berkontribusi dalam memperbaiki dunia olahraga Indonesia. Tak hanya fokus dikedua hal itu, sebagai Diajeng 2015, Ia juga memiliki tugas khusus dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk mempromosikan Kebudayaan dan Pariwisata kota tersebut.

Hampir semua impiannya kini telah diraihnya dengan prestasi yang gemilang. Baru-baru ini, ia pun baru saja menyelesaikan impiannya yang juga tak kalah penting dalam kehidupannya, yakni beribadah umrah bersama keluarganya. Seperti dikutip dilaman isntagramnya di @liakrn, ini mengatakan, “Alhamdulillah 1 impian terwujud. Bisa berkunjung ke masjid sekaligus rumah Rosulullah SAW yg dibangun oleh beliau sndr, bisa berziarah sekaligus berdoa di tempat paling mustajab yaitu di makam Rosulullah SAW (Raudhah) & beribadah sehari-hari di tempat yg disebut taman surga. Dulu tiang masjid ini dibuat dr batang pohon kurma, sedangkan atapnya dibuat dr pelepah pohon kurma. Subhanallah..gk ada tempat yg lebih damai dr tempat ini. Semoga diberi umur pnjg utk bisa dtg lagi ke tmpt ini di lain waktu & semoga doa2ku diijabah oleh Allah SWT.. Amiinn.” Ungkapnya.

Setali tiga uang dengan adiknya, Lia Karina Mansur, Fitriana Mansur juga adalah seorang atlet tangguh Indonesia di kelasnya. Tercatat ia pernah meraih medali perunggu dalam perhelatan Korea Open dan Selangor Open pada tahun 2007 dan berhasil menyandingkan ghelar Sarjananya dengan medali emas PON XVIII. Kini, mereka berdua bertekad untuk menyandingkan gelar juara untuk dipersembahkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

 


Back to Top