Di Jepang, Sejumlah Perkantoran Mulai Sediakan Tempat Shalat Pegawai

(gomusllim). Belakangan, semakin banyak perusahaan di Jepang yang berusaha untuk menyediakan suasana dan lingkungan kerja yang lebih baik bagi para pekerja Muslim. Dari sekian banyak penduduk muslim di dunia, sebagian besar hidup di wilayah Timur Tengah dan Asia-Pasifik. Kebutuhan khusus bagi kalangan tertentu menjadi masalah besar bagi dunia bisnis untuk merekrut tenaga kerja yang lebih beragam. Seperti pekerja-pekerja muslim yang membutuhkan ruang untuk shalat dan lain sebagainya.

"Saya sangat menghargai bahwa perusahaan telah menciptakan ruang ibadah bagi saya," ungkap seorang pekerja dari Malaysia Nor Aliyah Binti Shukor mengatakan dalam fasih bahasa Jepang, seperti dilansir media setempat.

Dia adalah lulusan dari sebuah universitas kenamaan di Jepang dan mulai bekerja pada bulan April tahun ini untuk Kinki Nippon Tourist, agen perjalanan besar di Jepang yang merupakan bagian dari KNT-CT Holdings.

Seorang muslim wajib melaksanakan sebuah ikrar kepada Tuhannya minimal lima kali dalam sehari, menghadap ke arah kiblat, bahkan selama jam kerja dan dalam keadaan sesibuk apapun, kapanpun, dan di manapun. Pasca menerima karyawan muslim pertama, perusahaan tour and travel tersebut merenovasi beberapa ruangan di kantor tersebut untuk dijadikan tempat ibadah muslim di kantor tersebut.

Hal ini pun menjadi sebuah era baru globalisasi yang menuntut semua orang untuk menerima keberagaman. Tak terkecuali dengan Jepang, yang terkenal dengan budaya kerjanya yang ulet dan disiplin, bahkan pergi ke toilet pun dianggap membuang-buang waktu.

Walaupun demikian, menurut Akihiro Shugo, seorang eksekutif perwakilan di Halal Media Jepang, pada umumnya perusahaan-perusahaan di negaranya masih ditemukan banyak kasus seringnya pekerja muslim yang mengeluh tidak diberi keleluasaan untuk menjalani ibadah yang diperintahkan agamanya, seperti shalat, ketersediaan makanan halal, dan lain sebagainya.

Ia menyarankan bahwa perusahaan harus memulai dengan gebrakan kecil dahulu sebelum gebrakan yang besar, seperti memungkinkan karyawan muslim untuk menggunakan ruang pertemuan yang sedang tidak dipakai untuk shalat. Bisnis harus dapat menghargai praktik Islam lainnya, termasuk berkumpul untuk shalat di masjid pada hari Jumat, puasa selama bulan Ramadhan atau bulan suci bagi umat Islam, bahkan aturan ketat tentang pakaian wanita atau biasa disebut dengan berhijab.

Dewasa ini, Jepang adalah rumah bagi sekitar 110.000 muslim. Dari jumlah tersebut, sekitar 10.000 di antaranya adalah penduduk asli Jepang. Para pendatang dengan berbagai tujuan pun juga tak kalah banyak, seperti mahasiswa. Menurut otoritas setempat, jumlah mahasiswa internasional dari negara-negara mayoritas muslim di beberapa perguruan tinggi di Jepang mencapai sekitar 8.500 tahun lalu, naik dari sekitar 5.500 pada tahun 2004. Hal ini semakin membuktikan bahwa Jepang adalah salah satu negara tujuan muslim yang laing ramah di dunia.

Setali tiga uang dengan Nor Aliyah Binti Shukor, Shohruhbek Ibragimov dari Uzbekistan, yang bekerja untuk pembuat mesin Yanmar, juga menceritakan betapa perusahaan tempatnya bekerja sangat mensupport ia dan beberapa rekannya sebagai muslim. "Hampir tiga kali dalam seminggu aku mengonsumsi ikan bakar," ujarnya. Hal Itu dilakukan bukan karena ikan adalah favorit, melainkan pilihan yang aman untuk menghindari makanan-makanan haram yang menjalar di Jepang.

Pasca melakukan konsultasi dengan Ibragimov, perusahaan tempatnya bekerja mulai menyediakan hidangan halal food di kantin pada beberapa bulan yang lalu. Tak hanya itu, perusahaan tempatnya bekerja juga memiliki ruang shalat yang dapat digunakan staf maupun seluruh muslim lainnya yang berada di Jepang. (alp/dbs)

 


Back to Top