Industri Asuransi Syariah Makin Ketat, Sun Life Ubah Strategi

(gomuslim). Industri asuransi syariah di Indonesia selama beberapa waktu ke belakang, tercatat terus mengalami persaingan yang sengit pada masing-masing perusahaan. Menyikapi itu, PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) terus berkomitmen untuk memperkuat unit usaha syariah (UUS). Salah satuny ialah dengan mengubah strategi dalam branding dan cara pandang masyarakat tentang syariah.

Setelah memutuskan untuk spin off pada pertengahan tahun ini, UUS Sun Life memang terus bergerak maju dalam mencari lebih banyak perluang pasar di Indonesia. Mereka membidik pasar sebesar 20 persen terhadap total pendapatan premi dari induk usaha di sepanjang 2016 ini. Sampai dengan kuartal I-2016, UUS Sun Life Financial Indonesia mampu berkontribusi sebanyak 24 persen terhadap total pendapatan premi kepada induk  usaha.

"Jadi, kami menargetkan pertumbuhan syariah itu kontribusinya 20 persen terhadap pendapatan premi induk usaha di 2016 ini. Sebelumnya, kami sudah berkontribusi sebanyak 24 persen," ungkap Head of Syariah Sun Life Financial Indonesia Srikandi Utami, beberapa waktu lalu.

Srikandi mengaku, Sun Life Financial Indonesia sangat gencar mendorong pertumbuhan bisnis syariahnya. Apalagi, potensi dan peluang asuransi syariah di Indonesia terbuka begitu lebar. Hal itu didukung dengan masih kecilnya penetrasi asuransi syariah di Indonesia.

Saat ini, kontribusi syariah dari jalur distribusi keagenan syariah mencapai 27 persen. Elin berharap, angka ini bisa terus mengalami peningkatan yang baik di masa-masa mendatang, sejalan dengan upaya yang dilakukan seperti memperkuat jumlah agen dan nantinya mendukung peningkatan jumlah nasabah.

"Saya berharap kontribusi syariah itu 30 persen sampai 35 persen. Mungkin tahun depan (terealisasi). Kita tetap memperkuat jumlah agen. Mem-branding positioning syariah dan mengubah cara pandang masyarakat tentang syariah. Jadi, kami ingin nantinya agen juga bersikap sebagai syariah. Jadi agen yang profesional," pungkasnya.

Hingga semester I-2016, total premi asuransi syariah baik jiwa maupun umum tumbuh 26,45% menjadi Rp 30,6 triliun. Pertumbuhan premi asuransi syariah itu lebih tinggi ketimbang pertumbuhan premi asuransi konvensional.

Diversifikasi produk asuransi syariah membuat pertumbuhan premi melaju. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pertumbuhan premi asuransi jiwa syariah dan asuransi umum syariah masing-masing tumbuh 21,1% dan 28,8%. Kinerja ini cukup menjanjikan dibandingkan pertumbuhan premi asuransi konvensional yang hanya 12%-18%.

Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Taufik Marjunihadi, menyebut beberapa faktor penyebab pertumbuhan premi. Pertama, gencarnya literasi produk asuransi syariah sejak awal tahun. Ini didukung jumlah agen syariah asuransi jiwa yang mencapai 200.000 agen. Kedua, jumlah pemain asuransi bertambah menjadi 45 perusahaan. Ada juga unit usaha syariah yang telah beroperasi penuh. Beroperasinya reasuransi syariah berdampak pada ramainya asuransi syariah beberapa waktu lalu.

Faktor Ketiga, inovasi produk asuransi syariah terutama adanya konsorsium asuransi haji. Firman Sofyan, Direktur Utama Asuransi Jasindo Syariah mengakui, diversifikasi produk menjadi tonggak pertumbuhan bisnis asuransi syariah. Selain itu, jalur distribusi asuransi syariah makin bertambah yakni tidak lagi mengandalkan multifinance tapi juga merambah ke perbankan.

Selain itu, ada faktor lain yang menjadikan asuransi syariah diyakini dalam dua hingga tiga tahun mendatang akan semakin meningkat. Setidaknya dikatakan Direktur Asuransi Sinar Mas Martin P Lalamentik ada empat faktor yang mendukungnya.

Pertama, populasi muslim di Indonesia yang mana ada 180 juta orang muslim di Indonesia, yang semakin hari semakin meningkat kesadaran terhadap penerapan sistem syariah. Sehingga mereka makin sadar akan pilihan menggunakan asuransi syariah. Kedua, penetrasi pasar asuransi syariah saat ini tidak hanya ke masyarakat muslim. Bahkan, masyarakat non muslim pun juga telah banyak membeli asuransi syariah. Ketiga, pertumbuhan ekonomi yang pesat menjadi salah satu pemicu pasar asuransi syariah.

"Meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat Indonesia juga telah membuat mereka mampu membeli produk asuransi syariah," ucapnya di sela-sela Award Dinner and Presentation Best Syariah 2016 di Jakarta.

Keempat, pertumbuhan dari institusi yang berkaitan dengan asuransi syariah itu sendiri seperti perbankan syariah, multifinance syariah, institusi syariah lainnya. "Yang dimaksud dengan institusi syariah lainnya adalah Universitas Islam, Biro Travel Haji dan Umroh, Dewan Masjid Indonesia, Sekolah Islam, Organisasi Islam, Media Cetak Muslim, Lembaga Amil Zakat Nasional, Media Elektronik Muslim, Partai Politik Islam, Badan Wakaf, dan lainnya," tuturnya. (alp/dbs)


Back to Top