Wisata Halal Dunia Harus Lebih Dieksplorasi

(gomuslim). Wisata halal saat ini tengah berkembang pesat di dunia. Tahun lalu, diperkirakan ada sekitar 117 juta wisatawan muslim yang melakukan berbagai perjalanan ke seleuruh dunia. Dengan jumlah tersebut, wisatawan muslim berhasil mewakili 10 persen perjalanan-perjalanan di seluruh dunia.

Akan tetapi, dari jumlah tersebut, menurut para pakar industri, terdapat banyak hal yang masih bisa dikembangkan dan dieksplore dalam mengembangkan wisata halal di seluruh dunia. Sebab, wisata halal tidak hanya soal makanan halal dan fasilitas lainnya yang berkenaan dengan Islam, seperti tempat ibadah, toilet yang menyediakan air bersih, dan lain sebagainya, melainkan tentang sebuah konsep matang yang bernafaskan Islami.

Menurut data dan analisis dari laporan perdana MasterCard-Crescentrating, diperkirakan pangsa pasar wisata halal akan tumbuh menjadi 168 juta pengunjung pada tahun 2020 setara dengan 11 persen dari segmen pasar dengan nilai pasar diproyeksikan melebihi 200 miliar dollar AS.

Pendiri Sandala Journeys, Shaikh Suhail mengatakan bahwa, Sandala Journeys sebagai perusahaan halal tourism startup, melihat peluang dan potensi besar untuk memperluas pasar. "Kami ingin memposisikan diri sebagai brand pariwisata halal yang berbasis IT. Senjata kami adalah segala hal yang mencakup wisata halal ramah muslim”, ujarnya. Sandala Journeys baru-baru ini telah membuka kantor pertamanya di Sharjah dan akan membuka cabang di kota-kota lainnya di Uni Emirat Arab.

Lebih lanjut, Shaikh mengatakan bahwa pemahaman tentang wisata halal yang konvensional, seperti terbatas pada makanan dan minuman halal saja, dapat membatasi ruang gerak perkembangan wisata halal di dunia. Oleh karenanya, wisata halal hala memiliki konsep yan jelas dan tidak hanya memastikan bahwa pelanggan memiliki akses pada makanan dan minuman halal serta fasilitas lainnya.

Baginya, wisata halal adalah tentang menemukan warisan, budaya, dan sejarah dunia Islam serta hal-hal lainnya, seperti memberikan peluang untuk menyertakan bukan hanya kalangan muslim saja, melainkan non-muslim juga. Sebagai contoh, perjalanan dari Guangzhou ke Samarkand, dari Konya ke Cordoba, ada begitu banyak pengalaman dan pengetahuan untuk mengetahui sejarah di masa lampau bagaimana para pendaulu kita menjalani hidup ini dengan luar bisa.

Saat ini, jumlah wisatawan muslim bertambah dari tahun ke tahun sehingga pasar menyambut dengan paket-paket wisata halal, hotel syar'i dan kuliner halal. Banyak negara, termasuk Indonesia menjadi pilihan tujuan wisata terbaik bagi wisatawan muslim dunia. Di tingkat ASIA, sejak tahun 2016 ini, Malaysia menempati peringkat teratas dalam daftar negara destinasi wisata terbaik untuk wisatawan Muslim. Peringkat Malaysia kemudian diikuti oleh Indonesia dan Singapura yang masing-masing berada di peringkat kedua dan ketiga.

Daftar peringkat tersebut dirilis berdasarkan penelitian terbaru oleh MasterCard dan CrescentRating yang dirilis pada pertengahan Juni lalu. Penelitian ini juga mengindentifikasi beberapa alasan mengapa Malaysia menduduki daftar peringkat tertinggi, termasuk strategi pemasaran untuk menarik wisatawan Muslim. Namun selain Asia Tenggara, negara-negara Timur Tengah juga dinilai akan menjadi tujuan wisata menarik bagi wisatawan Muslim.

Tantangan terbesar para pelaku usaha di sektor wisata halal saat ini selain mengembangkan sarana dan pra-sarana penunjang, tugas berat lainnya yakni bagaimana wisata halal ini dapat meyakinkan orang-orang di luar muslim agar tak perlu ragu untuk berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Di dunia saat ini, beberapa daerah yang menjadi sentra halal trip seperti di China yang mempunyai kawasan halal di Huimin Street, Jepang di Asasuka, dan daerah-daerah lainnya i seluruh dunia, sudah mulai menjadi lokasi favorit bukan hanya bagi alangan muslim, namun juga non-muslim. Akan tetapi, di seagian daerah di beberapa negara, kalangan non-muslim masih enggan untuk mengnjungi tempat-tempat tersebut.

Hingga tahun 2023, tren wisata muslim terutama untuk bulan Ramadahan dan Syawal akan terus menaik di kawasan teluk. Hal ini antara lain karena bulan Ramadhan diperkirakan akan jatuh pada bulan-bulan dengan iklim yang lebih dingin. Sehingga negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar dan Oman akan menjadi tujuan wisata menarik. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hal ini akan berimbas positif pada negara-negara seperti Yordania, Mesir, Maroko dan Tunisia. Imbasnya, tren tersebut akan membuat negara-negara Non-Islam (non-OIC) dan kawasan Asia Tenggara akan dilihat sebagai destinasi yang kurang menarik dan akan mengalami penurunan kedatangan wisatawan mulai tahun 2030. (alp/dbs)


Back to Top