Inilah Produk Detektor Kehalalan Makanan Karya Pusat Kajian Halal ITS Surabaya

(gomuslim). Sejak Maret 2016 lalu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) resmi mendirikan Halal Center atau Pusat Kajian Halal di kampus yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur tersebut. Pendirian ini menjadikan ITS menjadi kampus kedua di Indonesia yang memiliki Halal Centre. Kampus pertama yang memiliki lembaga serupa adalah Universitas Brawijaya Malang.

Ketua LPPM ITS Prof Dr Adi Soeprijanto mengatakan  dibentuknya pusat kajian halal ini untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam memberikan perlindungan terhadap produk-produk halal yang disyariatkan dalam agama Islam. Kata Adi, dalam UU nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, Pasal 12 disebutkan bahwa pemerintah atau masyarakat diperbolehkan untuk membentuk lembaga pemeriksa halal (LPH). Karena itu, ITS berinisiatif untuk membentuk itu dalam wadah pusat kajian halal.

Menurut Adi, di Jawa Timur  ada dua perguruan tinggi yang berinisiatif membentuk LPH, masing-masing di Universitas Brawijaya Malang dan ITS. “LPH di ITS dibentuk sebagai pusat kajian, sehingga tugasnya tidak hanya melakukan pemeriksaan dan atau pengujian kehalalan produk semata, tapi lebih luas dari itu,” papar Adi, seperti dilansir dari publikasi Centroone.

Dr rer.nat Fredy Kurniawan Ketua ITS Halal Centre menjelaskan, lembaganya tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat terkait dengan pemeriksaan prosedur untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Tapi akan melakukan penelitian-penelitian terkait dengan bahan pengganti yang banyak digunakan masyarakat, namun masih menjadi perdebatan dari sisi kehalalannya. Kapsul pembungkus obat misalnya, hingga saat ini sebagian masih menggunakan gelatin babi.

Tapi karena termasuk kategori darurat, maka masyarakat seolah menjadi biasa untuk mengkonsuminya. “Kami sedang melakukan penelitian untuk membuat kapsul dari bahan yang lebih halal, yakni rumput laut dan tumbuhan lidah buaya,” ungkapnya.

Menurut Fredy, alternatif pengganti ini menjadi penting di tengah kekhawatiran publik terhadap halal tidaknya apa yang mereka konsumsi. “Indonesia dengan penduduk muslim terbesar punya pasar yang luar biasa untuk menyiapkan bahan pengganti itu, sehingga wajib bagi ITS memberikan kontribusi terhadap kebutuhan umat,” jelasnya.

Mengatasi hal itu, pihaknya juga telah mendesain alat untuk mengetahui apakah suatu bahan makanan, minumam atau obat tersebut mengandung babi yang diharamkan oleh umat Islam atau tidak.

Alat tersebut bernama Quartz Crystal Microbalance atau sensor gelatin. Dengan cara sederhana tersebut, langsung bisa diketahui hasilnya mengandung babi atau tidak. “Cara kerjanya cukup sederhana dan mudah dimengerti. Tinggal masukan bahan yang mau diuji, kemudian akan teridentifkasi apakah bahan itu halal atau haram lewat sinyal yang dihasilkan dari bahan tersebut," katanya menerangkan.

“Untuk mendeteksi ini juga tidak butuh waktu lama. Jika alatnya berjalan baik, hanya butuh waktu kurang dari 5 menit sudah bisa dilihat hasilnya,” kata Fredy yang telah mendaftarkan enam paten untuk berbagai macam pengukuran di bidang kimia ini.

Bentuk spektrum protein yang terkandung dalam daging babi dan sapi sebetulnya identik dan hampir tidak bisa dibedakan, tapi gelatin dari hewan ini dan turunannya akan terlihat berbeda pada pemeriksaan menggunakan QCM. “Pada daging babi spektrumnya bergerak ke atas, sedang daging sapi bergerak ke bawah, dalam pemeriksaan terkecil sekali pun (100 ppm), ” tuturnya. (fau/its/cent/dbs)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Back to Top