Muslimah Perlu Waspada, Inilah Bahan Berbahaya dalam Produk Kosmetik Non Halal

(gomuslim). Kosmetik adalah salah satu hal yang tidak bisa terlepas dari wanita. Meski awalnya, kosmetik digunakkan pertama kali di dunia untuk pengobatan medis, tapi kini kosmetik telah menjadi kebutuhan riasan wajah wanita. Bagi Muslimah, kosmetik tak hanya soal kualitas produk, tapi juga sertifikasi halal di dalamnya yang bisa membuat mereka merasa nyaman dalam menggunakan produk kosmetik tersebut.

Untuk di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sering kali menemukan merek kosmetik yang terbukti mengandung bahan berbahaya bagi tubuh manusia. Temuan tersebut adalah hasil penelusuran selama semester pertama pada tahun 2016. Produk-produk yang ditemukan tersebut pun beragam, di antaranya sabun, rias mata, perawatan kulit, hingga sediaan kuku. Bahan berbahaya yang ditambahkan dalam kosmetik tersebut meliputi merkuri, asam retinoat, hidrokinon, dan bahan pewarna tekstil seperti Merah K3 dan Merah K10.

Selain itu, Publikasi Halal Corner menyebutkan salah satu bahan berbahaya dalam produk kosmetik yang patut diwaspadai oleh para wanita adalah triethanolamine atau yang sering dikenal dengan TEA. Bahan ini diproduksi secara sintesis untuk keperluan komersial dari aminasi etilen dan amonia. TEA merupakan senyawa kimia tak berwarna atau kuning muda dan beraroma seperti amonia. Bahan ini akan menetralisis larutan karbomer untuk membentuk gel dan menetralisis asam stearat untuk membentuk emulsi anionik dan berperan sebagai agen alkali untuk mengontrol pH.

TEA digunakan untuk mengurangi tegangan permukaan dalam emulsi sehingga banyak digunakan sebagai emulsifier dalam kosmetik berbasis air. Apalagi banyak ditemukan di lapangan bahwa hampir 40% produk kosmetik di pasaran mengandung TEA. Triethanolamine biasanya terdapat pada kosmetik kecantikan seperti body lotion, shampoo, baby lotion, pemulas mata, maskara, eyeliner, foundation, concealer, dan beberapa produk perawatan rambut seperti pewarna dan bahan keriting rambut.

Menurut Food and Drug Administration (FDA atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) dan Cosmetic Ingredient Review (CIR), dosis rendah TEA hanya aman digunakan dalam kosmetik untuk penggunaan yang tidak terus menerus dan harus disertai pembilasan di permukaan kulit. Dalam penggunaan dengan kontak kulit yang lama, kadar TEA tidak boleh lebih dari 5%.

Penelitian oleh kedua lembaga tersebut juga memberi kesimpulan, meski digunakan dalam dosis rendah, penyerapan TEA melalui kulit secara terus menerus dapat berbahaya pula karena senyawa beracun akan terakumulasi menjadi dosis besar. Resiko yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan ini adalah iritasi kulit, rambut dan mata serta peradangan. Uji klinis menunjukan bahwa dosis tinggi TEA dapat mengakibatkan kanker liver dan testikular pada hewan percobaan.

Adapun, bahan ini mempunyai banyak nama dagang di pasaran, sehingga terkadang bisa luput dari perhatian para konsumen. Nama dagang TEA di antaranya Daltogen, Sterolamide, Sting-Kill, Thiofaco T-35 dan Trolamine, sedangkan dalam label kosmetik TEA dituliskan sebagai: triethanolamine, TEA, TEA-lauryl sulfate.

Hal ini menjadi pelajaran bagi para konsumen dan juga para lembaga pemangku kebijakan, karena sertifikasi halal suatu produk, bukan hanya soal materialnya, tapi juga ke-thayyib-an bahan tersebut, sehingga aman digunakkan dan tidak berbahaya bagi tubuh. (fau/halalcorner)

Baca juga:

 Cegah Penggunaan Produk Haram, BPOM Rilis 43 Merek Kosmetik Berbahaya

 


Back to Top