Perusahaan Jepang Akan Produksi Bumbu Penyedap Halal di Indonesia

(gomuslim). Jepang selain terkenal sebagai produsen alat-alat berat dan kendaraan, juga terkenal sebagai produsen bumbu-bumbu dapur. Saat ini produsen bumbu atau penyedap masakan dari Jepang tengah berniat untuk memperluas pangsa pasarnya di wilayah Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Malaysia yang menjadi pionir halal food saat ini.

Ekspansi pasar tersebut selain karena ingin memperluas dan memperkuat pangsa pasar, juga karena ingin memanfaatkan momentum tren halal food yang berkembang pesat di kedua negara tersebut. Tak terkecuali terkait bumbu dapur atau bumbu penyedap. Terlebih, kini konsumen di kedua negara tersebut sudah  semakin cerdas dan aware terhadap komposisi bumbu penyedap yang mereka konsumsi.

Adalah Takasago Internasional, perusahaan yang sudah eksis 1920 di bidang penyedap rasa dan wewangian, yang akan membangun pabrik pertama di Indonesia dengan biaya sekitar 2 milyar yen atau sekitar hampir 20 juta Dollar AS. Rencananya, perusahaan tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 16 hektar, di wilayah pinggiran Jakarta, dan pengerhaannya akan selesai pada 2018 mendatang, dengan kapasitas mencapai 3.000 ton produk pertahunnya. Pabrik ini akan memfokuskan diri pada kebutuhan muslim, khususnya menyangkut Halal, yang memungkinkan terhindarnya hal-hal yang diharamkan seperti lemak babi, zat babi, dan sejenisnya, untuk kebutuhan pasar di Jepang dan Indonesia.

Hal ini tentu in line dengan salah satu event yang berkenaan dengan komposisi halal pada sebuah makanan, yakni Food Ingredients Asia (Fi Asia) atau pameran industri bahan baku makanan dan minuman (Mamin) akan kembali digelar tahun ini, Pada 21-23 September mendatang.

Pameran ini bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan potensi bahan baku makanan dan minuman serta memperluas networking para pemain industri baik lokal maupun internasional. Selain itu, Fi Asia merupakan pameran niaga bahan baku makanan terkemuka yang diselenggarakan oleh UBM Asia.

Pada event kali ini, Indonesia sangat berpotensi menjadi pusat industri bahan baku makanan dan minuman (Mamin) di tingkat regional Asiapasalnya Industri Mamin adalah sektor dengan kontribusi terbesar ekonomi Indonesia, yaitu 5,5% dari produk domestik bruto nasional dan 31% dari produk domestik bruto industri pengolahan nonmigas. Namun, guna mendapatkan keuntungan ganda, pameran Fi ini juga bisa dijadikan ajang untuk memperkenalkan bahan baku mamin dengan standar halal Indonesia.

Terlebih dengan budaya serta identitas Indonesia yang sudah melekat erat dengan Islam hingga terkenal ke seluruh penjuru dunia, akan menjadikan Indonesia leading dalam industri bahan baku makanan dan minuman dengan standar halal yang menjadi ciri khas negara tersebut.

Berdasarkan hasil survey pun, seperti hasil survey di Perancis beberapa tahun lalu, didapatkan fakta bahwa mayoritas warga Perancis yang memilih makanan bersertifikasi halal adalah karena mereka meyakini bahwa makanan halal itu lebih higienis dari makanan yang tidak halal atau bersertifikasi halal.

Dari data survey tersebut, jika makanan halal saat ini dikonsumsi tidak hanya oleh 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia, tetapi juga oleh sedikitnya 500 juta non-Muslim, maka industri bahan baku dengan standar halal sebagai transformasi standar higienis Islam, tentu akan menjadi potensi terbesar untuk dongkrak sektor perdagangan non-migas.

Hal-hal pendukung seperti sumber daya alam hingga letak strategis Indonesia pada posisi silang perdagangan dunia pun semuanya tersedia sebagai sebuah modal berharga negeri ini untuk benar-benar menjadi leading, mengalahkan Thailand yang juga berambisi besar menguasi pasar industri bahan baku regional dan internasional. (alp/dbs)


Back to Top