Gandeng Indonesia dan Malaysia, Meksiko Tertarik Kelola Industri Makanan Halal

(gomuslim). Tren halal yang sedang naik daun menjadi perhatian bagi negara-negara di dunia. Banyak negara, bahkan yang berpenduduk muslim minoritas mulai melirik gaya hidup halal sebagai bagian dari kehidupan ekonomi, pendidikan, pariwisata, dan lainnya. Ternyata gelombang tren halal tersebut juga sampai ke Meksiko. Negara yang menjadi salah satu anggota dari kemitraan 12 negara Trans-Pasifik tersebut  mengungkapkan ketertarikannya untuk menata dan mengembangkan industri makanan halalnya kepada Malaysia.

Selain bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia untuk sertifikasi halal, Meksiko juga tertarik bekerja sama dengan Ministry of International Trade and Industry (MITI) atau Kementerian Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia. Katanya, Meksiko mengapresiasi standard dan sistem sertifikasi halal Malaysia yang komprehensif.  MITI menyebut produk halal menjadi perhatian pemerintah Meksiko sejak Deputi Menteri Luar Negeri Meksiko, Carlos De Icaza Gonzales bertemu dengan Deputi Menteri MITI  Chua Tee Yong.  Bersama Icaza Gonzalez, hadir pula CEO ProMexico, sebuah agen promosi investasi perdagangan internasional negara tersebut, Fransisco N. Gonzales dan Duta Besar Meksiko untuk Malaysia, Carlos Felix Corona.

"Icaza Gonzales menyebutkan Meksiko saat ini sedang mengembangkan industri Halal dan dia menunjukkan harapan bisa menembus pasar industri Halal global dengan bekerja sama dengan Malaysia," demikian pernyataan MITI, seperti dilansir dari publikasi HalalFocus.

Negeri Jiran  sendiri pada tahun 1974 lewat Pusat Penelitian Divisi Urusan Islam yang jadi bagian dari kantor Perdana Menteri mulai mengembuskan isu sertifikasi Halal untuk semua produk yang saat itu sudah memenuhi kriteria Halal. Pada tahun 2000, standard halal pertama diluncurkan di Malaysia. Negeri tersebut kemudian tercatat jadi negara pertama yang memiliki dokumentasi dan sistem jaminan Halal yang sistematik. Lima tahun kemudian, Departemen Pengembangan Islam Malaysia (JAKIM) mulai memperluas unit kerjanya dengan nama JAKIM's Halal Hub. JAKIM diklaim menjadi lembaga sertifikasi halal pertama yang bertanggung jawab untuk memonitor industri halal.

Selain itu, pada tahun 2006 Halal Industry Development Corporation dibentuk untuk mengkoordinasi semua pengembangan di industri Halal.   Menurut MITI, Icaza Gonzales juga lebih jauh menambahkan meski ekspor Meksiko ke Asia saat ini cenderung sedikit, namun mereka sangat antusias untuk bisa masuk ke pasar besar China pula. Dalam hal ini, Meksiko sangat berharap kerja sama bilateral yang lebih besar dengan Malaysia, mereka bisa membangun lebih baik hubungan dagang dengan Asia. Apalagi pada tahun 2015,  hubungan dagang dua negara mencapai US$ 1,97 miliar atau sekitar Rp 25,9 triliun, naim 17,5 persen dari 2014. Pada paruh tahun 2016, perdagangan kedua negara mencapai angka US$1,085 miliar atau sekitar Rp 14,2 triliun, naik 35,6 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu.

Sedangkan dengan Indonesia, Meksiko juga sudah menjalin kerjasama soal sertifikasi halal sejak tahun 2013 lalu. Lembaga El Centro Cultural Islamico de Mexico (CCIM) telah melakukan sertifikasi halal terhadap perusahaan di negaranya. Lembaga ini pun ingin memperluas cakupannya dengan mencari peluang pasar di Indonesia sebagai negara mayoritas Islam. Karenanya, delegasi dari CCIM mengadakan kunjungan ke kantor LPPOM MUI di Bogor. Hadir Direktur CCIM, Mark Omar Weston, bersama dengan Gabriel Padilla selaku General Coordinator for Trade, Promotion and Exports Kementrian Pertanian Meksiko, serta didampingi juga oleh Carmen Robledo Lopez, dari bagian ekonomi dan perdagangan kedubes Meksiko di Jakarta.

Tujuan kedatangan delegasi Meksiko ke kantor LPPOM MUI adalah untuk mendapatkan pengakuan dari lembaga ini. Hal tersebut dilakukan karena ada peraturan yang mengharuskan produk impor memiliki Sertifikat halal yang dikeluarkan oleh lembaga yang diakui oleh MUI.  Selain itu, pihak CCIM juga meminta penjelasan mengenai persyaratan dan prosedur lembaga sertifikasi halal dari luar negeri agar mendapat pengakuan dari MUI. Hal tersebut disambut baik oleh pihak LPPOM MUI yang menjelaskan secara rinci mengenai sistem jaminan halal yang berlaku.Para delegasi dari Meksiko berharap, dengan diakuinya lembaga sertifikasi halal Meksiko oleh MUI, tentu akan mempermudah dalam menjalin perdagangan ekspor produk dari Meksiko ke Indonesia.

Adapun, perkembangan tren halal di Meksiko juga berkaitan dengan jumlah Muslim yang  selalu meningkat setiap tahunnya. Menurut data statistik Pew Research Center, jumlah umat Islam sudah mencapai 126 ribu jiwa, di tahun 2013, naik dari 111 ribu pada tahun 2010. (fau/halalfocus/dbs)

 


Back to Top