Inilah Curhatan Ussiy Fauziah Noura dalam Acara Kajian Rutin Keluarga Islami

(gomuslim). Sebanyak 30 puluhan muslimah, umumnya remaja yang tengah memasuki masa transisi menuju kedewasaan, duduk dengan penuh khidmat, menyimak Kajian Rutin Keluarga Islami (KARUGAMI) yang dimotori oleh hijab motion, dengan tema “Menikahku Karena Allah”. Acara yang didukung oleh gomuslim.co.id serta beberapa perndukung lainnya, diselenggarakan pada akhir pekan lalu, di Aula Mabrur – Annisa Travel, Lenteng Agung, Jakarta selatan.

Pada kesempatan kali itu, kajian diisi oleh Ustad Asep Fakhri yang membawakan dengan friendly sehingga para audience yang mayoritas akhwat diajak untuk tidak terlalu serius namun tetap fokus dengan materi-materi yang dibawakan.

Dalam penjelasannya, Ustad Asep Fakhri mengatakan bahwa pada umumnya manusia kekinian, mengejar target untuk menikah karena usia yan semakin senja dan hal itu menurut Islam adalah keliru karena sangat dimungkinkan pasangan yang Allah SWT tentukan masih berada dalam kandungan. Berapa banyak antara suami dan istri yang usianya terpaut cukup jauh, bahkan hingga setengah abad.

Jadi, ia menegaskan bahwa sebagaimana tema yang diusung, menikah bukan karena usia senja atau karena sudah menemukan pasangan yang tepat sekalipun, melainkan menikah karena Allah SWT, yakni menikah yang diniatkan untuk mencari keberkahan dan keridhoan Allah SWT.

Ia pun mengutip sebuah kalimat bijak yang datang dari seorang ulama ahli hikmah kenamaan atau biasa disebut ulama salaf, yang berbunyi, “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertaqwa kepad Allah SWT untuk separuh yang tersisa”.

Selanjutnya ia kemudian menceritakan sebuah kisah nyata tentang perusahaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sangat mendukung program keluarga bahagia. “Di Yogyakarta, ada sebuah perusahaan yang menerapkan untuk para keluarga, baik itu istri maupun suami, yang jika ia tergoda ketika melihat lawan jenisnya, maka ia diperbolehkan pulang lebih awal dari yang biasanya karena di rumah anda bisa menemukan apa yang membuat anda tergoda”, ujarnya.

Tak lupa, Ustad Asep pun juga mengesampingkan program dua anak lebih baik, “Di Inggris, di Jerman, di Perancis, di Amerika, umat Islam terus bertambah, masjid-masjid mulai ramai dan sebaliknya tempat ibadah lain mulai sepi. Namun apa yag terjadi di Indonesia, umat Islam mulai menurun, masjid-masjid hanya tersisa 50 tahun ke atas dan tempat ibadah lainnya justru mulai penuh sesak” ungapnya dengan penuh semangat.

Untuk melegkapi penyataannya, ia pun menunjukan sebuah hadis shahih yang berbunyi, “Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya umatku di tengah umat yang lain”.

Acara pun kemudian dengan sharing session oleh Ussiy Fauziah dan suami yang menjadi guest star pada kesempatan kali itu. Salah satu vokalis Noura tersebut, mengungkapkan bahwa undangan seperti ini adalah yang pertama kalinya dihadiri bersama ia dan suami. Sebelumnya ia hanya sendiri saja.

Kemudian ia pun menceritakan pengalaman-pengalamnnya selama menjalani masa kekosongannya hingga ia akhirnya resmi mempunyai pendamping hidupnya. “iya, saya kan sama suami satu kampus ya. Pas ada yang ngasih tau kalo suami suka sama saya, saya katakan kalo saya gamau main-main”, ungkapnya dengan senyum tipis dihadapan para peserta kajian.

 

Ia pun kemudian menganalogikan keputusannya pada saat itu untuk mengabaikan laki-laki yang tidak mau serius dengan analogi yang sederhana. “Temen-temen datang ke sini karena ada tujuan kaan, sama dengan keputusan saya saat itu, saya gamau kalo gada tujuan” jelasnya.

Lebih lanjut ia menceritakan, perjalanan ia dan suami hingga ke bangku pelaminan tidaklah singkat dan mudah. Ia dan suami menjalani masa-masa yang dialami wanita dan laki-laki pada umumnya yakni menjalin kedekatan yang monoton hingga akhirnya suaminya memberanikan diri untuk berbicara kepada orang tuanya soal kejelasan hubungan kedekatan mereka berdua.

Wanita yang mempunyai visi dan misi untuk tidak menyusahkan orang tua kelak ketika sudah menikah alias mandiri ini, awalnya sempat menghalangi calon suami pada saat itu untuk berterus terang kepada orang tuanya. “Yaa bismillah sih, akhirnya suami memberanikan diri ngadap orang tua dan saat itu aku sendirian di kamar. Kata mama sih suami tegang gitu. Tapi alhamdulilah akhirnya diterima juga”, terangnya dengan dibarengi tertawa kecil berbarengan dengan sang suami yang berada di sebelahnya.

Pada akhirnya, ia pun menegaskan bahwa segala sesuatu yang hendak diraih dengan jalan kebaikan, pasti Allah SWT akan memberikan berbagai cobaan yang tidak mudah. “Seperti kata pak Ustad, banyak kaan pasangan-pasangan yang dalam perjalanannya melenceng, naah kita (sambil melirik ke suaminya) alhamdulilah berusaha menghindar dan akhirnya terbebas dari hal-hal semacam itu.” (alp)


Back to Top