Abu Bakar Ludewig

Tinggalkan Fasilitas Mewah dan Tunjangan Tinggi, Mualaf Lulusan Luar Negeri Ini Bersahaja sebagai Karyawan

(gomuslim). Mualaf Abu Bakar Ludewig ini memang tidak sepopuler Hj Irene Handono yang kini menjadi seorang 'daiyah' atau pendakwah apakar ‘bible’ yang kajian dan ceramah-ceramahnya dibanjiri umat. Setelah memutuskan menjadi seorang muslim, mantan pengkhutbah di rumah ibadah dan alumnus program magister di sebuah perguruan tinggi di Filipina ini memilih bekerja di BPJS untuk memenuhi kebutuhan hidupnya  Hidup terus berjalan mendekatnya kepada umat seperti air mengalir alamiah.

“Saya memang mantan pengkhutbah ketika belum menjadi seorang muslim. Sekolah saya juga di bidang itu hingga sarjana, kemudian saya bertugas dari tempat ibadah ke tampat ibadah lain di Jakarta dan kota-kota besar lain di tanah air, bahkan beberapa kali menjadi pengkhutbah d luar negeri. Setelah itu sekolah pascasarjananya di Filipina. Saat menjadi seorang muslim, pasti saya tidak lagi seorang pengkhutbah di rumah ibadah, sekarang saya seorang pekerja biasa, namun Allah berkehendak lain, saya kembali dipertemukan dengan umat tetapi umat yang berbeda, alhamdulillah,”ujarnya kepada gomuslim usai menjadi pembicara dalam acara silaturahim Jemaah pengajian di Masjid Al-Hidayah Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Ludewig meninggalkan kemewahan, fasilitas dan tunjangan-tunjangan sebagai seorang yang dihormati di rumah ibadah. Bukan tidak ada ujian, justru saat menjadi mualaf ujian datang silih berganti. "Tetapi itu merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada kami dan keluarga,"ungkapnya bersahaja.

Ia memutuskan masuk Islam justru ketika mulai mendalami teologi tiga agama samawi, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Saat masih memperdalam ilmu dalam seminari, ia sudah bersikap kritis terhadap doktrin teologis agamanya. Semakin diperdalam semakin penasaran hingga Ludewig menjadi seorang pakar tentang kekristenan atau Kristologi. Tidak banyak pakar kekristenan di Indonesia, selain Hj Irene, Ludewig merupakan seorang ahli yang dididik di lapangan dan bangku kuliah sekaligus.

“Sepulang pendidikan pascasarjanana di Filipina, saya mulai membuka literatur tentang doktrin agama-agama lain di luar agama saya. Saat itulah saya berkenalan lebih mendalam dengan Alquran dan dalam proses penelitian teks-teks itu saya dapat komparasi kesamaan agama-agama Tuhan. Juga ditemukan sisi-sisi lain yang membedakan, kemudian terus saya perdalam lagi dan lagi. Saat bersentuhan dengan teks-teks Alquran itulah saya merasa seperti masuk dalam lorong yang semakin jauh semakin bercahaya. Islam makin dipelajari makin memberi pencerahan sehingga saya putuskan menjadi seorang mualaf,”jelasnya.

 


Kini, selain bekerja sabagai karyawan sebuah badan Negara yang mengurus pertanggungan kesehatan rakyat, ia juga terus belajar tentang Islam dari guru ke guru. Pada saat bersamaan, tidak sedikit Jemaah pengajian yang mulai memintanya berbicara di forum-forum kajian, terutama yang terkait keahliannya sebagai seorang yang telah mendalami doktrin teologi agama-agama samawi. Tidak dipungkiri, untuk makin meyakinkan keimanan, tidak sedikit yang ingin mengetahui doktrin ketauhidan agama lain.

“Saya bukan mubaligh juga bukan ustadz, saya seorang mualaf yang sedang belajar Islam kepada para guru yang bertemu di mana saja dan kapan saja. Saat ada Jemaah pengajian mengundang saya sebagai pembicara atau penceramah, itu saya anggap saya sedang diberi kesempatan belajar. Di tempat tersebut umumnya ada kiainya, sehingga saya dapat menimba ilmu sekaligus bersilaturahim dengan beliau-beliau. Biasanya saya diminta bicara tentang pengalaman berislam dan yang lebih mendalam biasanya masuk ke materi tentang Kristologi yang kebetulan saya pahami dengan baik berdasarkan ilmu yang pernah saya pelajari dan tugas saya sebelum ini,”sambungnya.

 Seperti yang sedang dirasakan Abu Bakar Ludewig, justru ketika sering bertemu dengan jemaah dia dapat belajar Islam lebih mendalam dengan cakrawala makin terbuka. Bertemu Jemaah dan ustadz dari majelis ke majelis, merupakan cara menambah ilmu bagi seorang mualaf seperti Ludewig.

“Memang belajar dalam Islam itu sepanjang hayat, tetapi orang seperti saya ini tentu tidak mungkin masuk kelas belajar formal di tengah kesibukan kerja dan lainnya, maka akhir pekan bersamaa Jemaah adalah saat terbaik memperdalam ilmu keislaman saya. Saya belajar baca Alquran mulai dari iqra’ baru di level yang sama dengan anak saya yang di kelas I SD. Sebulan sekali mengisi acara dakwah di Radio, sering bersama tim lain di Bekasi yang bergerak di bidang dakwah. Pokoknya di luar hari kerja saya terus belajar tentang Islam dan cara belajar untuk seumuran saya antara lain yang mudah masuk adalah melalui forum-forum dan buku,”jelasnya.

Pada akhirnya, hidup terus berjalan. Ludewig menjalani hidup sederhana, tidak semewah dulu, tetapi mendapatkan ketenangan yang hakiki, juga  menemukan cara belajarnya bersama Jemaah sebagai pembicara sekaligus menjadi pendengar yang baik.

‘Week end’ menjadi seperti pesantren akhir pekan, Ludewig makin merasakan hidup benar-benar hidup bersama umat. Saat ditanya bagaimana cara berkomunikasi dengannya, ia kemudian memberikan nomornya sambil berpesan agar nomor komunikasi hanya untuk kemaslahatan, yaitu: 081355671359. (mm)

 Baca juga:


Makin Digali, Islam Makin Bercahaya

 


Back to Top