Inilah Pusat Kebudayaan Islam Pertama di Negeri Sakura

(gomuslim). Baru-baru ini warga Muslim Negeri Sakura sedang berbahagia. Pasalnya, Masjid baru selesai dibangun di Kota Tokyo. Tak hanya sekadar tempat ibadah, Masjid ini juga difungsikan sebagai Pusat Kajian Budaya Islam yang pertama di Jepang. Pusat budaya ini juga terbuka untuk umum bagi siapa pun yang ingin mempelajari Islam.

Masjid tersebut bernama Islamic Culture Exchange Center yang berlokasi di distrik Higashi-Gotanda, Shinagawa Ward, Tokyo. Pembangunan Masjid ini didanai oleh Japan Muslim Association.  Lembaga ini adalah organisasi terbesar yang dijalankan oleh Muslim di Jepang yang sudah berdiri sejak tahun 1952.

Islamic Culture Exchange Center resmi dibuka untuk umum pada Jumat (09/09/2016) dengan menyelenggarakan Shalat Jumat berjamaah. Seperti dilansir dari publikasi AsasiShimbun, pada kesempatan tersebut sejumlah 15 orang melaksanakan Shalat yang dipimpin oleh seorang Imam dari pengurus asosiasi. 

Kimiaki Tokumasu Presiden Japan Muslim Association mengatakan dengan selesainya pembangunan Masjid ini, dia berharap Masjid ini menjadi pusat kajian bagi Muslim dan non-Muslim yang bisa memperkuat saling pemahaman di antara mereka.

Adapun, Japan Muslim Association memiliki 500 anggota. Organisasi ini biasanya menggunakan sebuah tempat di Apartemen Yoyogi, distrik Shibuya Ward, Tokyo untuk berkumpul dan menggelar beberapa kegiatan. Namun tempat ini sangat kecil dan sulit untuk ditemukan oleh orang yang pertama kali datang ke Tokyo. Karena itu, bagi para anggota Asosiasi Muslim di Jepang ini memiliki Masjid sendiri adalah impian mereka selama berpuluh tahun lalu. Pengumpulan dana dimulai sejak tahun 2003, saat organisasi itu berulang tahun ke-50.

Awalnya, mereka membeli properti dan merenovasi gedung tiga lantai itu dan menghabiskan dana sekitar 240 juta yen atau sekitar Rp 30,2 miliar yang dibayar dengan hasil pengumpulan dana dan donasi dari Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab dan beberapa negara lain.  Sampai akhirnya pada tahun 2016, Islamic Center didesain oleh arsitek Turki dengan hiasan kaligrafi warna emas tersebut selesai dibangun dan terbuka untuk umum.

 

 

Pembangunan Islamic Center ini juga menjadi langkah baru bagi komunitas Islam di Jepang, khususnya di Kota Tokyo yang sering mendapat perlakukan tidak adil sebagai minoritas di negeri tersebut. Karena itu, para anggota Asosiasi Muslim Jepang tersebut menaruh harapan besar bahwa Masjid ini selain menjadi pusat kebudayaan dalam belajar Islam, juga bisa menampung pertanyaan dan tempat bertukar pikiran kepada warga non muslim yang ingin mengenal Islam.

Selain itu, mulai Oktober 2016 mendatang, pusat kebudayaan ini juga akan  membuka kursus bahasa Arab dan Indonesia sebagai tambahan kelas tentang Islam. "Di masa depan, Jepang ingin mempromosikan hubungan antara sesama negara Islam demi meningkatkan saling pemahaman yang akan berdampak baik pula buat Jepang," kata Tokumasu.

Sekalipun jumlah Muslim di Jepang masih kecil, namun jumlahnya berkembang pesat. Menurut penelitian yang dilakukan Hirofumi Tanada Profesor Ilmu Kemanusiaan di Universitas Waseda Tokyo, ada 58 Masjid di Jepang pada April 2009 dan ada beberapa Masjid lagi didirikan baru-baru ini yang akan terus bertambah di beberapa kota.

Selain Masjid, menurutnya, terdapat lebih dari 100 Mushola atau tempat-tempat sholat sementara yang tersebar di seluruh negeri, seperti di tempat makan, stasiun, dan lainnya. Tanada juga menjelaskan Islam masuk ke Jepang sekitar awal tahun 1920-an, ketika ratusan Muslim Turki beremigrasi dari Rusia setelah Revolusi Rusia 1917. Pada akhir 1930-an ada sekitar 1.000 Muslim dari berabagai asal-usul, kata Tanada. Gelombang berikutnya datang pada 1980-an, ketika gelombang pekerja migran dari Iran, Pakistan dan Bangladesh datang, secara signifikan meningkatkan populasi Muslim.

Tanada yang telah melakukan penelitian terhadap banyak komunitas Muslim di Jepang tersebut juga menambahkan ada beberapa faktor membantu peningkatan jumlah populasi Muslim di Jepang, termasuk pertukaran mahasiswa di Jepang dengan universitas lain di beberapa negeri Muslim, di samping migrasi para pemilik usaha dan pekerja Muslim yang telah menyebarkan Islam, perkembangan gaya hidup halal di beberapa sektor usaha warga Jepang, seperti pariwisata, makanan, akomodasi, dan lainnya. (fau/asasi/dbs)

 

 


Back to Top