Haji 1437 H/ 2016 M

Mengenang 'Astuti' Yang Paling Dirindu Jemaah Lelah dan Tersesat Selama di Mina

(gomuslim). Kamis hari ini (15/09/2016) ini suasana Mina mulai lengang. Jika diingat-ingat, selama empat hari terakhir Mina menjadi medan juang paling berat bagi Jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk Jemaah dari Indonesia yang harus menempuh jarak 4-5 KM dari tenda ke jamarat atau lokasi lempat jumrah. Tidak jarang Jemaah kelelahan saat kembali, kelaparan di jalan hingga tersesat melesat jauh saat kembali ke tenda. Akibatnya, puluhan Jemaah tidak berdaya itu memerlukan bantuan cepat.

 

 

Yang dilakukan Panitia Haji di Mina ini sungguh luar biasa. Oleh karena dilarang mengoperasian kendaraan selain ambulan dan ambulan sering kesulitan akses menerobos jalanan, maka Panitia Haji Indonesia mengoperasikan ‘Astuti’ untuk menjemput Jemaah yang sudah tumbang di pinggir jalan.

Selama berada di Mina bersama ribuan Jemaah yang memadati seluruh area menuju lokasi lempar jumrah, ‘Astuti’ merupakan andalan Panitia Haji untuk mengantarkan petugas ke berbagai titik tuju. ‘Astuti’ berperan penting di saat genting.

Dengan ‘Astuti’ pula petugas haji dapat dengan segera mengantar Jemaah yang sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan dan menyisir Jemaah yang sudah tumbang di pinggir-pinggir jalan menuju klinik atau tenda masing-masing. ‘Astuti’ juga diajak bertugas menjemput Jemaah tersesat yang dilaporkan petugas ke posko terdekat.

‘Astuti’ yang dirindukan Jemaah itu sebenarnya juga dilarang masuk lokasi Mina, tetapi akhirnya diizinkan untuk mobilitas petugas menggantikan ambulan yang sulit berjalan di tengah kerumunan. Jenisnya seperti sepeda motor pada umumnya, tetapi unik karena model dan usianya sudah jarang ditemui.  Ini adalah jenis Super Cub 90 keluaran tahun 1973.

 

 

Semua unit kendaraan roda dua ini berwarna merah. Jumlahnya kini tinggal delapan yang bisa dioperasikan oleh Posko Satgas Mina, dari belasan yang dimiliki perwakilan pemerintah Indonesia di Jeddah.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, Abdul Djamil, mengatakan, sepeda motor ini merupakan salah satu sarana mobilitas yang praktis dan cepat cocok untuk medan di Mina yang padat sehingga sulit dilalui mobil.

"Dengan sepeda motor ini, bisa menembus kerumunan, meski tetap harus berhati-hati," kata Abdul Djamil yang sempat mengantarkan jemaah menggunakan "Astuti" ke Maktab 44, Mina.

Meski pemerintah Saudi melarang penggunaan sepeda motor, menurut Djamil, dengan situasi darurat seperti saat ini, jemaah masih membutuhkan layanan. Bahkan, hingga saat ini, kendaraan itu juga masih bisa dioperasikan.

Mengingat usianya yang sudah "uzur", Djamil setuju jika dilakukan peremajaan. "Astuti" bisa digantikan dengan sepeda motor sejenis dengan kapasitas mesin 100cc. "Yang penting tidak mahal dan irit bahan bakar," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Daker Madinah, Nasrullah Jasam, yang juga penanggung jawab Posko Satgas Mina mengatakan, sepeda motor itu disimpan di tempat "khusus". Bahkan, cara membawanya ke Mina juga sangat hati-hati serta memerlukan perlakuan khusus.

Demikianlah, "Astuti" atau Astrea Tujuh Tiga yang kehadirannya paling dirindu Jemaah di Mina. Tahun depan ia akan diganti kendaraan lain. Astuti, jasanya bagi jemaah haji tak ternilai dengan harganya. Astuti yang renta akan diganti dengan yang lebih muda, dan tahun depan tinggal kenangan saja.  (mmch)


Back to Top